Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Hari Raya Galungan dan Kuningan? Simak Bedanya 

Kompas.com - 03/01/2023, 20:08 WIB
Ulfa Arieza

Penulis

KOMPAS.com - Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan hari suci umat Hindu. Kedua hari raya tersebut diperingati hanya berselang sepuluh hari.

Berdasarkan informasi dari Kalender Bali Digital (KBD) yang mengacu pada penanggalan Saka Bali, Hari Raya Galungan 2023 jatuh pada Rabu, 4 Januari 2023 dan Rabu, 2 Agustus 2023.

Sedangkan, Hari Raya Kuningan jatuh pada Sabtu, 14 Januari 2023 dan Sabtu, 12 Agustus 2023.

Baca juga: Kapan Hari Raya Galungan dan Kuningan 2023? 

Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan diselenggarakan sebanyak dua kali setahun pada penanggalan masehi, karena diperingati setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali berdasarkan Kalender Saka Bali.

Lantas, apa itu Hari Raya Galungan dan Kuningan

Ketua Paruman Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, Hari Raya Galungan adalah simbol kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

“Hari Raya Galungan dirayakan sebagai simbol kemenangan dharma atas adharma, atau kebenaran menang melawan tidak benar,” terangnya kepada Kompas.com, Selasa (3/1/2023).

Baca juga: 20 Ucapan Hari Suci Galungan dalam Bahasa Indonesia dan Bali 

Warga membawa sejumlah sesaji saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.AFP/SONNY TUMBELAKA Warga membawa sejumlah sesaji saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.

Hari Raya Galungan diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Rabu kliwon wuku Dungulan. Pada saat Hari Raya Galungan, lanjutnya, umat Hindu melakukan sembahyang utamanya di pura keluarga seperti di sanggah atau merajan, dan pura lainnya.

“Sehari setelah Hari Raya Galungan, disebut manis Galungan di Bali umat Hindu biasanya saling mengunjungi ke rumah keluarga demikian juga ke rumah teman,” imbuhnya.

Baca juga: Makna Hari Raya Kuningan yang Masih Serangkaian dengan Galungan

Sementara itu, Hari Raya Kuningan adalah hari pemujaan kepada Sang Hyang Widi karena umat Hindu meyakini para dewa, bhatara, diiringi oleh para pitara turun ke dunia.

“Hari Raya Kuningan sebagai hari pemujaan kepada Hyang Widi beserta manivestasinya, karena diyakini pada Hari Raya Kuningan, beliau turun ke dunia  dari kahyangan memberikan berbagai anugerah kepada umat manusia seperti kemakmuran, kekuatan, kebijaksanaan, dan lainnya,” tutur I Gusti Ngurah Sudiana. 

Baca juga: Rangkaian Kegiatan Hari Suci Galungan yang Penuh Makna

Serupa, Hari Raya Kuningan diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Sabtu pada wuku Kuningan. Umat Hindu juga melakukan sembahyang di pura saat Hari Raya Kuningan. 

Pada hari suci ini, umat Hindu meyakini para dewa, bhatara, diiringi oleh para pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, seperti dikutip dari laman Sistem Informasi Desa Sarimekar Kecamatan Buleleng.

Setelah setengah hari, maka para dewata kembali ke kahyangan. Oleh sebab itu, pelaksanaan upacara dan sembahyang Hari Raya Kuningan hanya sampai tengah hari saja.

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Kompas Travel (@kompas.travel)

 

Warga membawa sejumlah sesaji saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.AFP/SONNY TUMBELAKA Warga membawa sejumlah sesaji saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.

Beda Hari Raya Galungan dan Kuningan 

Meskipun masih berada dalam satu rangkaian dengan jeda sepuluh hari, namun Hari Raya Galungan dan Kuningan berbeda.

Berikut beda Hari Raya Galungan dan Kuningan, seperti dihimpun Kompas.com.

Baca juga: 4 Fakta Hari Raya Kuningan, Kembalinya Arwah Leluhur ke Surga

Waktu perayaan

Hari Raya Galungan diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Rabu kliwon wuku Dungulan. Sedangkan, Hari Raya Kuningan diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Sabtu pada wuku Kuningan.

“Hari Raya Kuningan beda dengan Hari Raya Galungan karena Kuningan jatuh pada Sabtu atau saniscara wuku Kuningan,” terang  I Gusti Ngurah Sudiana. 

Baca juga: Makna Hari Raya Kuningan yang Masih Serangkaian dengan Galungan

Ilustrasi melakukan rangkaian ritual di Pura Tirta Empul. SHUTTERSTOCK/SONY HERDIANA Ilustrasi melakukan rangkaian ritual di Pura Tirta Empul.

Makna perayaan

Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali I Gede Pitana mengatakan, Hari Suci Galungan adalah momentum menyambut turunnya para dewa dan leluhur ke bumi untuk menemui keturunannya.

"Galungan itu dewa-dewa dan leluhur turun, semua atman-atman (roh) yang sudah suci akan turun dari surga menemui keturunannya di dunia," jelas I Gede Pitana, dikutip dari Kompas.com, Rabu (8/6/2022).

Sebaliknya, Hari Raya Kuningan digelar untuk merayakan kembalinya para dewa dan leluhur ke surga, setelah bertemu keturunannya di dunia. 

"Kalau Kuningan, dewa-dewa leluhur kembali ke surga. Puncaknya tetap di Galungan. Kuningan itu mereka sudah kembali," jelas Pitana. 

Baca juga: Tradisi Mekotek, Adu Nyali di Puncak Tumpukan Kayu pada Hari Raya Kuningan

Sembahyang 

Mengutip Kompas.com, Rabu (8/6/2022), umat Hindu dapat melakukan sembahyang dari pagi hingga sore pada saat Hari Raya Galungan.

Sementara, sembahyang pada Hari Raya Kuningan hanya bisa dilakukan dari pagi hingga siang pukul 12.00 waktu setempat.

Alasannya, setelah pukul 12.00 siang, para dewa dan leluhur sudah kembali ke surga setelah bertemu dengan keturunannya di bumi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com