Kompas.com - 29/03/2013, 15:39 WIB
EditorI Made Asdhiana

”Sebagian besar waktu Sunan Gunung Jati digunakan untuk melakukan perjalanan ke desa-desa dan selalu menggunakan Paksi Naga Liman yang ditarik oleh enam kerbau,” kata Harja. Penggunaan kerbau sebagai penarik kereta diperkirakan disesuaikan dengan jalan desa dengan kontur tanah berbatu.

Kereta lain yang menjadi koleksi Museum Keraton Kanoman adalah kereta Jempana yang dibuat pada tahun yang sama dengan kereta Paksi Naga Liman. Kereta ini, menurut Elang Harja, dikhususkan bagi permaisuri raja. Satu hal yang menarik, kereta Jempana dihiasi ukiran wadasan dan mega mendung. Jika sekarang banyak lukisan serta batik cirebonan menggunakan ornamen wadasan dan mega mendung, diperkirakan berasal dari hiasan di kereta Jempana.

Menurut kerabat keraton, Cepi Irawan, yang sehari-hari menempati paviliun tua di kiri bangunan keraton, sejak awal berdiri, Kasultanan Cirebon sebenarnya lebih berfungsi sebagai keraton spiritual. Hal itu dipertegas dengan kehadiran Sunan Gunung Jati sebagai sultan. Begitu juga sebelumnya di masa perintisan keraton oleh Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuwana, seorang putra dari Kerajaan Pajajaran. Walangsungsang bahkan memeluk Islam dan membangun tempat tetirah bernama Witana yang terletak di bagian belakang Keraton Kanoman. ”Witana sampai kini dipercaya sebagai titik nol karena menjadi asal mula Kasultanan Cirebon,” ujar Cepi.

Pada sisi itu, Kasultanan Cirebon memiliki peran sangat penting, terutama dalam menyebarkan Islam. ”Namun, sebenarnya sejak dikuasai kompeni pada tahun 1800 kekuasaan keraton ini sudah habis,” kata Cepi. Praktis kini tak ada ikatan apa pun antara masyarakat sekitar dan keraton. ”Lihat saja pasar yang sudah menutup seluruh akses menuju keraton,” ujar Cepi. Pasar Kanoman didirikan oleh Belanda pada tahun 1924 di atas lahan milik keraton.

Dalam kata lain, saat ini Keraton Kanoman tak lebih dari gugusan bangunan tua yang tak mampu merawat dirinya sendiri. Meski masih memiliki Sultan Kanoman XII yang bergelar Sultan Raja Moch Emirudin, bukan tak mungkin bangunan-bangunan bersejarah serta segenap isi di dalamnya bakalan rontok dipukul usia. Dan sekali lagi sejarah cuma batu yang bisu, tak akan bicara jika tidak diberi makna sebagai tonggak perjalanan peradaban manusia. (Putu Fajar Arcana)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.