Sabtu, 30 Agustus 2014

/ Travel

Wow... Sawah Laba-laba, antara Labuan Bajo-Ruteng

Senin, 29 Maret 2010 | 18:11 WIB

KOMPAS.com - Siang, 18 Mei 2009, kami bertandang ke Hotel Bintang Flores, hotel berbintang 4 yang letaknya sedikit jauh dari keramaian. Hotel ini memiliki 60-an kamar dan yang paling murah berharga Rp 1 juta. Hotel Bintang Flores memiliki interior yang cantik. Pasti akan jauh berbeda dibanding hotel kebanyakan yang ada di Labuan Bajo. Terdapat kolam renang dan kursi leyeh-leyeh di mana kita bisa memandang ke lautan lepas.

Kamar di hotel ini pun tertata apik. Sewajarnya hotel bintang 4. Ditambah furnitur yang masih baru menambah kesan eksklusif hotel ini. Buat Anda yang memiliki dana berlebih, menginap di hotel Bintang Flores bisa jadi pilihan yang asik. Walaupun, menginap di Hotel Wisata, Gardena, Golo HillTop atau Bajo Eco Logde juga bukan pilihan buruk. Asal hati senang, menginap di mana saja pasti akan nyaman.

Kampung Gorontalo

Masih di jalan yang sama dengan Hotel Bintang Wisata. Berkendara mobil, kami melanjutkan jalanan tersebut. Tak ada yang tahu kemana jalan itu akan berakhir. Beberapa saat meninggalkan Hotel Bintang Wisata, tampak sebuah padang rumput hijau yang luas. Layaknya ranch milik orang berpunya, puluhan sapi gendut berkeliaran dengan bebasnya. Gimana gak ndut, rumput ijo royo-royo pasti mbikin kamu glegekan kekenyangan….

Tak jauh dari rumput hijau, mulai tampak kampung kecil. Upss…kemana larinya rumput hijau?? Tak nampak lagi di sini. Kami disambut rumah-rumah panggung berwarna-warni. Di desa , kami berkenalan dengan mbak Puji, salah satu penghuni Desa Gorontalo. Siang itu, mbak Puji tampak asik menimang anaknya. Di pintu rumah panggung mereka yang sederhana, tampak ibu mbak Puji yang sudah sepuh memperhatikan anak dan cucunya. Dalam obrolan singkat kami, mbak Puji bercerita tentang penduduk asli Kampung Gorontalo yang memang berasal dari tanah Sulawesi sana.

Bermata pencaharian nelayan, kampung Gorontalo mungkin termasuk dalam kantung-kantung penduduk miskin di Indonesia. Hmmm, rumah yang seadanya, tanah gersang hingga sanitasi yang kurang memadai menjadi pertanda yang meyakinkan. Apalagi ditambah cerita mbak Puji, ”Sudah 2 tahun, di sini tidak ada air. Kami mandi pakai air payau, untuk minum kami beli seember seribu”.

Betapa saya yang malas mandi merasa tertampar mendengar cerita ini. Setelah mencandai sapi gemuk gara-gara surplus rumput, sekarang kami harus menyaksikan fenomena kebalikannya. Ahh, bumi Flores memang unik luar biasa. Rumput hijau bisa berubah lahan tandus dalam sekejap mata.

Semoga mbak Puji dan warga Kampung Gorontalo lainnya mendapat pencerahan untuk masalah krusial ini. Jadi saat kami berkunjung (lagi) nanti, Kampung Gorontalo sudah beralaskan rumput hijau… Amin...

Lembor, sawah membentang menuju Ruteng

Merasakan “kejamnya” jalur trans Flores adalah alasan utama saya melancong di mari. Sejak kecil, saya yang anak kampung hobi sekali naik mobil (hobi yang aneh!). Maka, saya akan senang sekali dengan ajakan…”Jkt-Solo PP” atau ”lintas Sumbar” dan sekarang saya ingin membuktikan serunya trans Flores.

Menaklukkan jalanan Flores, tidak hanya dibutuhkan niat yang kuat, tapi stamina yang terjaga dan kemampuan menjaga mood agar tetap ada pada level ”susah senang tetap senang”.

