Kompas.com - 19/02/2021, 20:08 WIB
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF) HANDOUT/BOPLBFKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF)

Upaya-upaya penerapan CHSE serta tentu saja distribusi vaksin saat ini, adalah upaya-upaya untuk membangun kembali lingkungan strategis industri pariwisata agar bisa berjalan lebih kondusif.

Dengan begitu, akan ada peningkatan dalam hal jumlah wisatawan. Walaupun tentu saja tidak akan setinggi jumlah sebelum pandemi.

Baca juga: Syarat ke Labuan Bajo, Bawa Hasil Rapid Test Antibodi Nonreaktif

“Kita mendorong (wisatawan domestik). Penerapan CHSE dan juga memastikan konsistensi kita untuk arah baru pengembangan pariwisata di Labuan Bajo–Flores,” imbuh dia.

Misalnya, dengan menonjolkan tipe-tipe wisata yang jadi kekuatan setiap daerah yang sedang dikembangkan. Khususnya tipe wisata yang sedang digemari saat ini, yakni wisata berbasis alam, wisata olahraga, petualangan, dan juga bahari.

Gerakan berwisata di Indonesia aja

Menggenjot wisnus memang jadi pilihan utama saat ini. Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Odo R.M Manuhutu mengungkap bahwa sekarang ini Kemenparekraf dan kementerian terkait sedang mempersiapkan gerakan nasional berwisata di Indonesia aja.

“Jadi untuk mendorong, meningkatkan demand produk wisata di dalam negeri,” terang Odo.

Berdasarkan hasil rapat dengan Menparekraf Sandiaga Uno dan menteri-menteri lainnya, mereka melihat bahwa sebelum pandemi banyak masyarakat yang lebih memilih berwisata ke luar negeri.

Saat berwisata ke luar negeri, mereka bisa menghabiskan total uang sebesar 10 miliar dolar Amerika.

Baca juga: Labuan Bajo, Destinasi Pertama yang Simulasi Protokol Kesehatan, Keamanan, dan Keselamatan

“Nah sekarang sedang dikembangkan 10 miliar dolar yang biasanya dikeluarkan di luar negeri oleh wisatawan Indonesia ini didorong untuk tetap (dihabiskan) dalam domestik kita,” pungkasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X