Kompas.com - 20/07/2015, 18:41 WIB
Naik bendi secara berkelompok hingga belasan doker ala warga Polewali Mandar, Sulawesi Barat. KOMPAS.COM/JUNAEDINaik bendi secara berkelompok hingga belasan doker ala warga Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
|
EditorI Made Asdhiana
POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Warga Polewali Mandar, Sulawesi Barat punya cara unik bersilaturahim pascalebaran yakni menggunakan belasan delman atau bendi secara berkelompok. Mereka berkeliling kampung mengunjungi sanak keluarga, tokoh masyarakat dan ulama untuk membangun ukhuwah persaudaraan.

Selain mengunjungi sanak keluarga, mereka juga berziarah ke makam sanak keluarga dan makam para ulama ternama di Polewali Mandar. Cara unik ini dianggap sebagai salah satu cara mentradisikan atau melanggengkan ciri khas Islam Nusantara yang tidak memandang latar belakang agama, adat istiadat, suku, etnis, dan budaya.

Dengan menggunakan bendi tradisional yang masih menjadi sarana transportasi sebagian desa di Polewali Mandar, warga asal Kecamatan Pambusuang berkeliling kota dan desa menyapa sanak keluarga, tokoh masyarakat, ulama bahkan ke makam-makam Raja Balanipa pascalebaran.

KOMPAS.COM/JUNAEDI Naik bendi secara berkelompok ala warga Polewali Mandar, Sulawesi Barat, untuk mengunjungi keluarga pascalebaran, Senin (20/7/2015).
Abdul Syahid, salah satu warga Pambusuang yang ikut melestarikan tradisi ala desa di Polewali Mandar ini mengatakan, tradisi bersilaturahim menggunakan delman seperti ini lebih membangun suasana kebersamaan dengan sanak keluarga yang terpisah desa dan kecamatan. Saling mengunjungi sanak keluarga, tokoh masyarakat secara berkelompok dinilai Abdul Syahid sebagai bentuk aktualisasi Islam Nusantara yang kian pudar seiring munculnya tradisi modern yang lebih cenderung mengedepankan budaya hedonistis yang individualis.

Menurut Rasyid, tradisi bersilaturahim secara berkelompok kepada sanak keluarga yang terpisah kampung, dusun dan kecamatan ini dulu sering dilakukan warga desa pascalebaran. "Inilah salah satu bentuk aktualisasi Islam Nusantara yang tidak memandang latar belakang budaya, suku, dan agama. Sayangnya tradisi ini kian terkikis zaman akibat munculnya budaya-budaya modern," ujar Abdul Syahid, Senin (20/7/2015).

Bendi silaturahmi ini selain hemat biaya juga dipercaya bisa membangun suasana kebersamaan dan kekeluargaan pascalebaran serta minim kecelakaan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kampanye Muslim Friendly Korea, Cara Korea Gaet Wisatawan Indonesia

Kampanye Muslim Friendly Korea, Cara Korea Gaet Wisatawan Indonesia

Travel Update
Pengalaman Work From Bali, Kalau Mumet Bisa ke Pantai

Pengalaman Work From Bali, Kalau Mumet Bisa ke Pantai

Jalan Jalan
7 Obyek Wisata yang Tidak Boleh Dilewati di Kawasan Bromo dan Semeru

7 Obyek Wisata yang Tidak Boleh Dilewati di Kawasan Bromo dan Semeru

Jalan Jalan
Seluruh Obyek Wisata Kabupaten Bandung Tutup Sepekan Sampai 21 Juni

Seluruh Obyek Wisata Kabupaten Bandung Tutup Sepekan Sampai 21 Juni

Travel Update
Traveloka dan Citilink Gelar Promo Diskon Tiket Pesawat 20 Persen

Traveloka dan Citilink Gelar Promo Diskon Tiket Pesawat 20 Persen

Travel Promo
5 Fakta Seputar Penerbangan Misterius, Mengapa Sangat Diminati?

5 Fakta Seputar Penerbangan Misterius, Mengapa Sangat Diminati?

Travel Update
10 Maskapai Penerbangan Paling Tepat Waktu Se-Asia Pasifik 2021, Indonesia Termasuk

10 Maskapai Penerbangan Paling Tepat Waktu Se-Asia Pasifik 2021, Indonesia Termasuk

Travel Update
PT KAI Luncurkan KA Nusa Tembini Jurusan Cilacap-Yogya 2 Juli 2021

PT KAI Luncurkan KA Nusa Tembini Jurusan Cilacap-Yogya 2 Juli 2021

Travel Update
Tebing Laut Ngungap Gunungkidul, Obyek Wisata Alam Tebing dan Lautan

Tebing Laut Ngungap Gunungkidul, Obyek Wisata Alam Tebing dan Lautan

Jalan Jalan
Penerbangan Misterius di Korea Selatan Laris Manis, Ditumpangi Belasan Ribu Penumpang

Penerbangan Misterius di Korea Selatan Laris Manis, Ditumpangi Belasan Ribu Penumpang

Travel Update
Jangan Nekat, Wisatawan Jakarta Dilarang ke Bandung Selama Sepekan

Jangan Nekat, Wisatawan Jakarta Dilarang ke Bandung Selama Sepekan

Travel Update
Malindo Air Mulai Uji Coba IATA Travel Pass

Malindo Air Mulai Uji Coba IATA Travel Pass

Travel Update
Paket Wisata Vaksin, Turis Indonesia Berkesempatan Dapat Vaksin Covid-19 di AS

Paket Wisata Vaksin, Turis Indonesia Berkesempatan Dapat Vaksin Covid-19 di AS

Travel Update
4 Aktivitas Seru Saat Wisata ke Taman Langit Malang

4 Aktivitas Seru Saat Wisata ke Taman Langit Malang

Jalan Jalan
30 Wisata Hits di Malang 2021, Banyak Spot Foto Kekinian

30 Wisata Hits di Malang 2021, Banyak Spot Foto Kekinian

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X