Kompas.com - 06/04/2021, 17:05 WIB

KOMPAS.com – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan bahwa kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) atau pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran di Indonesia sudah bisa dilakukan kembali.

“Seperti hasil dari konferensi video dengan pak Kapolri dan dilanjutkan dengan kegiatan yang memperlihatkan pelaku sektor MICE, sudah kami beri sinyal bahwa selama kegiatan mengacu ke protokol kesehatan yang ketat,” ungkap dia.

Adapun, hal tersebut Sandiaga sampaikan dalam Weekly Press Briefing virtual pada Senin (5/4/2021).

Baca juga: Pelaku MICE Wajib Patuhi Protokol Kesehatan CHSE, Ada Sertifikasi

Selain menerapkan protokol kesehatan yang ketat, penyelenggara juga harus disiplin dalam penerapannya.

Lebih lanjut, sebelum MICE diselenggarakan, Sandiaga mengimbau agar para penyelenggara melakukan koordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19, TNI/Polri, dan pemerintah setempat.

Sandiaga juga mengatakan bahwa penyelenggaraan MICE selama era new normal harus memiliki fleksibilitas dan opsionalitas.

“Seandainya kasus Covid-19 meningkat di hari yang dilakukan, (MICE) bisa dilakukan adaptasi dengan konsep hybrid atau full online. Itu yang sudah dilaksanakan,” tutur dia.

3 Faktor penting menyelenggarakan MICE di era new normal

Sementara itu, deputi Hubungan Pemerintahan Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Ndang Mawardi memaparkan beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh penyelenggara MICE.

Hal tersebut dia sampaikan dalam webinar Harian Kompas bertajuk “The Comeback Plan of MICE For 2021” pada Desember 2020.

Baca juga: Industri MICE 2021, Pameran Pendidikan Diprediksi Bakal Ramai

Jika berencana untuk mengadakan MICE tahun ini, berikut Kompas.com rangkum tiga faktor penting dalam menyelenggarakan MICE selama new normal, mengutip Kompas.com, Jumat (11/12/2020):

  • Faktor risiko

Faktor risiko terdiri dari Stage 1 atau Low Risk Activity, Stage 2 atau Medium Risk Activity, dan Stage 3 atau High Risk Activity.

Stage 1 mencakup pertemuan, seminar, dan pelatihan. Sementara Stage 2 mencakup pameran, konvensi, insentif, dan bazar. Lalu, Stage 3 mencakup konser, festival, dan acara musik.

Penyelenggara diimbau mempertimbangkan risiko lantaran pandemi masih belum usa. Dalam hal ini, perlu koordinasi dengan Satgas Covid-19 dan TNI/Polri.

  • Faktor dimensi

Waktu, jumlah, dan ukuran ruangan yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan MICE juga perlu diperhatikan.

Untuk ukuran ruangan dan jumlah pengunjung, Ndang menjelaskan, pelaku MICE harus melihat berapa kapasitas maksimum agar bisa membatasi kedatangan pengunjung.

Baca juga: 239 Kegiatan MICE di Indonesia Batal, Kerugian Rp 44,3 Triliun

“Untuk waktu, dijadwalkan. Yang berkunjung harus terdaftar. Mungkin dia didaftarkan di pagi hari pada jam berapa, siang di jam berapa atau hari apa. Enggak bisa sembarang masuk dan langgar waktu yang ditetapkan,” ujar Ndang.

  • Faktor kontrol

Faktor ini berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan CHSE, serta berapa banyak yang masuk dan keluar dalam pameran.

Jika ada yang keluar, pihak penyelenggara patut mengontrol arus kunjungan agar tidak terjadi kerumunan.

“Intinya, penyelenggara MICE perhatikan faktor kebersihan, jaga jarak, pelacakan, dan tanggung jawab sosial. Ini yang jadi acuan sebagaimana sudah diterapkan oleh WHO dan Kemenkes, faktor yang harus bisa dilakukan,” kata Ndang.

Kemenparekraf mendorong industri MICE untuk mempersiapkan penyelenggaraan kegiatan yang memadukan acara offline dan online.DOK. Humas Kemenparekraf Kemenparekraf mendorong industri MICE untuk mempersiapkan penyelenggaraan kegiatan yang memadukan acara offline dan online.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menuturkan hal yang senada dengan Ndang.

Menurut dia, pelaku MICE harus dapat memastikan bahwa seluruh peserta tetap mematuhi protokol kesehatan mulai dari datang, selama berada di kegiatan, hingga kembali dari acara tersebut.

Sebagai contoh, dia menceritakan soal salah satu pameran di Yogyakarta yang tahun lalu terpaksa dibubarkan oleh kepolisian.

“Pameran di Yogyakarta dibubarkan bukan karena di dalam tidak diterapkan protokol kesehatan, tapi di luar orang berkerumun tanpa protokol kesehatan,” ungkap dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.