Jumat, 19 September 2014

/ Bisnis & Keuangan

Perombakan Kabinet

Mendag Baru Harus Perketat Kebijakan Impor

Selasa, 18 Oktober 2011 | 07:52 WIB

Berita Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Kalangan pengusaha berharap Menteri Perdagangan yang baru memperketat kebijakan impor agar tidak "membunuh dan melumpuhkan" industri manufaktur serta UMKM di dalam negeri.

Bambang Soesatyo, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, menyatakan, momentum reshuffle kabinet merupakan peluang bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjukkan kepedulian pada upaya revitalisasi potensi ekonomi dalam negeri.

"Tindakan paling strategis yang dibutuhkan saat ini adalah membentuk tim ekonomi kabinet yang militan, beranggotakan menteri-menteri yang tahu betul hakikat kepentingan nasional dan kepentingan rakyat," kata politikus Partai Golkar tersebut dalam siaran persnya, Selasa (18/10/2011).

Posisi Mari Elka Pangestu sebagai Menteri Perdagangan akan digantikan Gita Irawan Wirjawan yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Sementara Mari dikabarkan akan digeser menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Menurut Bambang, ketergantungan pada bahan pangan impor tak terhindarkan karena niat merevitalisasi sektor pertanian dan perkebunan tanaman pangan dilaksanakan setengah hati.

Di sektor industri dan UMKM, kebijakan impor yang demikian longgar malah menjadi faktor yang mematikan potensi ekonomi rakyat di dalam negeri. Impor komoditas pangan tahun ini bisa mendekati angka Rp 60 triliun. Sebab, dalam periode Januari-Juni 2011 saja, nilai impor pangan sudah mencapai Rp 36,2 triliun.

Sebagai acuan atau perbandingan, total nilai impor bahan pangan per 2009 tercatat Rp 51,97 triliun. Komoditas yang diimpor meliputi gandum, jagung, beras, tepung terigu, kacang kedelai, susu, gula, daging sapi, hingga garam dan cabai. Petumbuhan impor produk industri pun terbilang sangat cepat.

Tahun 2010, nilai impor mesin dan peralatan tercatat 18 miliar dollar AS, produk elektronik 14 miliar dollar AS, produk otomotif dan komponennya 13 miliar dollar AS. Paling menggelisahkan tentu saja melihat pertumbuhan impor produk China di pasar dalam negeri.   

"Akibat banjir produk impor yang tak terkendali, khususnya dari China, produktivitas sektor industri dan UMKM anjlok. Selain itu, volume penjualan produk lokal turun sangat tajam. Akibatnya, kemampuan sektor industri dan UMKM dalam penyerapan tenaga kerja pun semakin menyusut," ujar anggota Komisi III DPR tersebut.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Sidik Pramono
Editor : Robert Adhi Ksp