Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/12/2022, 06:06 WIB

LOMBOK, KOMPAS.com - Penculikan biasanya merupakan salah satu tidakan kriminal. Namun, penculikan menjadi sebuah tradisi yang hingga kini masih dilakukan warga Desa Wisata Sasak Ende.

Bermukim di Sengkol, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), para perempuan yang diculik sudah tak terhitung jumlahnya.

Namun, jangan salah karena penculikan ini merupakan tradisi pernikahan yang memang harus dilakukan warga Sasak Ende.

Baca juga: 3 Keunikan Desa Sasak Ende, Rumah Adat hingga Kopi Dicampur Beras

Pemandu wisata sekaligus warga Sasak Ende bernama Alvin menyebutkan, aksi penculikan dalam rangka nikah lari ini dikenal dengan nama merari.

“Orang Sasak kenal dengan istilah merari. Nah, kenapa dikatakan sebagai menculik, kesannya kriminalitas, akan tetapi itu adalah kesepakatan orang Sasak,” kata dia kepada Kompas.com, Sealsa (6/12/2022).

Penculikan bukan nikah paksa

Ia mengungkapkan, aksi penculikan ini bermula terjadi saat dua sejoli saling mencintai. Kepada perempuan idamannya, sang pria akan terlebih dahulu menyatakan bahwa dia akan menculik.

Perjanjian ini, menurut Alvin, tidak boleh bocor atau terdengar hingga ke kuping orangtua sang perempuan. Namun, aksi penculikan masa kini lebih mudah dilakukan berkat adanya gadget.

Baca juga: Uniknya Rumah Adat Sasak Ende Lombok, Lantainya Dilapisi Kotoran Sapi

Dengan demikian, perjanjian untuk menculik bisa disampaikan melalui aplikasi berkirim pesan seperti Whatsapp dan sejenisnya.

Alvin melanjutkan, usai diculik, perempuan akan dibawa menuju rumah orangtua penculik atau rumah kepala dusun/aparat setempat.

“Awalnya janjian, (sang pria bilang) nanti malam kamu (perempuan), saya culik. Si cewek ini lalu dilarikan ke rumah kepala dusun atau rumah orangtua yang cowok,” ujarnya.

Tempat wisata bernama Desa Wisata Sasak Ende di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (SHUTTERSTOCK/Marc Stephan).SHUTTERSTOCK/Marc Stephan Tempat wisata bernama Desa Wisata Sasak Ende di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (SHUTTERSTOCK/Marc Stephan).

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+