Kompas.com - 15/04/2021, 13:32 WIB
Tradisi Mekotek untuk merayakan Hari Raya Kuningan dilakukan oleh warga Desa Munggu, Badung, Bali. shutterstock/Gekko GalleryTradisi Mekotek untuk merayakan Hari Raya Kuningan dilakukan oleh warga Desa Munggu, Badung, Bali.

Kendati demikian, ternyata tradisi Mekotek memiliki makna tersendiri dibalik perayaannya, apa itu?

Makna dibalik Tradisi Mekotek

Bendesa Munggu I Made Rai Sujana mengatakan, selain unik, tradisi Mekotek memiliki tiga makna yang tersirat dalam pelaksanaannya yakni:

  • Penghormatan kepada pahlawan

Makna pertama adalah penghormatan pada jasa para pahlawan. Sebab, tradisi tersebut merupakan peringatan kemenangan perang Kerajaan Mengwi dalam hal perluasan wilayah pada saat itu.

Alhasil, tradisi tersebut dilaksanakan setiap enam bulan sekali—tepatnya setiap Hari Raya Kuningan.

Menurut Sujana, tradisi dilakukan pada hari keagamaan tersebut lantaran sebelum bala tentara Kerajaan Mengwi mengadakan perlawanan, Raja bersemedi tepat pada Hari Raya Kuningan.

  • Penolak bala

Tradisi Mekotek diyakini dapat menolak bala dan memberi keselamatan, serta kesuburan atau kemakmuran untuk sektor pertanian di Desa Adat Munggu.

Sujana melanjutkan, kepercayaan terhadap tradisi tersebut sangat tinggi. Kepercayaan dibuktikan oleh tradisi yang sempat dilarang oleh Belanda saat mereka menjajah Indonesia.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Simak, Ini Bedanya Galungan dan Kuningan

Sebab, tradisi Mekotek pada saat itu tidak menggunakan kayu melainkan tombak. Mereka mengira bahwa warga Desa Adat Munggu hendak melakukan pemberontakan atau penyerangan.

Dilarangnya pelaksanaan tradisi Mekotek selama sekitar lima kali tersebut membuat banyak warga yang jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal dunia.

Sejak saat itu, tradisi Mekotek diizinkan untuk dilakukan kembali usai adanya negosiasi antara para tokoh adat Munggu dengan Belanda.

  • Pemersatu warga

Makna ketiga dalam tradisi Mekotek adalah tradisi tersebut merupakan alat pemersatu warga, terutama para pemuda.

Dengan melaksanakannya, para pemuda akan berkegiatan positif dan menjauhi segala macam kegiatan negatif seperti narkoba, minuman keras, dan ugal-ugalan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X