Kompas.com - 14/04/2021, 14:02 WIB
Umat Hindu beribadah saat merayakan hari raya Galungan di Pura Amerta Jati, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2020). Persembayangan Hari Raya Galungan dilakukan di tengah pandemi COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan menggunakan masker dan menjaga jarak. ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHAUmat Hindu beribadah saat merayakan hari raya Galungan di Pura Amerta Jati, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2020). Persembayangan Hari Raya Galungan dilakukan di tengah pandemi COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan menggunakan masker dan menjaga jarak.

KOMPAS.com – Hari Suci Galungan merupakan perayaan besar umat Hindu Bali yang dilakukan setiap 210 hari sekali. Perayaan ini memiliki perhitungan berdasarkan wuku.

Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana I Gede Pitana mengatakan, India memiliki perayaan yang mirip dengan Galungan bernama Diwali.

Dalam wawancara pada 14 Februari 2020, dia menuturkan, perayaan tersebut sama-sama merayakan kemenangan kebaikan (dharma) atas ketidak baikan (adharma).

Hari Suci Galungan memiliki serangkaian upacara yang panjang sekali. Mulai dari 35 hari sebelum Galungan, masyarakat Bali melakukan upacara di kebun. Mereka berdoa supaya hasil kebun bagus,” jelasnya.

Baca juga: Kumpulan Ucapan Hari Suci Galungan Penuh Makna

Upacara di kebun tersebut dilakukan agar hasil kebun yang bagus dapat digunakan saat Galungan mendatang.

Menurut Pitana, beberapa orang Bali setidaknya memiliki dua hingga tiga kebun. Ke masing-masing kebun tersebut, mereka kerap berkunjung untuk berdoa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Doa ini dilakukan hanya pada hari ke-35 sebelum Galungan. Pitana mengatakan bahwa rangkaian doa tersebut dinamakan sebagai Tumpek Pengatag.

Rangkaian upacara menjelang Galungan

Pada hari ke-6 sebelum Galungan, atau disebut dengan Sugihan Jawa, umat Hindu Bali juga memiliki rangkaian upacara.

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memeriksa suhu tubuh umat Hindu yang akan bersembahyang saat Hari Raya Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (16/9/2020). Perayaan Hari Raya Galungan yang merupakan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma) tersebut diikuti umat Hindu di Pulau Dewata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19.ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memeriksa suhu tubuh umat Hindu yang akan bersembahyang saat Hari Raya Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (16/9/2020). Perayaan Hari Raya Galungan yang merupakan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma) tersebut diikuti umat Hindu di Pulau Dewata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19.

“Jawa di sini artinya bukan pulau Jawa atau orang Jawa. Jawa itu artinya luar. Jadi tujuan Sugihan Jawa adalah upacara untuk membersihkan alam dan fisik di luar tubuh manusia,” jelas Pitana.

Dalam upacara tersebut, masyarakat Hindu Bali juga akan mulai membersihkan pura, baik itu pura-pura di pedesaannya atau pura keluarga yang terletak di pekarangan rumah masing-masing.

Lalu, mereka akan lanjut bersembahyang untuk menyucikan dan membersihkan diri. Pada hari ketiga, umat Hindu umumnya akan serentak membuat tapai, kue, dan sesajen.

Baca juga: Merayakan Galungan dan Kuningan di Wassenaar Belanda

Sementara itu, lanjut Pitana, hari keempat adalah hari kosong. Hari ini dijadikan waktu untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan upacara keagamaan lain esok.

Dua hari sebelum Galungan berlangsung, masyarakat Hindu Bali akan mulai memasang dekorasi penjor di halaman rumah dan di sepanjang jalan.

“Penjor itu bambu yang dilengkungkan kemudian dihias. Penjor itu lambang dari alam. Makanya penjor berisi buah-buahan, padi, hasil pertanian. Idealnya isi penjor itu hasil pertanian dari kebun yang telah didoakan,” kata Pitana.

