Menelusuri Peristiwa G30S/PKI di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya

Kompas.com - 30/09/2021, 20:09 WIB

KOMPAS.com -  Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya merupakan saksi tragedi penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal TNI AD yang bermula dari 30 September 1965. Tragedi terebut dikenal dengan nama G30S/PKI.

Monumen tersebut dibangun sebagai penghormatan bagi korban yang gugur dalam peristiwa tragis itu. Wisatawan dapat menjumpai lokasi dan benda bersejarah yang berkaitan dengan G30S/PKI.

Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, monumen tersebut dibangun di sekitar lokasi pembuangan jasad para korban. 

Baca juga: Mengenal Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Saksi Peristiwa G30S/PKI

Monumen Pancasila Sakti terketak di Jalan Pondok Gede, Lubang Buaya, Cipayung, jakarta Timur. Lokasi ini berada tak jauh dari Terminal Pinang Ranti, yaitu sekitar 17 menit perjalanan menggunakan mobil.

Berikut ini adalah jejak peristiwa G30S/PKI yang bisa ditemukan di Monumen Pancasila Sakti:

Sumur Maut

Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur DOK. Shutterstock Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur DOK. Shutterstock

Sebelum dibangun menjadi monumen, kawasan tersebut awalnya berupa perkebunan dan tanah kosong. Lokasi tersebut menjadi tempat pembuangan jasad korban G30S/PKI.

Pengunjung dapat melihat sebuah sumur tua yang dulunya menjadi tempat jasad para Pahlawan Revolusi dibuang.

Sumur tua tersebut juga dikenal sebagai Sumur Maut ini memiliki kedalaman 12 meter (m) dan berdiameter 75 sentimeter (cm).

Adapun korban penculikan dan pembunuhan dalam tragedi tersebut antara lain, Letjen A. Yani, Mayjen TNI Suprapto, Majen TNI S. Parman, Mayjen TNI M.T. Hartono, Brigjen TNI Sutoyo, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, dan Lettu Piere Tendean.

Keberadaan sumur tersebut berhasil ditemukan pada 3 Oktober 1965 berkat Sukitman, saksi mata yang berhasil melarikan diri.

Jenazah ketujuh korban kemudian dievakuasi pada 4 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ketujuh korban tersebut juga diberi gelar Pahlawan Revolusi.

Baca juga: Keliling Saksi Bisu G30S/PKI, Ada Museum yang Dulu Rumah Pahlawan Revolusi

Rumah Penyiksaan

Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur DOK. Shutterstock Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur DOK. Shutterstock

Tak jauh dari sumur maut, terdapat sebuah rumah kecil yang dikenal dengan nama Rumah Penyiksaan. Serambi bangunan tersebut digunakan oleh kelompok G30S/PKI sebagai tempat penyekapan dan penyiksaan terhadap para tokoh TNI waktu itu.

Rumah itu awalnya dimiliki olah seorang simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) bernama Bambang Harjono, dan dulunya berfungsi sebagai Sekolah Rakyat.

Akan tetapi, sejak diserahkan pada PKI, bangunan tersebut kemudian beralih fungsi.

Kini pengunjung dapat menyaksikan diorama yang menggambarkan penyiksaan terhadap perwira TNI di dalam bangunan tersebut.

Diorama itu kabarnya berdasarkan hasil Berita Acara Pemeriksaaan (BAP) para pelaku penyiksaan dan pembunuhan dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Diorama itu juga dibuat berdasarkan kesaksian Sukitman.

Baca juga: Lettu Pierre Tendean yang Jadi Korban Peristiwa G30S/PKI

Pos Komando

Suasana pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 1989. Monumen Pancasila Sakti dibangun di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, di dekat sumur maut yang dijadikan tempat pembuangan mayat para perwira tinggi TNI AD korban pembunuhan pada awal Oktober 1965. Pelaku pembunuhan adalah prajurit-prajurit TNI AD menyusul peristiwa G30S yang terus menjadi kontroversi hingga sekarang. Setiap tahun di depan monumen tersebut dilaksanakan upacara bendera Hari Kesaktian Pancasila.KOMPAS/KARTONO RYADI Suasana pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 1989. Monumen Pancasila Sakti dibangun di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, di dekat sumur maut yang dijadikan tempat pembuangan mayat para perwira tinggi TNI AD korban pembunuhan pada awal Oktober 1965. Pelaku pembunuhan adalah prajurit-prajurit TNI AD menyusul peristiwa G30S yang terus menjadi kontroversi hingga sekarang. Setiap tahun di depan monumen tersebut dilaksanakan upacara bendera Hari Kesaktian Pancasila.

Pos Komando merupakan sebuah bangunan yang dulu digunakan Letkol Untung mempersipkan penculikan terhadap tujuh Jenderal TNI AD. Bangunan ini terletak tak jauh dari rumah penyiksaan.

Bangunan berukuran kecil tersebut dulunya merupakan rumah milik warga Lubang Buaya bernama Sueb.

Baca juga: Museum Ahmad Yani, Saksi Bisu Perjalanan Sang Jenderal Korban G30S/PKI

Pos Komando ini masih dijaga keasliannya, termasuk barang-barang yang ada di dalamnya. Pihak pengelola museum berupaya merawat lemari, meja, kursi, tempat tidur, mesin jahit, bufet, dan kamar depan yang sudah ada sejak peristiwa G30S/PKI terjadi.

Pengunjung juga dapat menjumpai beberapa bangunan lain, salah satunya dapur umum yang digunakan oleh kelompok G30S/PKI untuk mengolah makanan.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Kemdikbud
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.