Kompas.com - 15/09/2022, 17:08 WIB

KOMPAS.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno akan mengunjungi Canggu, Bali, pada Jumat (16/09/2022) besok.

Salah satunya untuk bertemu dengan para pelaku pariwisata setempat, terkait petisi mengenai polusi suara di Canggu yang diunggah melalui laman change.org.

Baca juga: Canggu Bali Disebut Berisik karena Kelab Malam, Ini Kata Kemenparekraf

Untuk diketahui, petisi tersebut ditujukan pada sejumlah pihak, termasuk Presiden Joko Widodo, dirinya, Gubernur Bali I Wayang Koster, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, dan beberapa pemangku kepentingan lainnya.

"Agendanya besok, kami mau bicara sama para pelaku di sana. Ini yang perlu kita jaga bersama agar kesepakatan ini dipatuhi, agar kenyamanan wisatawan, dan masyarakat setempat, kearifan budaya lokalnya tetap dijaga," kata Sandiaga seusai penandatanganan nota kesepahaman Indonesia-Belanda di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis (15/09/2022).

Sandiaga menambahkan, modernisasi tetap boleh dilakukan, termasuk dalam hal pariwisata. Namun, akar-akar kearifan lokal budaya ideaalnya tetap dijaga.

Baca juga: 9 Wisata Pantai di Tabanan Bali, Tak Cuma Tanah Lot

Termasuk, peraturan perundangan-undangan yang berlaku di tempat dan wajib dipatuhi oleh semua pihak.

"Sehingga harapan bapak presiden untuk lebih menarik kunjungan dari wisatawan berkualitas yang memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang usaha, berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja itu bisa kita wujudkan," pungkasnya.

 

Pantai Berawa CangguUNSPLASH/SERGEY CHUPRIN Pantai Berawa Canggu

Pada kesempatan yang sama, seusai penandatanganan nota kesepahaman bersama Belanda, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu turut menyinggung masalah serupa yang dihadapi Negeri Kincir Angin.

Baca juga: Seharian di Kebun Raya Bali, Bisa Apa Saja?

Ia menyebutkan bahwa Belanda juga memandang bahwa pariwisata yang tepat tidak hanya fokus meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga berusaha mempertahankan kearifan lokalnya.

Sebab, dampak pariwisata haruslah positif bagi warga sekitar, bukan justru menimbulkan ketidaknyamanan.

"Walikota Amsterdam sempat melontarkan bahwa pariwisata yang lebih diyakini sebagai pariwisata yang tepat, menghargai kearifan lokal dan budaya, bukan hanya fokus pada kunjungan wisatawan yang mengakibatkan mungkin rasa tidak nyaman bagi masyarakat setempat," imbuhnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kompas Travel (@kompas.travel)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.