Umat Hindu berjalan menuruni pura setelah melakukan  persembahyangan bersama Hari Raya Galungan di  Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (16/9/2020). Hari Raya Galungan merupakan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma) yang dirayakan umat Hindu setiap enam bulan sekali dengan melakukan persembahyangan di tiap-tiap Pura.ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA Umat Hindu berjalan menuruni pura setelah melakukan persembahyangan bersama Hari Raya Galungan di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (16/9/2020). Hari Raya Galungan merupakan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma) yang dirayakan umat Hindu setiap enam bulan sekali dengan melakukan persembahyangan di tiap-tiap Pura.

Sehari sebelum Galungan

Sehari sebelum Galungan, juga disebut dengan Hari Penampahan, Pitana mengatakan bahwa umat Hindu di Bali akan mempersiapkan daging untuk upacara Galungan.

Daging yang digunakan bisa daging babi, ayam, atau itik. Namun, umat Hindu Bali cenderung lebih suka menggunakan daging babi.

Hari Penampahan dimanfaatkan sebagai hari untuk mempersiapkan makanan. Sajian pertama yang dibuat adalah sate.

Baca juga: Catat, Tips Wisata di Bali Saat Galungan dan Kuningan

Pitana mengatakan bahwa sate untuk upacara Galungan terdiri dari dua jenis yakni sate daging dan sate lilit yang merupakan sate khas Bali.

Sate tersebut dibuat dari daging babi, ikan, ayam, atau sapi yang dicampur dengan parutan santan, jeruk nipis, kelapa, bawang merah, dan merica.

Hidangan lain yang dibuat adalah lawar, campuran sayur dengan daging. Sayur yang digunakan biasanya terbuat dari nangka, kacang-kacangan, pakis, kelapa muda, bahkan bonggol pisang.

Mengunjungi setiap pura bersama-sama

Hari Suci Galungan selalu jatuh pada Rabu. Saat perayaan tiba, umat Hindu Bali akan mulai sembahyang di pura-pura mulai pukul 07:00.

Suasana perayaan Hari Suci Galungan di Pura Agung Giri Natha Semarang, Rabu (16/9/2020).KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA Suasana perayaan Hari Suci Galungan di Pura Agung Giri Natha Semarang, Rabu (16/9/2020).

Biasanya mereka sudah menentukan pura mana yang akan dikunjungi terlebih dahulu. Usai bersembahyang, mereka melanjutkan perjalanan ke beberapa pura lain yang dimiliki oleh desa tempat mereka tinggal.

“Tapi biasanya tiga pura saja. Itu harus dikunjungi. Setiap desa adat di Bali mempunyai tiga pura utama. Pura Kelahiran atau Penciptaan, Pura Kehidupan atau Pemeliharaan, dan pura Kematian atau Penghancuran,” jelas Pitana.

“Setiap wilayah di Bali tidak pernah hanya punya satu pura saja. Minimal tiga,” lanjutnya.

Pada kesempatan lain, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan ‘Kun’ Adnyana mengatakan, pura-pura tersebut terdiri dari Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem.

Saat dihubungi pada 17 Februari 2020, dia menjelaskan bahwa Pura Desa adalah pura untuk pemujaan Dewa Brahma.

Baca juga: Berwisata di Bali Saat Galungan dan Kuningan, Simak Dulu Tipsnya...

Sementara itu, Pura Puseh adalah tempat pemujaan Dewa Wisnu dan Pura Dalem adalah tempat pemujaan Dewa Siwa.

“Terkadang di desa juga ada pura yang namanya Pura Subak kalau desa memiliki sistem irigasi. Makanya setiap Galungan itu kita keliling ke setiap pura yang ada di desa,” tutur Adnyana.

Setelah bersembahyang di pura, umat Hindu di Bali akan kembali ke rumah masing-masing untuk lanjut bersembahyang di tempat suci yang mereka miliki.

Sejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.AFP PHOTO/SONNY TUMBELAKA Sejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.

Kegiatan usai Galungan

Sehari setelah Galungan atau Umanis Galungan, biasanya akan ada barong untuk "ngelawang". Menurut Adnyana, barong akan diperciki tirta (air suci) dan diberi sajen sebelum berkeliling desa adat.

Hal ini dilakukan untuk memberikan keselamatan dari wabah penyakit. Barong yang dibawa oleh beberapa masyarakat akan berkeliling sampai 35 hari setelah Galungan.

“Ngelawang juga berlangsung sampai ke luar desa sampai pegat uwakan,” ucap dia.

