Kompas.com - 16/06/2021, 21:28 WIB

 

KOMPAS.com - Program work from Bali (WFB) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam membangkitkan kembali geliat industri pariwisata Bali yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Melansir dari Kompas.com, Selasa (8/6/2021), WFB merupakan program yang diinisiasi oleh pemerintah untuk mengajak masyarakat kerja dari Bali, dimulai dari aparatur sipil negara (ASN).

Baca juga: Apa Itu Work From Bali? Ini Penjelasan Lengkapnya

Namun, sebelum adanya program WFB ini, beberapa orang nyatanya sudah mengadopsi tren bekerja dari Bali

Bali, tempat untuk yang suka gaya hidup lebih santai

William Kusuma (25) bekerja sebagai business consultant di sebuah perusahaan di Bali.

Ia mengaku sudah bekerja di Pulau Dewata sejak Juni 2019, jauh sebelum Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan merencanakan program WFB bagi ASN. 

Ilustrasi Bali - Pemandangan Pantai Keramas di Gianyar, Bali.SHUTTERSTOCK / Leo_nik Ilustrasi Bali - Pemandangan Pantai Keramas di Gianyar, Bali.

Ia memilih bekerja di Bali lantaran ingin mencari suasana baru. Keindahan alamnya juga menjadi salah satu alasannya.

"Menurut saya, kalau di Jakarta sudah penat banget, kalau di Bali spot-spot alamnya banyak dan gampang dikunjungi. Jadi kalau mumet, tinggal jalan sampai ke pantai," ucap William saat dihubungi oleh Kompas.com, Senin (14/6/2021).

Baca juga: Mau Work From Bali? Ini Kisaran Budget yang Perlu Disiapkan

Saat ditanya mengenai soal harga dan fasilitas kos di sana, William menjelaskan bahwa kedua hal tersebut tergantung di mana orang tersebut akan tinggal dan fasilitas yang disediakan.

Menurut pengalamannya selama ini, ia tidak melihat adanya perbedaan harga dan fasilitas antara kos di Bali dengan Jakarta.

Tipe Two-Bedroom Residence Pool Villa di Kayumanis Nusa Dua Private Villa & Spa.https://www.kayumanisnusadua.com/ Tipe Two-Bedroom Residence Pool Villa di Kayumanis Nusa Dua Private Villa & Spa.

"Kalau sekarang saya kos di (Jalan) Dewi Sri. Soal harga, 11-12 sama Jakarta, tapi balik lagi ke lokasi dan fasilitas. Ini sejauh pengalaman dan pengamatan saya, rate-nya mirip-mirip," ucap William.

William mengatakan bahwa di daerah tempat ia tinggal, harga kamar kos termurah seharga Rp 1 juta. Jika ingin yang lebih bagus lagi, harganya berkisar Rp 3-4 juta.

Baca juga: Mulai Juli 2021, Work From Bali Diluncurkan Secara Bertahap

Sementara itu, untuk harga kamar kos di daerah Denpasar, William mengatakan, dirinya hanya perlu membayar Rp 2 juta per bulan.

Harga tersebut sudah termasuk listrik, kamar mandi dalam, televisi, WiFi, dan pendingin ruangan.

Baca juga: Selain Nusa Dua, Kawasan Lain di Bali Bisa Jadi Lokasi Work From Bali

Menurutnya, baik tinggal di Bali maupun di Jakarta memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Bedanya, jika ingin lebih bergaya hidup santai, Bali bisa jadi salah satu destinasi yang tepat. Ia pun mengaku enjoy kerja di Bali.

Tetap harus hemat 

Pendapat yang hampir saja juga dilontarkan Jeremy (28). Ia bekerja di bidang marketing di sebuah kantor visa agency di Bali. 

Ia mengatakan, persoalan biaya hidup di Bali bergantung pada pribadi masing-masing.

Menurutnya, jika hidup mengikuti lifestyle seperti orang yang sedang berlibur di Bali, otomatis pengeluaran juga akan lebih besar.

Tjampuhan Ridge Walk begitulah para wisatawan manca negara mengenal Bukit Campuhan, Ubud.https://pesona.travel Tjampuhan Ridge Walk begitulah para wisatawan manca negara mengenal Bukit Campuhan, Ubud.

Namun, jika menetap untuk bekerja dan hidup di Bali tentunya punya perhitungan tersendiri agar bisa bertahan hidup. 

"Soal living cost di Bali itu tergantung dari orangnya lagi, yang pasti kalau mau bertahan hidup namanya merantau sendiri ya harus bergaya sesuai isi dompet. Kalau ikuti lifestyle orang holiday di Bali otomatis cost-nya lebih besar," ujar Jeremy kepada Kompas.com.

Baca juga: Nusa Dua Jadi Lokasi Work From Bali, Ini Tanggapan Kadispar Bali

Ia menerangkan, untuk biaya hidup di Bali tergantung pada daerah yang dituju. Menurutnya, bila tinggal di daerah Denpasar, pengeluaran tidak terlalu mahal.

"Di Denpasar penduduknya lebih banyak orang lokal dan pendatang dari pulau Jawa. Jadi di sana ada warung-warung makan yang lebih affordable. Di sana masih bisa menemukan makanan Rp 15.000-20.000 per porsi," ujarnya. 

Para peselancar siang untuk berselancar di pagi hari di Pantai batu Bolong, CangguKompas.com / Gabriella Wijaya Para peselancar siang untuk berselancar di pagi hari di Pantai batu Bolong, Canggu

Sementara, jika menetap di daerah pariwisata, di antaranya Kuta, Canggu, dan Seminyak, bisa dibilang biaya hidup akan lebih mahal.

"Mayoritas yang stay di sana itu pengunjung atau wisatawan dan sebagian dari mereka warga negara asing. Jadi wajar kalau tempat makan daerah situ lebih ke kafe, kedai makanan dan harga pun otomatis lebih mahal," tambah Jeremy. 

Baca juga: Pemerintah Pilih Work From Bali di Kawasan Nusa Dusa, Mengapa?

Ia menceritakan bahwa dirinya sudah bekerja di Bali sejak Maret 2019. Ia mengawali karir sebagai seorang mixologist di salah satu club Bali. Beberapa bulan kemudian ia pindah ke kantor visa agency.

Selain berpindah tempat kerja, ia juga sudah merasakan berpindah-pindah tempat tinggal ke beberapa daerah di Bali. Mulai dari Renon daerah Denpasar, kemudian ke Sanur, Jalan Dewi Sri, Seminyak, lalu terakhir Canggu.

Hal itu dilakukan lantaran ia ingin mencari suasana baru sekaligus mengeksplor kawasan Bali. Ia ingin tahu perbedaan dari setiap daerah kawasan Bali tersebut.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Work From Bali, Efektif Pulihkan Pariwisata?

Menurut dia, merantau atau bekerja di daerah mana pun sama saja, yang paling penting adalah pengendalian diri sendiri.

"Mau merantau ke mana pun sama aja, asal jangan lebih besar pasak dari pada tiang," pungkasnya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.