Kompas.com - 22/08/2021, 08:34 WIB
Masyarakat Bawean Singapura 1910, Foto: Wikipedia.org bobo.grid.idMasyarakat Bawean Singapura 1910, Foto: Wikipedia.org

KOMPAS.com - Suku Bawean adalah masyarakat yang mendiami Pulau Bawean di Laut Jawa. Pulau ini terletak di bagian utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Melansir situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Bawean merupakan pulau yang terletak sekitar 120 kilometer (km) arah utara dari Kabupaten Gresik.

Untuk sampai ke pulau ini, diperlukan waktu tempuh sekitar tiga hingga empat jam dengan kapal cepat atau satu jam menggunakan pesawat perintis.

Baca juga: Wisata Bawean, dari Keindahan Taman Laut hingga Binatang Endemik

Pulau Bawean terdiri dari dua kecamatan, yaitu Sangkapura dan Tambak. Hanya diperlukan waktu sekitar dua jam untuk mengelilingi pulau ini menggunakan kendaraan darat.

"Suku Bawean dimasukkan pada sub Suku Jawa menurut sensus BPS tahun 2010. Suku Bawean bermukim di pulau yang luasnya 188,66 km persegi dan terletak di utara Pulau Jawa yang masih termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Gresik," tulis Sholik dkk, dalam jurnal berjudul "Merantau Sebagai Budaya".

Asal-usul Pulau Bawean

Pulau Bawean, Kabupaten GresikDokumentasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur via @baweantourism Pulau Bawean, Kabupaten Gresik

Melansir "Cerita Rakyat dari Bawean, Jawa Timur" karya Usman, Pulau Bawean awalnya bernama Pulau Majeti atau Pulau Majdi. Kata Majdi sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya uang logam.

Pulau Majdi memiliki bentuk yang hampir bulat sempurna seperti uang logam. Inilah alasan di balik nama Majdi.

Perubahan nama Majdi menjadi Bawean dipercaya masyarakat setempat berkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit.

Pada suatu masa, saat pasukan Kerajaan Majapahit ingin memperluas kekuasaannya, armada tersebut mengalami musibah dan terkatung-katung di atas perairan Laut Jawa.

Baca juga: 

Armada ini kemudian melihat pulau dengan deretan pegunungan. Dengan sisa tenaga yang ada, para pelaut yang tersisa kemudian berlayar menuju tempat itu.

Mereka bisa menyaksikan sinar matahari menyinari pulau. Di pulau kecil tersebut, para pelaut mendapat sambutan baik dari para warga.

Pemimpin armada yang selamat merasa senang setelah berhasil sampai. Karena perasaan gembira itu, tanpa sadar sang pimpinan pelaut meneriakkan kata "bawean".

Bawean dalam aBhasa Sansekerta terdiri dari tiga kata, yaitu ba yang artinya sinar we yang artinya matahari dan an yang artinya ada. Jadi, menurut legenda ini, "bawean" berarti ada matahari.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.