Kompas.com - 18/09/2021, 13:01 WIB
  • Upaya orangtua untuk menyelamatkan anak-anaknya

Tapi Nauasan tidak sengaja menjatuhkan selempangnya saat memanjat pohon. Anjing penjaga yang ikut bersamanya membawa selempang itu ke Guru Hatia Bulan dan Nan Sindak Panaluan.

Sepasang suami istru itu bergegas menuju hutan saat mengetahui bahwa selempang itu milik putrinya. Setibanya di hutan, mereka kaget melihat si kembar menjadi satu dengan pohon.

Guru Hatia Bulan kembali ke desa untuk mencari bantuan dari Datu Parmanuk Holing. Keduanya langsung menuju ke hutan untuk menyelamatkan si kembar dengan kekuatan Datu.

Meski demikian, kekuatan Datu tidak seberapa. Dia pun ikut terisap ke dalam pohon. Guru Hatia Bulan mencari Datu lain untuk membantunya.

Mulai dari Datu Mallatang Malliting, Datu Boru Sibaso Bolon, Datu Horbo Marpaung, hingga Datu Jolma So Begu, semua turut membantu. Namun, mereka berempat juga terisap ke dalam pohon.

Baca juga:

20 Tempat Wisata Sekitar Danau Toba, Cocok untuk Pencinta Wisata Alam

Legenda Danau Toba, Tercipta akibat Amarah Putri Jelmaan Ikan

Indahnya Pemandangan Danau Toba dari Ketinggian di Geosite Sipinsur

Tujuh kepala kini terlihat di pohon itu. Guru Hatia Bulan menjadi gelisah. Akhirnya, dia beranjak ke Datu Parpansa Ginjang untuk meminta bantuan.

Tidak seperti Datu lain, dia membaca doa dan meminta sesaji dan tarian tor-tor. Saat seekor kerbau ditawari sebagai sesaji, dia memotongnya, lalu menebang pohon dan membawanya ke desa.

Guna menyeka kesedihan Nan Sindak Panaluan atas hilangnya kedua anaknya, pohon itu diukir menyerupai si kembar dan lima Datu yang mencoba untuk menolong mereka.

Ukiran juga dibentuk menyerupai anjing, dan hewan lain yang terhisap ke dalam pohon seperti kadal dan ular.

Bagian atas pohon diukir dengan ukiran Aji Donda dan dilengkapi rambut yang dibungkus benang tiga warna, yaitu putih, hitam, dan merah.

Tongkat Tunggal Panaluan yang dapat dilihat di rumah adat Batak Toba di Anjungan Sumatera Utara, TMII, Jakarta, Senin (13/9/2021).kompas.com / Nabilla Ramadhian Tongkat Tunggal Panaluan yang dapat dilihat di rumah adat Batak Toba di Anjungan Sumatera Utara, TMII, Jakarta, Senin (13/9/2021).

Pohon yang lambat laun dikenal sebagai Tunggal Panaluan selalu dibawa untuk menghibur sepasan suami istri itu.

Tunggal Panaluan dianggap hidup. Alhasil, mereka mempersembahkan upacara dan tari tor-tor untuk tongkat tersebut.

  • Dianggap sebagai tongkat sakti

Tongkat Tunggal Panaluan memiliki panjang sekitar 150-200 meter. Tunggal artinya adalah satu, sementara Panaluan artinya adalah mengalahkan.

Adapun, Tunggal Panaluan menggambarkan hubungan antara banua toru, banua tonga, dan banua ginjang.

Baca juga:

Mengutip situs resmi Pemerintah Kabupaten Samosir, ketiganya dipercaya oleh masyarakat Batak Toba sebagai bagian dari alam semesta.

Tunggal Panaluan dianggap sebagai tongkat sakti karena roh-roh yang bersemayam di dalamnya. Saat Guru Hatia Bulan meninggal, tongkat ini dipegang oleh Datu-datu dan hanya boleh dimiliki oleh mereka.

Tongkat yang dipercaya sebagai tempat tinggal para leluhur dikatakan dapat memanggil hujan, menyembuhkan penyakit, mengusir wabah, memberi berkah, serta melindungi rumah dan desa dari musuh.

Saat Belanda menjajah Indonesia, tongkat ini hilang. Banyak orang yang mencarinya karena percaya bahwa siapa pun yang memegangnya akan mendapat kekuatan.

Jika ingin melihat seperti apa bentuk tongkat Tunggal Panaluan, kamu bisa berkunjung ke Anjungan Sumut di TMII yang memiliki replikanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.