Kompas.com - 15/04/2021, 13:32 WIB
Tradisi Mekotek di Desa Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, pada Hari Raya Kuningan, Sabtu (20/2/2016). KOMPAS.COM/SRI LESTARITradisi Mekotek di Desa Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, pada Hari Raya Kuningan, Sabtu (20/2/2016).

 

KOMPAS.com – Desa Munggu di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali memiliki tradisi Mekotek yang kerap dilakukan saat Hari Raya Kuningan.

Tradisi tersebut ternyata sudah ada sejak zaman Kerajaan Mengwi. Bahkan tradisi Mekotek telah mendapat sertifikat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sertifikat yang diberikan pada 27 Oktober 2016 tersebut menyatakan bahwa tradisi Mekotek dianggap sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Baca juga: 3 Hal yang Perlu Diketahui Seputar Hari Raya Kuningan

Tradisi yang bertujuan untuk menolak bala dan memohon keselamatan tersebut diikuti oleh para pria yang bertugas untuk memegang kayu pulet dan para wanita yang bertugas untuk mengiringinya.

Dalam perayaannya, mengutip Kompas.com, Sabtu (26/9/2020), warga desa akan berkumpul terlebih dahulu di depan Pura Puseh Desa Adat Munggu. Selanjutnya, mereka akan mengawali tradisi Mekotek dengan bersembahyang bersama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah itu, mereka akan berjalan kaki mengelilingi seluruh desa dengan membawa tongkat kayu pulet. Usai berkeliling, mereka akan kembali ke pura awal.

Selanjutnya, para peserta akan dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing terdiri dari sekitar 50 orang.

Warga Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, menggelar prosesi mekotek atau ngerebeg, Sabtu (15/4/2017). Awalnya, mekotek adalah ekspresi kegembiraan prajurit Kerajaan Mengwi setelah mengalahkan Kerajaan Blambangan di Jawa. Mekotek ditandai dengan arak-arakan keliling desa membawa tongkat kayu, tombak pusaka, dan umbul-umbul. Mekotek juga dipercaya sebagai upaya menolak bencana dan pemersatu masyarakat. Tradisi mekotek tetap dilangsungkan warga setiap enam bulan, yang bertepatan dengan hari raya Kuningan.KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA Warga Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, menggelar prosesi mekotek atau ngerebeg, Sabtu (15/4/2017). Awalnya, mekotek adalah ekspresi kegembiraan prajurit Kerajaan Mengwi setelah mengalahkan Kerajaan Blambangan di Jawa. Mekotek ditandai dengan arak-arakan keliling desa membawa tongkat kayu, tombak pusaka, dan umbul-umbul. Mekotek juga dipercaya sebagai upaya menolak bencana dan pemersatu masyarakat. Tradisi mekotek tetap dilangsungkan warga setiap enam bulan, yang bertepatan dengan hari raya Kuningan.

Kemudian, tradisi Mekotek pun dimulai. Kayu pulet yang dibawa oleh para peserta akan diadu membentuk seperti sebuah piramid.

Para peserta yang memiliki keberanian dapat mencoba adu nyali dengan naik ke puncak piramid kayu tersebut.

Nantinya, peserta tersebut memberi komando atau semangat kepada kelompoknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok lain yang memerintahkan untuk menabrak kelompok lainnya.

Kendati demikian, ternyata tradisi Mekotek memiliki makna tersendiri dibalik perayaannya, apa itu?

Makna dibalik Tradisi Mekotek

Bendesa Munggu I Made Rai Sujana mengatakan, selain unik, tradisi Mekotek memiliki tiga makna yang tersirat dalam pelaksanaannya yakni:

  • Penghormatan kepada pahlawan

Makna pertama adalah penghormatan pada jasa para pahlawan. Sebab, tradisi tersebut merupakan peringatan kemenangan perang Kerajaan Mengwi dalam hal perluasan wilayah pada saat itu.

Tradisi Mekotek untuk merayakan Hari Raya Kuningan dilakukan oleh warga Desa Munggu, Badung, Bali.shutterstock/Gekko Gallery Tradisi Mekotek untuk merayakan Hari Raya Kuningan dilakukan oleh warga Desa Munggu, Badung, Bali.

Alhasil, tradisi tersebut dilaksanakan setiap enam bulan sekali—tepatnya setiap Hari Raya Kuningan.

