Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Faktor yang Pengaruhi Membaiknya Tren Wisata di Dunia hingga Akhir 2024

Kompas.com - 19/05/2024, 07:07 WIB
Krisda Tiofani,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mastercard Economics Institute (MEI) mencatat perkembangan pesat dunia pariwisata hingga akhir 2024 mendatang.

Melalui laporan bertajuk “Travel Trends 2024: Breaking Boundaries” perkembangan industri pariwisata ini terjadi di setidaknya 74 negara, termasuk 13 negara di kawasan Asia Pasifik.

"Industri pariwisata di kawasan Asia Pasifik melakukan hal sangat baik. Jepang di Asia Pasifik, menjadi destinasi terfavorit bagi wisatawan dari seluruh dunia," jelas David Mann, Chief Economist, Asia Pacific, Mastercard, dalam virtual media briefing Mastercard, Kamis (16/5/2024).

Baca juga: 10 Destinasi Wisata Global Paling Menarik Selama Setahun, Ada Bali

Perkembangan pesat industri pariwisata dunia dilihat dari sejumlah faktor. Mulai dari transportasi hingga durasi berwisata yang meningkat.

1. Maskapai penerbangan dan kapal pesiar

MEI melihat 9 dari 10 hari pengeluaran tertinggi secara global untuk industri penerbangan terjadi pada 2024, dihitung hingga Maret 2024.

Ilustrasi kapal pesiar.Shutterstock/GreenOak Ilustrasi kapal pesiar.

Hal yang sama juga terjadi pada industri kapal pesiar. Ini berarti, 9 dari 10 hari pengeluaran tertinggi sepanjang masa tercatat selama tiga bulan pertama 2024.

Baca juga: Pulau Flores Diharapkan Jadi Pusat Destinasi Wisata Religi Katolik di Indonesia

Menurut data ini, MEI memprediksi bahwa wisatawan dari seluruh dunia akan mengutamakan lebih banyak anggaran untuk berwisata, demi pengalaman dalam perjalanan.

2. Durasi berlibur lebih lama

Selanjutnya, MEI menyimpulkan bahwa wisatawan secara global, menurut data hingga Maret 2024, menghabiskan satu hari lebih banyak untuk berlibur.

Ilustrasi berlibur. Freepik/tawatchai07 Ilustrasi berlibur.

Sementara di Asia Pasifik, rata-rata wisatawan menghabiskan sekitar 1,2 hari lebih banyak dalam sekali perjalanan pada periode yang sama.

"Dibandingkan dengan 2019, masa tinggal wisatawan untuk berlibur setelah Covid-19 rata-rata lebih lama satu hari," ungkap David.

Baca juga:

Secara global, wisatawan menghabiskan rata-rata 5,5 hari dalam sekali perjalanan, sementara sebelum pandemi Covid-19, durasi berliburnya hanya 4,5 hari.

Wisatawan Asia Pasifik, kecuali Australia dan Selandia Baru, menghabiskan 7,4 hari dalam satu kali liburan. Sebelum Covid-19, hanya 6,1 hari dalam sekali perjalanan.

3. Materi versus pengalaman

MEI juga menyoroti bagaimana wisatawan lebih banyak memilih pengalaman daripada materi selama berlibur pada 2024.

Hal ini bisa dilihat dari tren belanja kasual yang meningkat, bila dibandingkan dengan belanja mewah. Begitu juga dengan pemilihan sarapan.

Pengunjung anak-anak berlatih membajak sawah di Desa Wisata Pentingsari.Dokumentasi Desa Wisata Pentingsari Pengunjung anak-anak berlatih membajak sawah di Desa Wisata Pentingsari.

Kecuali Thailand, rata-rata turis di ASEAN memilih santapan di restoran kasual daripada restoran mewah.

"Wisatawan Australia merupakan kelompok yang paling memprioritaskan pengalaman dan hiburan malam saat liburan," kata David.

Baca juga: Australia Kenalkan Destinasi Wisata Selain Sydney dan Melbourne

Rata-rata wisatawan Australia menghabiskan 19 persen dari bujet berliburnya untuk pengalaman dan hiburan malam selama liburan.

Begitu juga dengan wisatawan dari daratan China yang menghabiskan 10 persen dari anggaran liburan untuk hiburan malam, selama perjalanan wisata per 2024. Naik tujuh persen dari 2023 lalu.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com