Kompas.com - 15/12/2019, 15:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia terkenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari memesona, termasuk spot diving yang jadi daya tarik bagi para turis melihat keindahan berbagai terumbu karang di Indonesia.

Sayangnya, kendati memiliki banyak situs terumbu karang, masih banyak yang kurang atau bahkan tidak terawat.

Perlu kesadaran serta peran serta banyak pihak untuk keberlangsungan hidup terumbu karang.

Biorock Indonesia, kumpulan beberapa ahli dalam bidang rehabilitasi terumbu karang, memiliki tiga program khusus yang secara aktif berpartisipasi dalam rehabilitasi terumbu karang Indonesia.

Ketiga program tersebut adalah program coral garden, scholar reef, dan bio experience.

Apa yang menarik dari program-program tersebut?

Coral garden, misalnya, merupakan sarana mengajak perusahaan-perusahaan di berbagai bidang dengan kegiatan CSR mereka untuk ikut berpartisipasi mengadopsi garden-garden terumbu karang yang telah ada.

"Selain itu mau bikin coral garden sendiri bisa. Kalau buat perorangan selain perusahaan bisa juga adopt baby coral," kata Direktur Biorock Indonesia Tasya Karissa kala ditemui Kompas.com di acara Gelar Wisata Bahari 2019 pada Kamis (12/12/2019).

"Kalau orangnya kebetulan diver bisa juga berpartisipasi sebagai coral gardener. Menanam coral garden-nya sendiri," lanjutnya.

Program kedua adalah scholar reef. Program beasiswa ini diberikan pada mahasiswa atau masyarakat umum yang ingin menjadi citizen scientist atau peneliti warga di bidang terumbu karang.

Dalam program ini, para peserta tidak dikenakan biaya apa pun.

Para peserta yang sudah terpilih melalui sistem seleksi ketat ini kemudian akan dibimbing mengenai pemeliharaan terumbu karang lewat berbagai pembelajaran online.

"Kita kasih sebulan untuk belajar lewat online. Biar fleksibel, seperti kelas-kelas gitu. Kalau nilainya cukup, baru dia boleh turun ke lapangan untuk langsung praktik di sembilan titik site terumbu karang kita," katanya. 

Tak hanya belajar dan praktik langsung saja, para peserta scholar reef ini juga akan dibekali dengan materi pembuatan blog dan vlog untuk menyebarkan kegiatan Biorock Indonesia dalam konservasi terumbu karang.

Para peserta scholar reef akan berperan sebagai corong informasi untuk masyarakat awam yang kurang informasi mengenai konservasi terumbu karang.

Untuk beasiswa sendiri hanya dibuka kuota 100-150 orang per tahunnya. Karena ketatnya seleksi, maka Biorock pun membuka jalur mandiri bagi masyarakat yang berminat untuk mengikuti program scholar reef ini.

"Untuk one day program harus menyiapkan sekitar Rp 1,5 juta ya. Tapi tergantung materi mana yang mau dipilih," kata Tasya.

"Khususnya untuk orang asing memang harus bayar ikut program ini karena nantinya uang dari mereka akan dipakai untuk beasiswa scholar reef untuk orang Indonesia. Ini yang kami sebut impact tourism," lanjutnya.

Program ketiga adalah bio experience. Menurut Tasya, program ini jadi program yang paling menjawab permasalahan utama dalam rehabilitasi terumbu karang.

Program ini merupakan program wisata di mana Biorock akan memberikan bantuan berupa edukasi dan fasilitas lainnya untuk agen-agen wisata pengelola situs wisata di mana coral garden berlokasi.

"Kebanyakan orang mau membuat karang tapi tidak mau merawat. Jadi lokasi wisata akan memungkinkan wisatawan untuk snorkeling dan diving di area terumbu karang yang direhabilitasi," kata Tasya.

"Selain itu ada edukasi juga soal cara bikin biorock, yaitu biorock introduction," lanjutnya.

Nantinya, Biorock akan memberikan bantuan rehabilitasi dan edukasi pada para pengelola wisata lokal yang berada di situs coral garden.

Edukasi diberikan untuk memastikan pengetahuan para fasilitator memenuhi standard untuk bisa memberikan edukasi yang baik dan benar.

Biorock juga akan bekerja sama dengan berbagai agen travel untuk menawarkan paket wisata yang bisa membantu masyarakat lokal dalam merawat situs rehabilitasi terumbu karang.

Untuk bisa mencoba paket wisata biorock experience ini, tiap peserta harus menyiapkan kira-kira Rp 500.000 per pax tergantung tiap penyedia tour.

"Kami membantu agar kapasitas masyarakat pengelola sesuai dengan standard agen tour tersebut," kata Tasya.

"Supaya nantinya wisata bisa jadi alat konservasi, bukan wisata yang merusak. Kita membantu pengelola lokal untuk bisa dapat tamu saja," lanjutnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.