Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/11/2022, 07:03 WIB

KOMPAS.com - Keris suvenir yang kerap ditemukan sebagai cinderamata dan pelengkap busana, pada hakekatnya tidak bisa dikatakan sebagai keris, melainkan benda menyerupai keris.

Sebab keris suvenir umumnya tidak memiliki dua unsur utama, yakni besi dan pamor (meteorit, siderit, dan aerolit), yang harus ada dalam benda warisan Nusantara ini.

"Kan ada juga keris suvenir yang tujuannya bukan untuk pusaka, bukan untuk seni, melainkan untuk oleh-oleh, itu kan bisa dibuat dari besi yang dicor, atau logam yang dipanaskan hingga cair, lalu dituang dan dibentuk, dirapikan dengan gerindra hingga bentuknya menyerupai keris," ujar Pengamat Keris Dayu Handoko kepada Kompas.com.

Baca juga: Keris pada Masa Lalu, Empu Cari Meteorit Jatuh di Gunung dan Sungai

Pernyataan itu ia sampaikan di pameran "Keris Indonesia for Peace and Humanity," di Jakarta Pusat, Selasa (22/11/2022).

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kompas Travel (@kompas.travel)

Dayu mengatakan, tak jarang pula keris suvenir dibuat dari seng, bukan besi, sehingga tidak memenuhi kaidah sebagai keris.

Lantas, bisakah keris asli dibeli sebagai suvenir?

Ternyata, kamu bisa membeli keris asli sebagai suvenir. Namun, kamu harus memesan keris kepada empu (ahli pembuat keris) yang akan membuatkan keris sesuai kebutuhan calon pemiliknya.

"Keris itu melambangkan perwakilan diri. 'Oh, ini kerisnya si A, ini kerisnya si B'. jadi itu memang dipesan khusus untuk dirinya," terang Dayu.

Baca juga: Keris Tidaklah Asli Tanpa Dua Material Ini, Simak Penjelasannya

Biasanya untuk membuat sebilah keris, seorang empu bisa membutuhkan waktu paling singkat satu bulan.

Pameran keris bertajuk Keris For Peace and Humanity di Bentara Budaya Jakarta, berlangsung mulai 23-27 November 2022.Kompas.com/Wasti Samaria Simangunsong Pameran keris bertajuk Keris For Peace and Humanity di Bentara Budaya Jakarta, berlangsung mulai 23-27 November 2022.

"Kalau yang membuat empu, itu ada proses kontemplasi, identifikasi keris untuk tujuan apa, ada doa dan melibatkan rasa dari sang empu dalam pembuatan keris itu," tutur Dayu.

Berbeda dari perain keris yang dapat memproduksi keris suvenir dalam hitungan hari, seorang empu memerlukan waktu hingga satu minggu untuk menempa sebilah keris.

Baca juga: Keris, Pusaka Lambang Persatuan Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi

"Kalau pengrajin kan dia membuatnya massal, bisa jadi dalam hitungan hari karena mengejar aspek ekonomi, Kalau empu, untuk keris sederhana saja bisa memakan waktu satu bulan, dari proses menempa keris sampai finishing warangka (penutup keris)," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+