Kompas.com - 13/02/2022, 15:20 WIB

KOMPAS.com - Candi Borobudur merupakan ikon dari Kota Magelang dan telah berdiri selama ratusan tahun.

Bahkan, seperti dikutip dari Kompas.com (25/10/2021), UNESCO telah menetapkan Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia pada 1991. Membuatnya menjadi situs budaya pertama di Indonesia yang masuk dalam situs warisan dunia atau world heritage list  UNESCO. 

https://www.kompas.com/skola/read/2021/10/25/150000269/alasan-unesco-menetapkan-borobudur-sebagai-situs-warisan-dunia

Dalam perjalanannya, ada ratusan pemugar yang telah berjasa menangani candi terbesar Buddha di dunia ini.

Menurut pihak Balai Konservasi Borobudur (BKB), terdapat 600 orang yang terlibat dalam pemugaran Candi Borobudur selama 1973-1983.

Nama-nama mereka akan diabadikan dalam sebuah prasasti di Kompleks Kenari Candi Borobudur.

Baca juga: Resmi, Candi Prambanan dan Borobudur Jadi Tempat Peribadatan Dunia

Gagasan ini bermula saat Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid sedang berkumpul bersama orang-orang lama untuk berdiskusi santai, tepatnya pada Oktober 2021.

"Pak Dirjen memerintahkan kami untuk buat prasasti, beliau memang ada keinginan memberikan penghargaan kepada para pemugar. Awalnya setelah ketemu para pensiunan sambil diskusi dan ngobrol santai," jelas Ketua BKB, Wiwit Kasiyati kepada Kompas.com, Jumat (11/02/2022).

Inisiatif Hilmar kemudian berkembang menjadi pencarian data oleh para pengurus BKB. Dengan bantuan para orang-orang lama dan pemugar yang masih hidup, data para pemugar cepat terkumpul.

"Kami kumpulkan datanya. Ditanyain siapa-siapa saja yang dulu terlibat, semua pemugar baik dari pelaksana, pimpinan, sampai pengamanan," lanjut dia.

Baca juga: Desa Wisata Karanganyar Borobudur Masuk 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia

Menurut Wiwit, nama-nama pemugar yang ditulis merupakan mereka yang terlibat mulai dari proses persiapan sampai peresmiannya.

Untuk diketahui, seperti dilansir Kompas.com dari Borobudurpedia, Candi Borobudur sendiri telah melalui pemugaran sebanyak dua kali.

Pertama, pada periode 1907-1911 yang dilakukan oleh Theodoor Van Erp.

Kemudian, pemugaran kedua dilakukan pada 1973-1983 oleh pemerintah Indonesia dan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

"Komite dari UNESCO, staf ahli dari ITB, UGM, UI, dari international expert, kontraktornya, semuanya lengkap," jelas Wiwit.

Ia menyampaikan, prasasti tersebut sudah selesai pada Desember 2021. Tingginya ditaksir sekitar tiga hingga empat meter dengan bahan batu buatan.

Baca juga: Candi Sukuh Karanganyar, Sekilas Mirip Piramida Suku Maya di Meksiko

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.