Menurut Sujana, tradisi dilakukan pada hari keagamaan tersebut lantaran sebelum bala tentara Kerajaan Mengwi mengadakan perlawanan, Raja bersemedi tepat pada Hari Raya Kuningan.

  • Penolak bala

Tradisi Mekotek diyakini dapat menolak bala dan memberi keselamatan, serta kesuburan atau kemakmuran untuk sektor pertanian di Desa Adat Munggu.

Sujana melanjutkan, kepercayaan terhadap tradisi tersebut sangat tinggi. Kepercayaan dibuktikan oleh tradisi yang sempat dilarang oleh Belanda saat mereka menjajah Indonesia.

Baca juga: Simak, Ini Bedanya Galungan dan Kuningan

Sebab, tradisi Mekotek pada saat itu tidak menggunakan kayu melainkan tombak. Mereka mengira bahwa warga Desa Adat Munggu hendak melakukan pemberontakan atau penyerangan.

Dilarangnya pelaksanaan tradisi Mekotek selama sekitar lima kali tersebut membuat banyak warga yang jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal dunia.

Sejak saat itu, tradisi Mekotek diizinkan untuk dilakukan kembali usai adanya negosiasi antara para tokoh adat Munggu dengan Belanda.

  • Pemersatu warga

Makna ketiga dalam tradisi Mekotek adalah tradisi tersebut merupakan alat pemersatu warga, terutama para pemuda.

Dengan melaksanakannya, para pemuda akan berkegiatan positif dan menjauhi segala macam kegiatan negatif seperti narkoba, minuman keras, dan ugal-ugalan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Austria Sambut Wisatawan dari Singapura dan Thailand 24 Juni 2021

Austria Sambut Wisatawan dari Singapura dan Thailand 24 Juni 2021

Travel Update
Sebelum Buka Kembali, Pelaku Wisata di Bantul akan Divaksin

Sebelum Buka Kembali, Pelaku Wisata di Bantul akan Divaksin

Travel Update
11 Wisata Cagar Budaya Yogyakarta Tutup Sementara, Termasuk Prambanan

11 Wisata Cagar Budaya Yogyakarta Tutup Sementara, Termasuk Prambanan

Travel Update
Garuda Dilarang Terbang Sementara ke Hongkong, Ini Kata Dirut Garuda

Garuda Dilarang Terbang Sementara ke Hongkong, Ini Kata Dirut Garuda

Travel Update
Taman Impian Jaya Ancol Tutup Sementara Mulai 24 Juni 2021

Taman Impian Jaya Ancol Tutup Sementara Mulai 24 Juni 2021

Travel Update
Penutupan Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Diperpanjang Hingga 5 juli

Penutupan Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Diperpanjang Hingga 5 juli

Travel Update
Covid-19 Melonjak, Taman Margasatwa Ragunan Tutup Sementara

Covid-19 Melonjak, Taman Margasatwa Ragunan Tutup Sementara

Travel Update
Koh Samui, Koh Phangan, Koh Tao Thailand Sambut Turis Asing 15 Juli

Koh Samui, Koh Phangan, Koh Tao Thailand Sambut Turis Asing 15 Juli

Travel Update
UNESCO Berencana Masukkan Great Barrier Reef Australia ke Daftar Terancam Punah

UNESCO Berencana Masukkan Great Barrier Reef Australia ke Daftar Terancam Punah

Travel Update
Bali Akan Jadi Destinasi Paket Wisata Vaksin Covid-19

Bali Akan Jadi Destinasi Paket Wisata Vaksin Covid-19

Travel Update
Kemenparekraf Luncurkan Paket Wisata Relief Candi Borobudur

Kemenparekraf Luncurkan Paket Wisata Relief Candi Borobudur

Travel Update
Simak! Ini Daftar 4 Hotel Karantina di Kawasan Sanur, Bali

Simak! Ini Daftar 4 Hotel Karantina di Kawasan Sanur, Bali

Travel Update
Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Tutup Mulai 22-28 Juni 2021

Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Tutup Mulai 22-28 Juni 2021

Travel Update
4 Hal Menarik Seputar Museum M.H. Thamrin, Bangunan Kaya Sejarah di Jakarta

4 Hal Menarik Seputar Museum M.H. Thamrin, Bangunan Kaya Sejarah di Jakarta

Travel Update
Wisata Boyolali Tutup Sementara, Restoran dan Kafe Masih Buka, tapi...

Wisata Boyolali Tutup Sementara, Restoran dan Kafe Masih Buka, tapi...

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X