Kompas.com - 21/08/2021, 08:17 WIB
Museum Tsunami Aceh Pada Malam Hari. Arsip Museum Tsunami AcehMuseum Tsunami Aceh Pada Malam Hari.

KOMPAS.com - Berwisata ke tempat-tempat yang bersejarah bukanlah hal yang baru.

Namun, yang membedakan dark tourism dengan wisata bersejarah lainnya adalah lokasi wisatanya yang merupakan bekas terjadinya sebuah tragedi.  

Dilansir dari Kompas.com, Jumat (28/6/2021), istilah dark tourism muncul pada 1990-an dari para pelajar yang meneliti mengenai wisatawan yang berkunjung ke bekas lokasi pembunuhan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-35, John F. Kennedy.

Salah satu contoh lokasi wisata dark tourism yang dikenal adalah Chernobyl dan Kota Pripyat, lokasi kebocoran reaktor nuklir pada 1986 di Ukraina. Wisata ini menjadi populer setelah tayangnya serial berjudul Chernobyl di saluran TV berbayar, HBO.

Baca juga: Dark Tourism, Saat Tempat Bencana Jadi Tren Wisata

Dark tourism memiliki beberapa pro dan kontra.

Jenis wisata ini dapat memberi pemahaman dan wawasan yang lebih mengenai tragedi di masa lalu, namun banyak juga wisatawan yang kurang menghormati sejarah di lokasi tersebut dengan mengambil foto berlatar lokasi bekas bencana.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mengacu pada arti dark tourism, terdapat beberapa tempat di Indonesia untuk jenis wisata tersebut. Berikut adalah beberapa lokasi yang dapat dikunjungi:

Monumen Tragedi Lumpur Lapindo

Kawasan semburan Lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (23/5)KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Kawasan semburan Lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (23/5)

Warga memasang Monumen Tragedi Lumpur Lapindo sebagai aksi peringatan tujuh tahun bencana lumpur Sidoarjo, Jawa Timur, di tahun 2013.

Monumen tersebut dipasang di bibir kolam lumpur, tepatnya lokasi bekas Desa Mindi, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Monumen tersebut mengingatkan bahwa korban lumpur Sidoarjo akan terus menuntut pemulihan kehidupan mereka yang telah hancur akibat lumpur.

Baca juga: 15 Tahun Lumpur Lapindo, Bagaimana Kejelasan Nasib Korban Bencana?

Fenomena bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo terjadi pada 29 Mei 2006. Peristiwa itu bermula dari kebocoran sumur pengeboran gas PT Lapindo Brantas.

Semburan lumpur disertai gas keluar dari permukaan tanah melalui rawa yang ada di sekitar lokasi pengeboran.

Di lansir dari Kompas.com, Senin (31/5/2021), semburan lumpur terus meluas menggenangi area sekitar lokasi pengeboran seperti rawa dan persawahan, pemukiman warga, jalan tol, serta jalur kereta api.

Halaman:


Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.