BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif

Sebelum Destinasi Wisata Dibuka Kembali, Pahami Panduan Protokol Berwisata Berikut

Kompas.com - 04/08/2021, 11:10 WIB
Alek Kurniawan,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Seluruh para pelaku usaha di bidang ini mulai dari pekerja wisata, pemandu wisata, penjual makanan dan minuman di sekitar destinasi wisata, pengemudi bus wisata, hingga pemilik bisnis pariwisata merasakan dampaknya secara langsung.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun berupaya mencegah pelaku pariwisata terdampak semakin dalam.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemenparekraf adalah menerapkan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) dengan panduan pelaksanaan cleanliness, health, safety, and environmental sustainability (CHSE) untuk pencegahan serta pengendalian Covid-19 di sejumlah destinasi wisata.

Baca juga: Mulai dari Batik Betawi hingga Boneka Ondel-ondel, Andalan Produk Ekraf Khas Betawi

Adapun panduan tersebut ditujukan bagi pengusaha dan/atau pengelola, karyawan, serta pemandu wisata lokal dalam memenuhi kebutuhan pengunjung akan produk dan pelayanan pariwisata yang bersih, sehat, aman, serta ramah lingkungan pada masa pandemi.

Panduan tersebut juga menjadi acuan bagi pemerintah provinsi, kabupaten atau kota, pemerintah desa atau kelurahan, asosiasi usaha dan profesi terkait daya tarik wisata, serta kelompok penggerak pariwisata.

Untuk diketahui, ketentuan yang termuat dalam panduan CHSE tak hanya mengacu pada protokol kesehatan (prokes) yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia. Panduan tersebut juga dibuat dengan mengikuti pedoman dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan World Travel and Tourism Council (WTTC).

Baca juga: Yuk, Jalan-jalan Virtual ke 4 Destinasi Keren di Indonesia

Panduan pelaksanaan CHSE tak hanya berlaku bagi penyedia jasa wisata dan pelaku pariwisata semata. Wisatawan atau pengunjung destinasi wisata #DiIndonesiaAja juga harus menerapkannya agar semua komponen pariwisata tetap aman dan nyaman dalam melakukan aktivitas.

Saat berwisata di tengah pandemi, ada beberapa panduan yang harus dipahami wisatawan sebelum berkunjung ke destinasi wisata.

Untuk informasi selengkapnya, simak ulasan yang disadur dari buku Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan di Daya Tarik Wisata oleh Kemenparekraf berikut.

Ilustrasi vaksinasiDOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi vaksinasi

1. Sudah divaksin

Vaksinasi merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Oleh karena itu, wisatawan dianjurkan mengikuti program vaksinasi sebelum berkunjung ke destinasi wisata. Jangan lupa pula bawa surat atau sertifikat vaksinasi saat bepergian.

Opsi lain, pemerintah saat ini juga membuka beberapa sentra vaksinasi di sejumlah destinasi wisata, seperti South Shore Gunungkidul, Heha Sky View di Yogyakarta, Pantai Ngobaran Wonosari, Goa Maria Tritis di Bantul, dan Kampoeng Kopi Banaran di Semarang.

Dengan adanya sentra vaksinasi tersebut, wisatawan bisa mengikuti program vaksinasi sambil berlibur.

2. Kondisi wisatawan harus sehat

Wisatawan wajib memastikan diri dalam kondisi sehat dengan suhu tubuh di bawah 37,3 derajat Celcius. Wisatawan juga tidak boleh memiliki gejala demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan/atau sesak napas sebelum beraktivitas di daya tarik wisata.

Ilustrasi mencuci tangan menggunakan hand sanitizerDOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi mencuci tangan menggunakan hand sanitizer

3. Perilaku hidup bersih

Selain sehat, wisatawan harus menjalankan perilaku hidup sehat, seperti tidak melakukan kontak fisik dengan banyak orang, tidak menyentuh bagian wajah (mata, hidung, dan mulut) saat berwisata, dan tetap menjaga jarak aman minimum satu meter.

Kemudian, wisatawan mesti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer, memakai alat pelindung diri sesuai keperluan (masker dan sarung tangan), menerapkan etika bersin dan batuk, serta selalu mengonsumsi makanan sehat dan vitamin.

4. Jangan menyentuh sembarangan

Di destinasi wisata, wisatawan tidak dianjurkan untuk berjabat tangan. Sebagai gantinya, wisatawan bisa memberi salam dengan cara mengatupkan kedua telapak tangan di dada.

Selain itu, hindari menyentuh barang publik yang berpotensi disentuh banyak orang. Bila menyentuh, segera cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer.

Ilustrasi pembayaran digitalDOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi pembayaran digital

5. Gunakan pembayaran nontunai

Wisatawan sebaiknya melakukan reservasi melalui telepon, media sosial, atau media daring lainnya serta melakukan pembayaran secara nontunai sebelum datang ke destinasi tujuan.

