Senin, 21 April 2014

/ Megapolitan

Pemeriksaan John Kei Terhalang Sakit Gula Darah

Sabtu, 18 Februari 2012 | 14:02 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto mengatakan, pascapenangkapan pada Jumat (17/2/2012) tadi malam, John Kei belum dapat dimintai keterangan.

Pasalnya, kondisi kesehatan pria yang diduga menjadi otak pelaku pembunuhan bos PT Sanex Steel Indonesia (SSI) itu belum memungkinkan akibat peningkatan gula darah. "Sebelum dilakukan tindakan medis, ternyata yang bersangkutan punya penyakit gula darah mencapai 500, sehingga belum bisa dilakukan pemeriksaan," ujar Rokwanto saat konferensi pers di gedung Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Sabtu (18/2/2012).

John Kei ditembak di bagian betis sebelah kanan saat ditangkap di kamar kamar 501 Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur, tadi malam. Penembakan tersebut terpaksa dilakukan karena pria yang identik dengan aktivitas premanisme tersebut mencoba melawan dan melarikan diri. John pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Kramat Jati, Jakarta Timur untuk mendapatkan perawatan.

"JK itu tertembak di bagian betis kanan, kemudian harus segera diobati termasuk dioperasi segera, tapi tunggu hal medis itu sendiri," lanjutnya.

Dalam penangkapan tersebut, kata Rikwanto, polisi mengerahkan sebanyak 75 personil untuk mengantisipasi aksi anarkis yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Kini, John Kei masih dirawat di ruang Tembesu RS Polri setelah semalam berada di ICU rumah sakit tersebut.  Sebanyak 25 petugas keamanan dari Detasemen D Brimob dan 10 petugas kepolisian dari Polsek Kramat Jati diterjunkan untuk pengamanan di sekitar tempat pria asal Maluku tersebut dirawat.

Pada kasus ini, lima tersangka sudah ditahan di Polda Metro Jaya. Mereka adalah C, A, T, DN, dan KP. Sementara untuk masing-masing perannya, Rikwanto mengatakan pihaknya masih mendalaminya.

"Inilah yang akan kita dalami kembali tentang peran-perannya. Kita menggunakan analisa digital forensik berkaitan dengan rekaman 13 CCTV di lobi, lift dan koridor lantai atas," lanjutnya.

Berdasarkan pengakuan para tersangka, pembunuhan terhadap Ayung dilakukan karena Ayung berjanji akan membayarkan upah Rp 600 juta atas jasa penagihan utang (debt collector) yang dilakukan ketiganya. Namun, sesampainya di kamar hotel, ternyata uang itu tidak juga di dapat. Akhirnya, salah satu pelaku mengeluarkan pisau kemudian menusuk pelaku yang diikuti pelaku lainnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Asep Candra