Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemda DIY Tak Khawatir Wisatawan Turun Imbas Larangan Study Tour Beberapa Daerah

Kompas.com - 19/05/2024, 15:06 WIB
Wisang Seto Pangaribowo,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kota Yogyakarta optimistis pelarangan study tour di beberapa daerah tidak akan diikuti oleh daerah lainnya.

"Kami optimistis apa yang ada kejadian di subang itu sebenarnya tidak jadi umum," ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko saat dihubungi, Minggu (19/5/2024).

Lanjut Wahyu sampai sejauh ini Dispar Kota Yogyakarta belum melihat adanya larangan resmi yang diterapkan oleh daerah-daerah di luar Kota Yogyakarta.

Baca juga: Soal Study Tour, Gibran: Jangan Dihilangkan

"Sejauh ini belum ada sepanjang pengamatan kami daerah-daerah yang melarang secara resmi pelaksanaan study tour dengan bus karena memang belum ada aturan baku yang melarang itu semua," kata dia.

Di sisi lain, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap yakin kebijakan larangan study tour yang diberlakukan beberapa daerah tak pengaruhi jumlah wisatawan.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kompas.com (@kompascom)

"Kalau saya kok belum yakin (wisatawan bekurang). Iya karena itu bagian daripada pendidikan praktik di lapangan yang mereka perlu," kata Sekretaris Daerah DIY Beny Suharsono, Minggu (19/5/2024).

Ia melanjutkan, hanya ada sedikit daerah yang melarang study tour dan masih banyak daerah lain yang mengizinkan.

Pembelajaran penting bagi siswa

Lanjut Beny, di dalam study tour para siswa siswa tidak hanya berkunjung ke suatu daerah. Setelah berkunjung, mereka membuat rangkuman atau tulisan apa yang sudah dikunjungi selama study tour.

Tugas-tugas yang diberikan dari pihak sekolah masing-masing ini menurut Beny adalah salah satu bentuk pembelajaran merdeka.

Baca juga: Tolak Larangan Study Tour, PHRI DIY: Awasi Kelayakan Kendaraan

"Tidak hanya sekedar pergi, mesti mereka banyak cerita yang mereka lihat. Itu proses pembelajaran yang kita anggap sekarang adalah proses pembelajaran merdeka belajar kan experience ada di situ," kata dia.

"Misalnya datang ke wisata museum, tidak melihat benda mati, melainkan bisa mengeksplorasi zaman dulu ke masa depan," ujar Beny.

Menurut dia, pembelajaran akan kurang maksimal apabila siswa tidak melihat langsung benda bersejarah atau hanya melihat foto di internet.

Lebih selektif memilih moda transportasi

Beny menambahkan, kasus kecelakaan di Ciater menjadi perhatian bagi sekolah khususnya yang ada di Yogyakarta agar lebih teliti dalam memilih moda transportasi yang digunakan untuk study tour.

Bahkan, lanjut dia, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga sudah mengingatkan supaya ada standar yang harus dipenuhi oleh para pengusaha biro perjalanan.

"Kalau kami kata pak Gubernur boleh (study tour) asal standar (memenuhi standar), standar armada yang digunakan itu betul-betul laik untuk jalan," ujarnya.

Wajah asli bus pariwisata yang mengalami kecelakaan di Kabupaten Subang, Sabtu (11/5/2024) berdasarkan hasil penelusuran Pengamat Transportasi sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi (MTI), Djoko SetijowarnoKOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Wajah asli bus pariwisata yang mengalami kecelakaan di Kabupaten Subang, Sabtu (11/5/2024) berdasarkan hasil penelusuran Pengamat Transportasi sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi (MTI), Djoko Setijowarno

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com