Kompas.com - 04/09/2021, 20:38 WIB
Rumah honai di Papua DOK. Shutterstock/inru17 Shutterstock/inru17Rumah honai di Papua DOK. Shutterstock/inru17

KOMPAS.com - Papua merupakan rumah bagi sejumlah suku di Indonesia. Asmat, Dani, Momuna, dan Arfak adalah beberapa suku yang mendiami provinsi paling timur Indonesia ini.

Masing-masing suku memiliki rumah adat yang berbeda. Karakteristik dan bentuk dari rumah adat tersebut juga beragam.

"Perbedaan kondisi geografis dan sosial budaya yang hidup dan berkembang di Papua tersebut menghasilkan bentuk arsitektur tradisional dan pola pemukiman," tulis Fauziah dalam jurnalnya berjudul Karakteristik Arsitektur Tradisonal Papua.

Rumah honai

Rumah honai di Papua DOK. Shutterstock/sunsingerShutterstock/sunsinger Rumah honai di Papua DOK. Shutterstock/sunsinger

Salah satu rumah adat yang ada di Papua adalah rumah honai.

Adapun rumah honai adalah rumah adat Suku Dani.

Rumah adat ini terbuat dari jerami atau ilalang yang dirangkai hingga tampak bertingkat setinggi 2,5 meter.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Tujuannya untuk menahan hawa dingin Papua," tulis Tyas dalam bukunya yang berjudul Rumah Adat di Indonesia.

Baca juga:

Rumah honai biasanya ditinggali oleh lima sampai sepuluh orang. Rumah yang ditinggali oleh kaum pria disebut honai, sedangkan rumah yang dihuni oleh kaum perempuan disebut ebei.

Rumah adat tersebut terdiri atas dua lantai. Lantai dasar dan lantai satu dihubungkan dengan tangga bambu.

Penghuni rumah biasanya membuat perapian di lantai dasar sebagai penerangan di malam hari.

Rumah panggung suku Maybrat, Imian, dan Sawiat

Rumah panggung di Papua DOK. Shutterstock/nopthiraShutterstock/nopthira Rumah panggung di Papua DOK. Shutterstock/nopthira

Suku Maybrat, Imian, dan Sawiat merupakan suku yang tinggal di daerah pegunungan dan pesisir pantai.

Dilansir dari Arsitektur Tradisional Papua karya Fauziah, rumah adat dari ketiga suku tersebut berbentuk rumah panggung.

Adapun rumah panggung itu berbentuk persegi empat dan terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan kaki.

Permukiman dari suku tersebut mengikuti alur perbukitan, jalur jalan, dan aliran sungai dengan pola yang tersebar. Sedangkan untuk di wilayah pesisir, memiliki pola mengikuti garis pantai.

Rumah panggung ini memiliki pintu dan jendela berukuran kecil. Jumlah pintu dan jendela pun tidaklah banyak.

Atap bangunan rumah menggunakan daun sagu, daun rumbino atau seng. Bagian dinding terbuat dari kulit kayu atau papan kayu.

Ada beberapa jenis rumah panggung yang dikenal dalam suku ini, yaitu rumah bujang laki-laki, rumah bujang perempuan, dan rumah pohon untuk memantau dan mengawasi area sekitar.

Baca juga:

Rumah jew

Rumah jew Suku Asmat, Papua DOK. Shutterstock/dewi linggasariShutterstock/dewi linggasari Rumah jew Suku Asmat, Papua DOK. Shutterstock/dewi linggasari

Suku Asmat tinggal di daerah Lembah Baliem dan pesisir pantai. Rumah adat yang mereka bangun disebut sebagai rumah jew.

Menurut Fauziah, permukiman yang berada di sepanjang garis pantai memiliki pola linier yang berderet mengikuti bentuk bibir pantai. Rumah-rumah tersebut berupa rumah panggung dengan atap dari anyaman daun nipah dan sagu.

Bagi suku yang tinggal di daerah lembah, biasanya permukimannya dibangun mengikuti bentuk aliran sungai.

Baca juga: Suku Asmat dan Legenda Patung Bernyawa

Dinding dari bangunan tersebut terbuat dari kulit kayu atau papan yang disusun. Sambungan dinding dan kerangka diikat dengan tali rotan atau akar pohon. 

"Setiap kampung mempunyai satu rumah bujang yang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan dan banyak rumah keluarga," tulis Prasetya dalam jurnalnya yang berjudul Budaya Lokal sebagai Potensi dalam Penyembangan Kasawan Ekonomi Khusus (KEK) Kabupaten Asmat.

