Kompas.com - 19/08/2021, 13:54 WIB

Analisis curah hujan 

Selain surat dari Badan Geologi Kementerian ESDM tersebut, Balai TN Kelimutu juga melakukan analisis terhadap data curah hujan di Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu dalam kurun 2016 – 2021.

Hasil analisis menunjukkan bahwa tahun 2019 terjadi penurunan curah hujan yang cukup signifikan yang memungkinkan terjadinya penguapan atau evaporasi yang cukup tinggi.

"Pada dasarnya penurunan maupun kenaikan muka air danau tidak dapat dilakukan hanya dengan kajian vulkanologi saja, namun juga membutuhkan kajian geologi maupun penyelidikan bawah permukaan air danau dengan metode geofisika dan geokimia dengan cakupan area yang cukup luas," jelas Hendrikus dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (19/8/2021) pagi.

Baca juga:

Tak lepas dari kepercayaan masyarakat setempat

Foto : Upacara seremoni Pati Ka (memberi makan dan minum kepada Leluhur di Kelimutu), Kabupaten Ende, NTT, beberapa waktu lalu.Dokumen Taman Nasional Kelimutu Foto : Upacara seremoni Pati Ka (memberi makan dan minum kepada Leluhur di Kelimutu), Kabupaten Ende, NTT, beberapa waktu lalu.

Hendrikus mengungkapkan, masyarakat Suku Lio masih menjunjung tinggi adat dan budayanya.

Kepercayaan yang masih kuat sampai saat ini adalah bahwa perubahan di tiga Danau Kelimutu diyakini sebagai tanda akan adanya bencana atau malapetaka.

Seperti yang sempat dialami masyarakat Suku Lio saat gempa bumi dan tsunami pada tahun 1992.

Diyakini bahwa sebelum terjadi bencana tersebut, salah satu danau yang ada mengalami perubahan warna terlebih dahulu.

Oleh karena itu, kata dia, Balai TN Kelimutu secara rutin memfasilitasi acara pemberian makan arwah (Pati Ka) di Danau Kelimutu, salah satunya seperti yang dilakukan pada 31 Juli 2021.

Ia menjelaskan, Pati Ka dilakukan oleh beberapa Mosalaki (pemangku adat) yang tergabung dalam Forum Komunitas Adat Kelimutu.

Acara tersebut bertujuan untuk memanjatkan doa dan permohonan kepada arwah dan leluhur agar seluruh anggota masyarakat dan komunitas adat dapat terhindar dari segala marabahaya atau tolak bala.

"Di luar kepercayaan akan ritual tolak bala yang telah dilakukan tersebut, hasil pengamatan secara visual oleh petugas TN Kelimutu menunjukkan bahwa saat ini kondisi permukaan air Danau Ata Mbupu telah mengalami peningkatan," ungkap Hendrikus.

"Indikasinya adalah tidak terlihatnya lagi batu-batuan di dasar danau yang sebelumnya tampak pada saat terjadi penurunan permukaan air danau," tambahnya.

Pihak Balai TN Kelimutu berharap, permukaan air Danau Ata Mbupu akan terus meningkat sampai dengan ketinggian yang sama seperti kondisi pada tahun 2017 lalu.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.