Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Titik Nol (70): Perjuangan Demi Visa Pakistan

Kompas.com - 07/11/2008, 07:59 WIB

Orang Indonesia di India banyak jumlahnya. Kedutaan ini pasti sibuk sekali. Saya merasakan suasana dingin ketika menunggu kesediaan Sang Bapak untuk berjumpa dengan saya. Ada juga seorang ibu yang menunggu dengan cemas karena paspornya dicuri orang waktu naik kereta murah dari perbatasan Nepal ke New Delhi. Gara-gara paspornya hilang, fotokopi visa India tak ada, dan tak ada bukti masuk dari Nepal, si ibu tak bisa pulang. Sudah bolak-balik ia datang ke KBRI, setelah dipingpong dalam ruwetnya birokrasi India. Hampir menangis ia bercerita, “Saya cuma ingin pulang. Masa pulang saja tak boleh?”

Bapak Diplomat akhirnya bersedia meluangkan waktunya setelah kami menunggu selama berjam-jam. Untuk kasus saya, Yang Mulia Bapak Diplomat tampak tidak terlalu tertarik mendengar cerita saya. Dengan gaya diplomasi tingkat tinggi yang tidak pernah langsung mengatakan ‘ya’ dan ‘tidak’, sang Bapak meminta saya mencari jalan sendiri, untuk menolong diri saya sendiri dan menolong Kedutaan.

           “Kami tidak bisa mengeluarkan surat,” katanya, “karena di mana-mana visa itu harus diajukan di negara asal. Untuk apa kami menerbitkan surat kalau ternyata kedutaan Pakistan juga akan menolaknya? Anda kan penulis, mestinya punya banyak cara.. Sudah ya mas, tolonglah kami juga.”

Pintu tertutup.

Mbak staf lokal menghibur saya.
          “Susah memang sekarang. Sudah sejak dua tahun ini pejabatnya ganti. Pejabat yang ini memang susah memberikan surat, kami pun sebagai staff juga susah. Pejabat yang lama, keturunan India, kebalikannya. Semua orang minta surat, dikasih surat. Orang Indonesia minta surat, dikasih. Orang India minta surat, dikasih. Dulu pusing, sekarang juga pusing.”

Ibu ini masih berusaha memikirkan jalan supaya saya bisa mendapatkan visa Pakistan.

          “Bagaimana kalau ketemu diplomat yang lain?”.. Sudah saya coba, hasilnya sama nihilnya.
         
          “Bagaimana kalau mengirim surat pada kedutaan Indonesia lainnya minta bantuan?” Tetapi lucu juga kalau saya minta KBRI Uzbekistan mengirimkan faks untuk ‘menekan’ KBRI New Delhi menerbitkan surat untuk visa Pakistan. Tidak masuk akal.

           “Bagaimana kalau menulis surat untuk Pak Duta Besar? Di sini yang paling berkuasa adalah Bapak Dubes. Kalau Pak Dubes setuju, maka tentu saja Bapak Diplomat Konsuler tidak bisa menolak.”

           “Bagaiamana kalau minta tolong KBRI Beijing? Kan kamu dulu pernah tinggal di sana?

           “Bagaimana kalau minta tolong KBRI Islamabad? Siapa tahu mereka bisa menjadi sponsor visa?”

Selusin saran dan ide terus mengalir dari bibir cantik ibu staf lokal itu. Kepala saya pening. Nasib perjalanan ini semakin kabur. Pakistan adalah negara yang harus dilewati dalam perjalanan menuju barat ini, satu-satunya perbatasan India ke arah barat. Apakah saya terpaksa berhenti di sini gara-gara birokrasi negara saya sendiri?


(Bersambung)

_______________
Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus  Wibowo di Kompas Forum. Buruan registrasi!

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com