Kompas.com - 26/06/2022, 17:32 WIB

KOMPAS.com - Sebanyak 11 restoran di Playa de Palma, Mallorca, Spanyol mengeluarkan larangan masuk restoran bagi tamu-tamu yang mengenakan jersey sepak bola.

Selain jersey sepak bola, tamu yang mengenakan pakaian renang dan aksesori yang dibeli di pedagang kaki lima, seperti topi payung dan rantai emas juga tidak diizinkan masuk. 

Baca juga: Spanyol Dapat Penghargaan Destinasi Ramah Muslim Terbaik Tahun 2022

Mereka tak bisa begitu saja melepas pakaiannya tersebut. Sebab, tamu yang bertelanjang dada juga tak akan diizinkan masuk.

Distrik yang populer sebagai tempat berpesta ini rupanya punya alasan sendiri. 

Dikutip Kompas.com dari The Guardian, restoran-restoran tersebut melarang masuk tamu yang berpakaian jersey sepak bola dan pakaian renang karena sudah gerah dengan turis-turis pemabuk.

"Yang coba kami komunikasikan adalah gagasan bahwa untuk masuk ke sini Anda harus mandi atau berganti pakaian," ujar Juan Miguel Ferrer dari Palma Beach, seperti dikutip The Guardian.

"Anda tidak bisa datang ke sini dengan pakaian pantai atau datang langsung setelah minum-minum di pinggir jalan."

Baca juga: 10 Pantai Terindah di Eropa 2022, Ada yang Berpasir Keemasan

Langkah ini diambil setelah adanya "banjir" turis di daerah tersebut. Namun, lebih banyak turis yang lebih tertarik untuk minum-minum daripada mencoba kuliner lokal atau menikmati pesona pulaunya.

"Sejak 10 Mei, kami sudah mengalami itu, di mana sekelompok besar turis datang hanya ingin mabuk di jalanan atau pinggir laut, atau bahkan di pantai," ucapnya. 

Playa de Palma (Palma de Mallorca) di Spanyol, surga bagi para penyuka pesta. Sejumlah restoran di sana melarang tamu dengan jersey sepak bola dan pakaian renang untuk mengurangi tamu pemabuk.WIKIMEDIA COMMONS/Оливера Playa de Palma (Palma de Mallorca) di Spanyol, surga bagi para penyuka pesta. Sejumlah restoran di sana melarang tamu dengan jersey sepak bola dan pakaian renang untuk mengurangi tamu pemabuk.

Bagaimana restoran-restoran tersebut menerapkan aturan ini?

Dikutip dari Euro News, mereka akan meletakkan kode QR di pintu masuk dan tamu akan memindainya. Pemindaian itu memungkinkan tamu memeriksa apa saja yang boleh mereka pakai dan tidak untuk memasuki restoran.

Baca juga: Turki Resmikan Jembatan Canakkale 1915, Eropa-Asia Hanya 6 Menit

Aturan ini sedikit fleksibel untuk siang hari, namun mereka menegaskan tak ada toleransi untuk malam hari. Sebab, perilaku tamu yang mabuk relatif lebih parah pada malam hari.

Langkah pemerintah pangkas turis mabuk

Sejak 2020, Kepulauan Balearic telah menindak para turis pemabuk dengan sejumlah langkah demi mendatangkan turis-turis yang lebih "layak". Termasuk dengan menyusun undang-undang khusus.

Kebijakan ini berlaku untuk resor-resor di Magaluf, Playa de Palma, dan San Antonio di Ibiza.

Magaluf, Mallorca, Spanyol. Sejak 2020, Kepulauan Balearic menindak turis pemabuk. Ini sudah berlaku di resor-resor di Magaluf, Playa de Palma, dan San Antonio di Ibiza tempat para penyuka pesta.WIKIMEDIA COMMONS/Liilia Moroz Magaluf, Mallorca, Spanyol. Sejak 2020, Kepulauan Balearic menindak turis pemabuk. Ini sudah berlaku di resor-resor di Magaluf, Playa de Palma, dan San Antonio di Ibiza tempat para penyuka pesta.

Destinasi-destinasi yang populer di kalangan para "partygoers" ini sudah melarang penawaran terkait, seperti penawaran minum sepuasnya dan happy hour, demi menekan konsumsi alkohol berlebih.

"Ini bukan jenis pariwisata yang kami inginkan atau apa yang layak diterima oleh penduduk lokal," ujar Presiden Kepulauan Balaeric Francina Armengol awal tahun ini, seperti dikutip Euro News.

Baca juga: Ibiza, Kota dengan Pantai Indah dan Gemerlap Dunia Malam

Meski begitu, para pengusaha lokal menilai kebijakan dalam undang-undang tersebut kurang efektif dan menciptakan suasana yang tidak menguntungkan bagi mereka.

Selain masih banyaknya turis yang datang hanya untuk minum-minum alih-alih menikmati keindahan tempat tersebut, pengeluran (spending) para turis juga tidak besar.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kompas Travel (@kompas.travel)

Menurut Ferrer dan pengusaha lainnya di Praya de Palma, Pedro Marin, para turis umumnya hanya menghabiskan sekitar 40 Euro per hari atau setara Rp 600.000. Uang itu umumnya dikeluarkan untuk membeli alkohol atau bir kaleng yang mereka minum di jalan.

Ketika kembali ke penginapannya dini hari, sebagian turis bahkan dalam kondisi sangat mabuk sehingga susah atau tidak bisa berjalan dan tergeletak di trotoar.

Baca juga: Sejarah Panjang Masjid-Katedral Cordoba di Spanyol

"Ketersediaan alkohol di hotel-hotel mungkin bisa dikendalikan, namun masalahnya mereka minum itu di jalan," ujar Ferrer dan Marin.

Adapun, seorang sumber dari pemerintah mengatakan kepada The Guardian bahwa undang-undang tersebut baru akan berlaku sepenuhnya pada musim panas ini.

Sumber tersebut juga menegaskan komitmen pemerintah dalam mengurangi pariwisata berbasis alkohol yang selama ini banyak terjadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.