Baca juga: 6 Keunikan yang Bisa Ditemui di Bali saat Galungan

Biasanya, Umanis Galungan dimanfaatkan sebagai hari untuk saling berkunjung ke rumah saudara dan beberapa tempat wisata.

Pitana mengatakan, sehari setelah Galungan akan ada banyak upacara keagaman di beberapa pura besar di Bali. Lalu, perayaan hari besar umat Hindu akan berlanjut hingga hari ke-10 yakni Hari Raya Kuningan.

Hari tersebut selalu jatuh pada Sabtu. Menurut dia, jika Galungan para dewa turun untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan bersama umatnya, maka saat Kuningan umat akan mengembalikan mereka ke alamnya.

“Galungan tidak identik dengan Kuningan. Itu beda. Galungan itu hari kemenangan dharma atas adharma, Kuningan itu penutup dari rangkaian upacara di mana para dewa dan para leluhur dikembalikan ke alamnya masing-masing,” ucap Pitana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Cara Mengatasi Mabuk Udara di Pesawat, Kurangi Makan Makanan Asin

8 Cara Mengatasi Mabuk Udara di Pesawat, Kurangi Makan Makanan Asin

Travel Tips
Artotel Group Bakal Fokus ke Teknologi pada 2022

Artotel Group Bakal Fokus ke Teknologi pada 2022

Travel Update
5 Cara Temukan Kursi Terbaik dan Ternyaman di Pesawat

5 Cara Temukan Kursi Terbaik dan Ternyaman di Pesawat

Travel Tips
Penutupan Akses ke Tempat Wisata Gunung Salak Aceh Utara Diperpanjang

Penutupan Akses ke Tempat Wisata Gunung Salak Aceh Utara Diperpanjang

Travel Update
Perancis Perketat Kebijakan untuk Turis Asing guna Cegah Omicron

Perancis Perketat Kebijakan untuk Turis Asing guna Cegah Omicron

Travel Update
Penyekatan di Check Point di Yogyakarta Saat Nataru Tidak Boleh Dilakukan

Penyekatan di Check Point di Yogyakarta Saat Nataru Tidak Boleh Dilakukan

Travel Update
Satpol PP Yogyakarta Bakal Lakukan Pemeriksaan Surat Kesehatan untuk Turis di Malioboro

Satpol PP Yogyakarta Bakal Lakukan Pemeriksaan Surat Kesehatan untuk Turis di Malioboro

Travel Update
Tips Aman Bepergian di Tengah Kasus Varian Baru Covid-19

Tips Aman Bepergian di Tengah Kasus Varian Baru Covid-19

Travel Tips
Aturan PCR Saat Nataru untuk Anak Usia di Bawah 12 Tahun Dinilai Mempersulit

Aturan PCR Saat Nataru untuk Anak Usia di Bawah 12 Tahun Dinilai Mempersulit

Travel Update
Angkasa Pura I Catat Kenaikan Pergerakan Penumpang Tertinggi pada November 2021

Angkasa Pura I Catat Kenaikan Pergerakan Penumpang Tertinggi pada November 2021

Travel Update
PPKM Level 3 Nataru Batal, Pemerintah Yogyakarta Tetap Terapkan Sanksi untuk Pelanggar Protokol Kesehatan

PPKM Level 3 Nataru Batal, Pemerintah Yogyakarta Tetap Terapkan Sanksi untuk Pelanggar Protokol Kesehatan

Travel Update
Kawasan Malioboro Yogyakarta Tidak Menerapkan Penyekatan saat Nataru

Kawasan Malioboro Yogyakarta Tidak Menerapkan Penyekatan saat Nataru

Travel Update
Daftar Desa Wisata Pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Daftar Desa Wisata Pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Travel Update
Masa Karantina 10 Hari untuk Antisipasi Omicron dan Turis Indonesia ke Luar Negeri

Masa Karantina 10 Hari untuk Antisipasi Omicron dan Turis Indonesia ke Luar Negeri

Travel Update
Garuda Indonesia Travel Fair, Jakarta-Labuan Bajo PP Rp 1,3 Jutaan

Garuda Indonesia Travel Fair, Jakarta-Labuan Bajo PP Rp 1,3 Jutaan

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.