Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - Diperbarui 30/01/2022, 16:24 WIB

Agama dan keyakinan suku Tengger

Dilansir dari Keajaiban Bromo Tengger Semeru karya Jati Batoro, masyarakat Tengger awalnya memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme.

Ajaran agama Hindu dan Buddha mulai berkembang di wilayah suku Tengger seiring perkembangan Majapahit. Kepercayaan tersebut menjadi agama yang akhirnya diwariskan nenek moyang hingga generasi suku Tengger masa kini.

"Agama kerajaan Majapahit termasuk agama Hindu-Buddha dengan cirah lokal. Hal ini dapat dimengerti masyarakat lokal dan masyarakat Jawa-Majapahit yang berpindah ke Tengger lalu melakukan asimilasi menjadi suku Tengger," tulis Batoro.

Perkembangan agama dan kepercayaan di suku Tengger sejalan dengan perkembangan agama di Indonesia. Akan tetapi, mayoritas suku ini menganut agama Buddha Mahayana.

Adanya percampuran kepercayaan animisme dan dinamisme yang masih cukup kental di suku Tengger, membuat masyarakatnya menyakralkan Gunung Bromo dan Semeru.

Baca juga: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Perpanjang Waktu Penutupan

Berdasarkan kepercayaan suku Tengger, Gunung Bromo dan Gunung Semeru merupakan tempat suci dan keramat yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Suku Tengger pun memegang erat tradisi yang diturunkan oleh leluhur.

"Masyarakat suku Tengger, baik yang masih beragama Hindu maupun yang sudah beragama Islam sampai saat ini masih tetap memegang tradisi dan nilai-niai budaya yang luhur, sebagai warisan dari nenek moyang yang pernah jaya pada zaman Majapahit," tulis Yulianti.

Upacara adat suku Tengger

Upacara Adat Yadnya Kasada Suku Tengger DOK. Shutterstock/syamhari photographyShutterstock/syamhari photography Upacara Adat Yadnya Kasada Suku Tengger DOK. Shutterstock/syamhari photography

Menurut Yulianti, ada banyak upacara adat yang sampai saat ini masih dilakukan secara rutin oleh suku Tengger. Upacara adat tersebut terbagi dalam tiga jenis.

Pertama adalah upacara adat terkait kehidupan masyarakat. Upacara adat ini dilakukan secara massal dan para pelakunya terikat dalam perasaan yang sama.

Upacara adat yang tergolong dalam jenis ini adalah Pujan Karo, Pujan Kapat, Pujan Kapitu atau Megeng, Pujan Kawolu, Pujan Kasanga atau Pujan Mubeng, Hari Raya Yadnya Kasada atau Pujan Kasada, dan Unan-unan atau Upacara Pancawarsa.

Jenis upacara adat kedua berhubungan dengan siklus kehidupan seseorang. Ada tiga siklus kehidupan yang dianggap penting dalam kepercayaan Tengger, yaitu kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Ketiga siklus kehidupan tersebut dianggap sebagai bentuk peringatan yang harus diselamati untuk menghindari diri dari pengaruh buruk.

"Menurut masyarakat Tengger, mereka mempercayai adanya hubungan timbal balik antara kehidupan di dunia dan kehidupan di lelangit," jelas Yulianti.

Jenis upacara adat yang terakhir berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Upacara adat ini menjadi bentuk hubungan antara manusia dengan alam atau lingkugan sekitarnya.

Baca juga: Jejak Pendaki Semeru Mulai Berdatangan di TN Bromo Tengger Semeru

Upacara adat yang berkaitan dengan kegiatan pertanian ini disebut juga Leliwet. Upacara ini biasanya dilakukan seseorag saat memasuki masa tanam atau panen.

Leliwet juga sering dilakukan bersamaan dengan Pujan Karo. Tujuan dari Leliwet adalah memohon kepada Sang Hyang Widi agar dalam masa tanam, petani dijauhkan dari kerusakan dan roh jahat.

Upacara ini juga diharapkan dapat membuat tanah menjadi subur, sehingga hasil panen melimpah. Leliwet juga diartikan sebagai rasa syukur atas hasil panen.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+