Senin, 21 April 2014

News / Travel

Pengunjung Bromo Batuk-batuk dan Sesak Napas

Minggu, 16 September 2012 | 20:16 WIB

Baca juga

PROBOLINGGO, KOMPAS.com - Sejumlah pengunjung dari ratusan pengunjung yang memadati obyek wisata Gunung Bromo di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (16/9/2012), mengalami batuk-batuk dan sesak napas. Hal itu disebabkan oleh abu dan pasir beterbangan karena angin kencang.

Tak hanya karena terpaan angin, para wisatawan yang berjalan seenaknya serta kuda pengantar wisatawan yang melaju kencang ke kawah Bromo turut membuat kawah Bromo diselimuti debu selama sekitar 4 jam mulai pukul 06.00 hingga 10.00. Akibat kejadian itu, baik turis lokal maupun turis mancanegara tampak terbatuk-batuk.

Yang paling parah adalah anak kecil yang ikut berwisata. Banyak di antara mereka merengek minta gendong dan pulang karena mengalami sesak napas. Hal itu dialami oleh pengunjung yang hendak naik ke kawah Bromo. Kebanyakan pengunjung yang batuk dan sesak napas adalah pengunjung yang tidak mengenakan masker.

Pasir tebal yang menutupi tangga menuju kawah tak kalah ganas dan membuat pengunjung kian menderita. Tangga turun maupun tangga naik ke kawah membuat pasir berhamburan. Para pengunjung bahkan harus berhenti saat menaiki tangga untuk membersihkan debu dan pasir di mulut dan hidungnya.

Di antara mereka ada yang mengurungkan niat untuk naik ke kawah. Di bawah, puluhan pengunjung hanya melihat perjuangan pengunjung lain yang harus berjibaku dengan debu dan pasir hanya untuk pergi ke kawah. Tak sedikit pula yang tak berani menaiki tangga. "Engak usah naik sudah, ini sudah enggak kelihatan jalannya," kata Ifa Oktavia, pengunjung asal Kecamatan Kraksaan, kepada suaminya.

Selain turis domestik, wisatawan mancanegara juga enggan naik ke kawah setelah melihat debu dan pasir menutupi pemandangan Gunung Bromo. "No!" kata salah satu turis asing sambil mengusap matanya. Turis tersebut batal naik ke kawah Bromo.

Yang naik maupun yang turun dari kawah tak luput dari debu yang beterbangan. Sejumlah pengunjung bahkan harus memejamkan mata sambil berjalan. Kadang mereka bergantian berjalan memejamkan mata dengan pasangannya. Tak ada yang menjual masker saat itu. Namun, pada saat menjelang siang, penjual masker yang sebelumnya berjualan di pintu masuk, mendadak sudah berada di bawah tangga kawah.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Probolinggo, Ahmad Faisol
Editor : Laksono Hari W