Rumah pohon

Rumah pohon di Papua DOK. Shutterstock/Sergey UryadnikovShutterstock/Sergey Uryadnikov Rumah pohon di Papua DOK. Shutterstock/Sergey Uryadnikov

Dilansir dari Rumah Pohon Suku Momuna, Yahukimo karya Maryone, rumah pohon atau rumah tinggi suku Momuna merupakan rumah keluarga yang luas.

Suku ini tinggal di dataran rendah Kabupaten Yahukimo.

"Suku Momuna menempati rumah pohon berbentuk tertutup. Rumah memiiki dua pintu di bagian depan dan belakang. Rumah pohon tanpa jendela maupun ventilasi udara," imbuh Maryone.

Rumah pohon memiliki penyangga yang berupa pohon jambu hutan. Konstruksi bangunan di bagian dinding terbuat dari kayu. Sementara itu, atap rumah ini terbuat dari daun.

Baca juga:

Sumber:

Tyas, D.C. 2019. Rumah Adat di Indonesia. Semarang: Alprin

Fauziah, N. 2014. Karakteristik Arsitektur Tradisional Papua. Simposium Nasional Teknologi Terapan. Hal: A19-A29

Maryone, R. 2015. Rumah Pohon Suku Momuna, Yahukimo. Jurnal Arkeologi Papua. 7(2). Hal: 85-96

Prasetya, L.E. 2013. Budaya Lokal sebagai Potensi dalam Penyembangan Kasawan Ekonomi Khusus (KEK) Kabupaten Asmat. Simposium Nasional RAPI XII. Hal: 23-30

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wisata ke Rawa Pening, Bersih dari Encek Gondok dan Ada Pentas Tari

Wisata ke Rawa Pening, Bersih dari Encek Gondok dan Ada Pentas Tari

Travel Update
Punya Pantai Indah, Desa Wisata Ngilngof Cocok untuk Sport Tourism

Punya Pantai Indah, Desa Wisata Ngilngof Cocok untuk Sport Tourism

Travel Update
Janji Sandiaga di Desa Wisata Ngilngof Maluku: Perbaikan Jaringan Internet

Janji Sandiaga di Desa Wisata Ngilngof Maluku: Perbaikan Jaringan Internet

Travel Update
Berkunjung ke Kos-kosan Pelajar yang Kini Museum Sumpah Pemuda

Berkunjung ke Kos-kosan Pelajar yang Kini Museum Sumpah Pemuda

Jalan Jalan
Rute Tercepat Menuju Desa Wisata Nusa Aceh Besar dari Bandara

Rute Tercepat Menuju Desa Wisata Nusa Aceh Besar dari Bandara

Jalan Jalan
Wisata Keraton Yogyakarta Sudah Buka, Ini Syarat Berkunjungnya

Wisata Keraton Yogyakarta Sudah Buka, Ini Syarat Berkunjungnya

Travel Update
Antigen 1x24 Jam Masih Jadi Syarat Naik Kereta Api Jarak Jauh, Kapal, dan Bus Antarkota

Antigen 1x24 Jam Masih Jadi Syarat Naik Kereta Api Jarak Jauh, Kapal, dan Bus Antarkota

Travel Update
Tes PCR untuk Naik Pesawat Boleh 3x24 Jam

Tes PCR untuk Naik Pesawat Boleh 3x24 Jam

Travel Update
Fasilitas Wisata di Desa Wisata Nusa Aceh Besar, Ada Becak dan Homestay

Fasilitas Wisata di Desa Wisata Nusa Aceh Besar, Ada Becak dan Homestay

Jalan Jalan
Cerita Perajin di Desa Wisata Arborek Raja Ampat yang Terdampak Pandemi

Cerita Perajin di Desa Wisata Arborek Raja Ampat yang Terdampak Pandemi

Travel Update
4 Koleksi Menarik Museum Sumpah Pemuda, Ada Biola W.R. Supratman

4 Koleksi Menarik Museum Sumpah Pemuda, Ada Biola W.R. Supratman

Jalan Jalan
Wisata Raja Ampat Sudah Buka, tapi Kunjungan Masih Sepi

Wisata Raja Ampat Sudah Buka, tapi Kunjungan Masih Sepi

Travel Update
Paket Wisata ke Raja Ampat Mahal, Ini Kata Sandiaga

Paket Wisata ke Raja Ampat Mahal, Ini Kata Sandiaga

Travel Update
7 Cara Memilih Durian yang Sudah Matang, Manis, dan Banyak Daging

7 Cara Memilih Durian yang Sudah Matang, Manis, dan Banyak Daging

Travel Tips
Boneka Squid Game Muncul di Seoul Korea Selatan, Jadi Daya Tarik Wisatawan

Boneka Squid Game Muncul di Seoul Korea Selatan, Jadi Daya Tarik Wisatawan

Travel Update

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.