Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Peneliti di Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM). Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Kompas.com - 20/05/2024, 15:43 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BELUM lama ini, persinggungan saya dengan daerah Kabupaten Dompu di Provinsi Nusa Tenggara Barat akhirnya membawa saya ke salah satu spot pantai yang indah, bernama Pantai Lakey.

Berjarak sekitar 45-50 menit perjalanan dari Ibu Kota Kabupaten Dompu, posisi Pantai Lakey sebenarnya cukup mudah dijangkau. Sejatinya bisa menjadi destinasi pariwisata yang bisa mendatangkan pundi-pundi pendapatan, baik bagi pemerintah daerah setempat maupun bagi masyarakat setempat.

Ombak Pantai Lakey menjadi salah satu daya tarik para turis asing penggemar olahraga selancar (surfing) untuk berlama-lama tinggal di sana.

Sepanjang mata memandang ke arah laut di Pantai Lakey, “bule” penggemar surfing memang menjadi obyek pemandangan tambahan yang menghiasi indahnya pantai.

Begitu pula dengan penikmat café-shop, hotel, dan homestay yang ada di sekitaran Pantai, rerata adalah turis asing pecinta olahraga selancar.

Saya sempat bertemu dan berdiskusi dengan beberapa wisatawan dari Amerika Serikat, Bulgaria dan Belanda di Pantai Lakey.

Di tengah alunan musik dan buaian kopi, mereka dengan senang menceritakan pengalamannya datang ke Lakey, berselancar di atas ombak laut Lakey, dan bercengkerama dengan sesama turis asing di Lakey.

Bagi mereka, Lakey adalah surga tersembunyi yang menawarkan pengalaman berwisata sekaligus menikmati hobi dengan biaya murah.

Sebagian turis tersebut menempuh jalur darat dari Bali ke Lombok, lalu menyeberang ke Pulau Sumbawa dengan menggunakan kendaraan roda dua.

Sebagian kecil bahkan membawa papan selancarnya bersama kendaraan roda dua tersebut. Sebagian kecil lainnya memilih jalur yang sama, tapi mengirimkan papan selancarnya terlebih dahulu dengan menggunakan jasa ekspedisi.

Sementara sebagian lainnya menggunakan jalur udara dari Lombok menuju Bandara di Kabupaten Bima, lalu menggunakan jasa rental kendaraan roda empat menuju Pantai Lakey di Dompu. Semuanya berjalan secara alami, tanpa dukungan dan intervensi otoritas terkait.

Setelah menikmati dan mencermati Pantai Lakey, nyatanya sampai hari ini Pantai ini baru sebatas surga bagi para turis asing, terutama turis yang ingin menikmati hobi berselancar.

Jarang sekali ditemukan wisatawan lokal, kecuali masyarakat lokal yang bekerja di beberapa sektor usaha wisata di sana.

Sehingga ekosistemnya sama sekali belum mencerminkan ekosistem Pariwisata Pantai sebagaimana yang ada di Lombok atau Bali maupun di lokasi wisata pantai lainnya di Tanah Air.

Jalan yang kurang terawat, sampah yang berserakan, amenitas yang sangat terbatas, tata kelola kawasan yang masih “seadanya”, dan “atraksi” yang tidak dibenahi adalah pemandangan yang menemani mata kita saat pertama kali memasuki kawasan Lakey.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com