Pada saat reservasi, wisatawan harus menginformasikan secara daring tentang nama, daerah atau negara asal, dan nomor kontak.

6. Informasikan jika ada gejala

Wisatawan wajib menginformasikan kepada karyawan atau pemandu wisata lokal jika mengalami gangguan kesehatan, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan/atau sesak napas. Hal ini dilakukan untuk melakukan deteksi dini dan mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan destinasi wisata.

Tak hanya wisatawan, karyawan dan pemandu wisata lokal juga wajib menginformasikan kepada pimpinan jika mengalami gangguan kesehatan tersebut.

Ilustrasi sesak napas karena Covid-19DOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi sesak napas karena Covid-19

7. Kondisi darurat

Bila terjadi kondisi darurat secara mendadak, wisatawan bisa memberitahukan kepada karyawan dan pemandu wisata lokal. Kemudian, mereka akan mengarahkan dan membantu wisatawan dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

Itulah beberapa panduan CHSE yang harus dipahami wisatawan sebelum melakukan perjalanan wisata ke destinasi tujuan #DiIndonesiaAja.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, panduan dan sertifikasi CHSE menjadi fokus utama untuk menghadirkan kepercayaan bagi wisatawan.

Baca juga: 4 Kerajinan Khas Joglosemar Ini Bisa Dijadikan Suvenir untuk Kerabat

“Sertifikasi CHSE menjadi keniscayaan di seluruh kegiatan, baik destinasi wisata maupun sentra ekraf. Kami harus yakinkan bahwa pelaku pariwisata dan ekraf harus beradaptasi dengan prokes yang ketat serta disiplin,” kata Sandiaga seperti dilansir dari laman resmi Kemenparekraf, Jumat (9/7/2021).

Program tersebut, lanjut Menparekraf, dinamakan InDOnesia CARE (IDOCARE) dengan beberapa turunan, yaitu Bangga Buatan Indonesia, Bangga Berwisata #DiIndonesiaAja, dan #BeliKreatifLokal untuk mendorong konsumsi.

Ilustrasi pengecekan suhuDOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi pengecekan suhu

Selain itu, Menparekraf juga tak bosan mengingatkan semua komponen pariwisata untuk melakukan vaksinasi dan menjalankan prokes ketat, seperti mencuci tangan hingga bersih, menggunakan masker rangkap dua, menjaga jarak minimum satu meter, membatasi mobilitas, menjauhi kerumunan, serta menghindari makan bersama (6M).

Sebagai informasi, Kemenparekraf menjalankan beberapa aktivitas sebagai edukasi kepada masyarakat selama pandemi. Salah satunya adalah kompetisi #MelodiKemerdekaan yang berlangsung selama 27 Juli – 12 Agustus 2021.

Baca juga: Yuk, Bikin Kuliner Khas Bandung Berikut di Rumah

Melalui kompetisi ini, Kemenparekraf mengajak masyarakat Indonesia untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia #DirumahAja dengan cara menyanyikan salah satu lagu daerah.

Ada hadiah total jutaan rupiah yang Kemenparekraf siapkan bagi peserta dengan video paling kreatif. Jadi, jangan sampai melewatkan kesempatan ini.

Untuk informasi selengkapnya, silakan kunjungi laman ini atau ikuti akun Instagram @pesonaid_travel.


Terkini Lainnya

Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Travel Update
Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Travel Update
Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Travel Update
World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

Travel Update
Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Travel Update
Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Travel Update
5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Travel Update
Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Travel Tips
Turis Asing Beri Ulasan Negatif Palsu ke Restoran di Thailand, Berakhir Ditangkap

Turis Asing Beri Ulasan Negatif Palsu ke Restoran di Thailand, Berakhir Ditangkap

Travel Update
19 Larangan dalam Pendakian Gunung Lawu via Cemara Kandang, Patuhi demi Keselamatan

19 Larangan dalam Pendakian Gunung Lawu via Cemara Kandang, Patuhi demi Keselamatan

Travel Update
Harga Tiket Camping di Silancur Highland, Alternatif Penginapan Murah

Harga Tiket Camping di Silancur Highland, Alternatif Penginapan Murah

Travel Update
Harga Tiket dan Jam Buka Terkini Silancur Highland di Magelang

Harga Tiket dan Jam Buka Terkini Silancur Highland di Magelang

Travel Update
Awas Celaka! Ini Larangan di Waterpark...

Awas Celaka! Ini Larangan di Waterpark...

Travel Tips
BOB Downhill 2024, Perpaduan Adrenalin dan Pesona Borobudur Highland

BOB Downhill 2024, Perpaduan Adrenalin dan Pesona Borobudur Highland

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com