Tantangan Menghidupkan Kembali Wisata Halal di Indonesia

Kompas.com - 22/02/2021, 07:00 WIB
Bedah rumah ini tak hanya merupakan bagian dari Program Sarana Hunian Pariwisata (Sarhunta), melainkan juga mendukung pemulihan ekonomi di sektor pariwisata pada masa pandemi khususnya di KSPN Mandalika.
Kementerian PUPRBedah rumah ini tak hanya merupakan bagian dari Program Sarana Hunian Pariwisata (Sarhunta), melainkan juga mendukung pemulihan ekonomi di sektor pariwisata pada masa pandemi khususnya di KSPN Mandalika.

Saat ini, berbagai restoran dan ruang-ruang publik di Lombok telah menyediakan akses internet gratis Wi-Fi untuk wisatawan. Restoran-restoran dan 60 hotel di Lombok juga telah mendapatkan sertifikasi halal.

Pemandu wisata di Lombok bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, dan beberapa di antara mereka juga bisa berbicara Bahasa Arab.

Dari segi layanan transportasi, pemerintah NTB juga telah meningkatkan aksesibilitas dengan menambah rute penerbangan langsung dari kota-kota besar di Indonesia dan negara tetangga, seperti Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia. Sayangnya, Lombok belum memiliki layanan perjalanan kereta.

Wisata halal juga mendapatkan perhatian khusus dari negara-negara yang bukan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan, karena sektor ini mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Memastikan wisman Muslim terbebas dari islamophobia merupakan bagian dari upaya mereka dalam peningkatan kualitas pelayanan wisata halal.

Wisatawan Muslim dunia menjadi incaran karena jumlahnya yang terus meningkat dan besarnya nilai belanja di negara tujuan.

CrescentRating memprediksi jumlah wisatawan Muslim secara global mencapai 230 juta pada 2026, meningkat dari 140 juta pada 2018. Sedangkan menurut Global Islamic Economy Report, nilai perputaran uang dari wisata halal dunia diprediksi meningkat dari 177 miliar dolar pada 2017 menjadi 274 miliar dolar pada 2023.

Pada 2019, Taiwan berada di peringkat ketiga dalam daftar negara ramah Muslim yang bukan anggota OKI versi GMTI, meningkat dari peringkat kelima pada 2018.

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan wisata halalnya, pemerintah Taiwan menyiapkan peralatan salat di hotel dan tempat menginap lainnya, menambah jumlah masjid, musala, dan restoran halal, dan menyediakan buku panduan bagi wisman Muslim untuk menemukan fasilitas-fasilitas tersebut.

Baca juga: Wapres Maruf Amin: Wisata Halal Tak Ganggu Warga Non-Muslim

Penolakan di Indonesia

Target pemerintah Indonesia untuk mendatangkan lima juta wisman Muslim pada 2020 gagal tercapai akibat pagebluk Covid-19.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X