Kompas.com - 17/09/2021, 08:08 WIB

KOMPAS.com - Hari Palang Merah Indonesia (PMI) diperingati pada 17 September setiap tahunnya. Peringatan ini berkaitan erat dengan sejarah terbentuknya PMI pada tahun 1945.

Dilansir dari situs resmi Kumpulan Buklet Hari Bersejarah I yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PMI berdiri pada 17 September 1945.

Peringatan berdirinya PMI bertujuan untuk mengenang jasa-jasa petugas PMI selama masa perjuangan bangsa Indonesia.

Baca juga: Hari Radio Republik Indonesia, Kunjungi Museum Radio Antik di Kota Bandung

"Ide untuk membentuk badan kepalangmerahan sudah ada sejak sebelum kemerdekaan, tapi sulit untuk melaksanakannya dalam iklim penjajahan waktu itu," ujar penulis dalam buku tersebut.

Organisasi kepalangmerahan pra-kemerdekaan

Pada masa penjajahan, terdapat sebuah organisasi Palang merah yang bernama Nedelandsche Reode Kruis Afdeeling Indonesia (NERKAI). Akan tetapi, organisasi tersebut tidak memberikan pelayanan merata pada semua penduduk.

Diorama di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta DOK, kebudayaan.kemdikbud.go.id Diorama di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta DOK, kebudayaan.kemdikbud.go.id

"Mereka hanya berfokus pada penolongan terhadap warga kelas atas atau warga kulit putih," tutur Pamong Budaya Ahli Muda bagian Bimbingan dan Edukasi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Mahtisa Iswari kepada Kompas.com, Kamis (16/9/2021).

Kondisi masyarakat penduduk Indonesia yang memprihatinkan akibat penjajahan melahirkan keinginan untuk mendirikan kepalangmerahan.

Baca juga: Koleksi Museum 9/11 AS, Bukti Pilu Selasa Kelabu di WTC

Dua penggagas PMI

Pada awalnya, gerakan kepalangmerahan di Indonesia dilakukan tidak dalam naungan organisasi. Kekuasaan Belanda pada masa itu membuat para aktivis kepalangmerahan tidak berani mengajukan pembentukan organisasi.

Harapan kemudian datang dari Senduk dan Bahder Djohan. Kedua dokter tersebut merancang pembentukan Badan Palang Merah pada tahun 1938.

Ilustrasi PMI DOK. Shutterstock/MohammadridwanShutterstock/Mohammadridwan Ilustrasi PMI DOK. Shutterstock/Mohammadridwan

Sayangnya rancangan tersebut ditolak pemerintah Belanda pada masa itu. Pihak Belanda khawatir pembentukan kepalangmerahan di Indonesia dapat mengganggu situasi politik.

Setelah mengalami kegagalan pada masa pemerintahan Belanda, Senduk kembali mengajukan rancangan tersebut pada pemerintah Jepang yang saat itu berkuasa di Tanah Air.

Baca juga: 4 Pameran yang Bisa Disaksikan di Museum 9/11 World Trade Center, AS

Akan tetapi rencana pembentukan Badan Palang Merah tersebut kembali mengalami penolakan.

"Baru akhirnya cita-cita pembentukan PMI baru berhasil setelah kemerdekaan tepatnya pada tanggal 17 September 1945 dan mendapat pengakuan dari palang merah internasional itu tahun 1950," imbuh Mahtisa.

Diorama PMI di Museum Benteng Vredeburg

Sejarah panjang pendirian PMI dapat tergambar dalam salah satu diorama yang ada di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Diorama di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta DOK, kebudayaan.kemdikbud.go.id Diorama di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta DOK, kebudayaan.kemdikbud.go.id

"Diorama-diorama yang terdapat di Museum Benteng Vredeburg itu memang dibuat sengaja untuk merekam jejak perjuangan Bangsa Indonesia yang terjadi di Yogyakarta, termasuk di dalamnya adalah pembentukan Palang Merah Indonesia yang pada saat itu Yogyakarta sedang menjadi ibu kotanya," terang Mahtisa.

Museum Benteng Vredeburg berlokasi di Jalan Margo Mulyo Nomor 6, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.