Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Indonesian Insight Kompas
Kelindan arsip, data, analisis, dan peristiwa

Arsip Kompas berkelindan dengan olah data, analisis, dan atau peristiwa kenyataan hari ini membangun sebuah cerita. Masa lalu dan masa kini tak pernah benar-benar terputus. Ikhtiar Kompas.com menyongsong masa depan berbekal catatan hingga hari ini, termasuk dari kekayaan Arsip Kompas.

Arti PPKM Level 3 Bali bagi Ekonomi Bali dan Indonesia

Kompas.com - Diperbarui 21/09/2021, 10:22 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Betul, ketidakhadiran wisatawan mancanegara tak hanya terjadi di Bali. Namun, angka satuan untuk data Bali itu adalah bagian dari kisaran nyaris dua ribuan wisatawan mancanegara yang tercatat masih tiba di Indonesia per bulan. 

Sekali lagi, dalam lima tahun terakhir, wisatawan mancanegara yang datang ke Bali melebihi akumulasi seluruh wisatawan mancanegara yang menyambangi 33 provinsi lain di Indonesia. Lalu, angka ini tinggal hitungan jari.

Arti PPKM Level 3 bagi Bali 

Diskusi bisa saja berkata bahwa Bali tak seharusnya bergantung pada sektor pariwisata saja. Angka-angka indikator ekonomi Bali bila dibedah lebih dalam sejatinya tak buruk-buruk amat pula dibandingkan provinsi lain.

Dari empat kelompok penopang pendapatan domestik regional bruto (PDRB) berdasarkan pengeluaran, angka yang luluh lantak di Bali adalah untuk kategori pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Terjun bebas.

Adapun konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit untuk rumah tangga, dan belanja pemerintah, angka-angka Bali sebelas dua belas saja dengan provinsi lain di Indonesia. 

Baca juga: Sarankan Petani Bali Ikut Asuransi Pertanian, Dirjen PSP: Gagal Panen Dapat Rp 6 Juta Per Hektar

Dalam bahasa julid kekinian, angka-angka Bali untuk tiga kelompok pengeluaran penopang PDRB tersebut masih bisa banget disyukuri di tengah pandemi yang berdampak ke semua wilayah di Indonesia.

Sedikit catatan, belanja pemerintah patut jadi tanda tanya juga ketika membahas Bali, sebagai salah satu daerah yang paling keras terhantam pandemi selain Jawa. Setinggi-tingginya, belanja pemerintah tak pernah tembus dua digit di Bali.

Sebuah pemahaman klasik, ketika ekonomi seret maka belanja pemerintah adalah penyokong atau setidaknya upaya perpanjangan napas yang bisa diupayakan untuk sementara waktu. Angka belanja pemerintah di Bali selalu di bawah rata-rata nasional selama pandemi.

Namun, ketika kembali ke kelompok PMTB maka data Bali memang luluh lantak.

Baca juga: Pemerintah Uji Coba Buka Mall di Bali, Begini Rincian Aturannya

Bahkan, saat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2021 tembus 7 persen (year on year atau yoy), Bali "hanya" tumbuh tak sampai 3 persen yoy.

Lagi-lagi, ini karena PMTB di Bali masih negatif, saat tiga kelompok lain sudah tumbuh positif bahkan lebih baik daripada sejumlah provinsi lain di kuartal II/2021.

Pertumbuhan ekonomi Bali di kuartal II/2021 hanya lebih baik dari angka Papua Barat dan Sumatera Utara. 

Sebentar, PMTB itu apa?

PMTB sebenarnya soal investasi dan ketersediaan stok untuk jangka waktu setahun. 

Di dalamnya tercakup urusan hotel dan akomodasi pendukungnya, restoran dan sejenisnya, bangunan bukan tempat tinggal, bangunan tempat rekreasi, bangunan tempat olahraga, bangunan untuk lokasi hiburan, bangunan untuk seni dan budaya, serta moda transportasi.

Baca juga: Media Asing Sebut Bali Terima Turis Asing September 2021, Ini Respons Sandiaga Uno

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com