Sesuai rencana jalanan Flores akan kami taklukkan dalam waktu 7 hari. Dengan alasan kenyamanan dan efisiensi waktu, kami memilih untuk me-rental mobil dibanding menggunakan transportasi umum. Walaupun, transportasi umum di Flores sudah bagus. Banyak Avanza, APV dan L300 yang beralih fungsi menjadi travel. Pengen pesan travel ke kota tujuan di Flores? Cukup hubungi petugas hotel tempat Anda menginap. Mereka akan membantu memesankan travel dan Anda akan dijemput di depan hotel langsung!

Jalan menuju Ruteng berkelok-kelok, beberapa kali kami melewati kampung-kampung kecil, melewati hutan, ngarai dan lembah, pemandangan bukit hijau dengan hamparan laut lepas di belakang yang terkadang nampak jelas bila kabut sedang terangkat angin. Yanto, driver kami benar-benar bisa diandalkan. Dia lincah menghindari jalan berlubang, dengan belokan-belokan tajam bahkan di beberapa titik tampak sisa-sisa longsor dari bukit batu yang kami lintasi.

Driving skill dan intuisi tajam diperlukan dalam mengendarai mobil di sini. Lamanya perjalanan dikarenakan kondisi jalan yang berkelok-kelok setiap saat, membelah bukit dan gunung. Pemandangan yang sangat indah….

Dan tibalah kami di sebuah tempat terbuka. Kemana pun mata memandang hamparan sawah menguning di kiri jalan dan padang rumput yang luas di kanan jalan. Latar belakang pucuk-pucuk gunung, awan biru putih yang menggantung rendah, beberapa rumah mungil menjadi aksen yang membuat pemandangan di depan mata kami tampak sangat filmis.

Ya, daerah ini adalah Lembor, daerah penghasil beras di pulau Flores. Saat kami melintas di jalan raya Lembor, musim panen baru saja lewat. Petani yang sedang mengeringkan padi pun jadi tampak indah. Jalan beraspal lurus dengan tiang listrik berdiri rapi di sisi kanan dan kiri mengingatkan saya pada hasil lukisan saya yang seadanya saat masih duduk di SD. Benar-benar lukisan-Nya.

Sawah Lingko: sawah laba-laba di desa Cara

Selepas dari Lembor, Yanto membawa kami ke desa Cara yang masuk dalam wilayah Cancar. Di sini kami akan menyaksikan salah satu budaya masyarakat Manggarai Barat dalam hal pembagian harta (sawah) adat, yaitu Sawah Lingko. Sistem pembagian ini adalah satu-satunya yang ada di dunia.

Setelah melapor pada kepala dusun, kami segera naik ke atas bukit agar bentuk laba-laba lebih jelas terlihat. Dan semakin jelas karena saat kami datang musim panen baru saja berlalu. Garis-garis pembatas sawah (galengan sawah) semakin jelas terlihat dari pucuk bukit tempat kami berdiri.

Wow…benar-benar menyerupai laba-laba raksasa. Jaring laba-laba yang berwarna kuning kecoklatan. Penduduk asli menyebutnya dengan Sawah Lodok, sesuai dengan tata cara pembagian tanah ulayat dalam masyarakat adat Manggarai, NTT. Tanah-tanah adat yang disebut Lingko dibagi kepada warga dengan sistem lodok, yaitu membagi lingko dimulai dari teno di pusat lingko. Kemudian menarik garis lurus (jari-jari) hingga batas terluar tanah lingko tersebut.

Besarnya pembagian tergantung pada jumlah warga yang akan menerima, dimana pembagian besarnya jaring-jaring nya tergantung pada kedudukan orang tersebut di desa yang bersangkutan. Dikenal istilah moso biasa (satu jari), moso kina (satu setengah jari) dan moso wase (tiga jari). Pemimpin atau tuan tanah biasanya mendapat moso wase (tiga jari) yang merupakan ukuran paling besar. Sedangkan warga lainnya akan menerima moso biasa (satu jari) atau moso kina (satu setengah jari).

Hmmm, menarik sekali. Sawah lingko ini seakan melengkapi kecantikan Flores yang sukses membuat saya jantungan tiba-tiba. Jadi kapan Anda mampir ke Cara dan menyaksikan sendiri laba-laba raksasa di sana?? (Ririn Datoek)

 

Artikel lainnya bisa dilihat di http://wisata.kompasiana.com


Editor : made
Sumber: