Berburu Aneka Motif Tenun Ikat Sikka di Kota Maumere

Kompas.com - 12/05/2019, 12:04 WIB
Aneka kain tenun ikat di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019). KOMPAS.com/NANSIANUS TARISAneka kain tenun ikat di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).

MAUMERE, KOMPAS.com - Tidak lengkap rasanya  berkunjung ke Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur jika belum membeli kain tenun ikat untuk oleh-oleh bagi keluarga di rumah.

Di kota Maumere, wisatawan lokal, nusantara, dan mancanegara tidak begitu susah mencari tempat jualan kain tenun ikat Sikka. Hampir setiap pasar di kota Maumere ada penjual kain tenun ikat itu.

Selain di pasar, warga Sikka sudah mulai membuka usaha kain tenun ikat dengan membuka galeri tenun.

Baca juga: Pesona Kain Tenun Ikat Tradisonal Sikka Menghipnotis Wisatawan

Galeri tenun menjadi sarana promosi kain tenun. Usaha ini sudah mulai banyak diminati para pebisnis dan pecinta tenun ikat di Maumere. Boleh dibilang, ini gaya baru mempromosikan kain tenun ikat Sikka kepada konsumen.

Salah satu yang tidak ketinggalan membuka galeri tenun ikat ini adalah ibu Anjelita Sonya Da Gama. Ia membuka galeri tenun ikat Sikka dengan nama 'Sonya Tenun'.

Baca juga: Mengenal Gong Waning, Musik Tradisional dari Sikka Flores

Galeri Sonya Tenun ini berada di Jalan Moa Toda, Kelurahan Kota Baru, Kabupaten Sikka. Galeri tenun ini berada di pusat kota Maumere.

Aneka kain tenun ikat di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).KOMPAS.com/NANSIANUS TARIS Aneka kain tenun ikat di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).
Beraneka motif dan warna kain tenun ikat yang dipajang untuk dijual di Sonya Tenun ini.

Sonya demikian ia disapa menuturkan, di Galeri Sonya Tenun menyiapkan segala macam yang berhubungan dengan budaya, seni, dan kerajinan dari 6 etnis yang ada di Kabupaten Sikka.

"Semuanya ada. Mulai dari Sikka, Sikka Iwang, Tana Ai, Palue, Kidung, dan Maumere Lio. Yang ada di sini itu kain-kain tenun ikat. Sementara ini, ada beberapa kain tenun yang dibuat tahun 70-an. Ke depan saya rencana kalau bisa semua motif kain tenun itu ada di sini. Jadi itu, untuk dijadikan museum mini kain tenun ikat," tutur Sonya kepada Kompas.com, Kamis (9/5/2019).

Ia menjelaskan produk-produk dari kain kain tenun ikat yang dijual di galeri itu beraneka ragam. Mulai dari tas, topi, anting, selendang, dompet, sandal, sepatu, bahkan ada gantungan kunci.

Ia mengatakan, aneka produk kain tenun yang dijual di galeri itu juga merupakan hasil kerja sama dengan UKM di luar kota.

Aneka kain tenun ikat di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).KOMPAS.com/NANSIANUS TARIS Aneka kain tenun ikat di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).
Sementara itu, untuk lembaran kain tenun dibeli dari langsung di penenun dari ujung perbatasan Flores Timur sampai di perbatasan Paga Ende.

"Konsep keduanya, tempat ini jadi tempat display buat teman-teman UKM yang ada di luar kota, kecamatan desa. Mungkin mereka tidak punya tempat untuk jualan, bisa dititip di sini," ungkap Sonya.

Ia mengaku memulai bisnin kain tenun ikat sejak tahun 2011. Inspirasinya muncul pada tahun 2010.

"Waktu itu banyak mengunakan batik. Dari situ muncul, mengapa tidak buat dari kain tenun ikat Sikka saja," kata Elis.

Ia mengungkapkan, bisnis kain tenun itu juga bertujuan untuk mempromosikan dan melestarikan kain tenun ikat Sikka. Setiap penjualan kain tenun dijelaskan filosofi dari setiap motifnya.

"Setiap orang yang datang beli itu, saya jelaskan arti motifnya," ungkap Sonya.

Aneka suvenir di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).KOMPAS.com/NANSIANUS TARIS Aneka suvenir di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).
Selama ini, ia memasarkan kain tenun ikat melalui sosial media seperti facebook, whattsapp, twiter, dan blogger. Dan daya jangkaunnya sudah lumayan luas.

"Di medsos orang bisa melihat motif yang dijual. Selama ini, semua motif diminati pembeli," kata Sonya.

Ia menerangkan, harga kain tenun ikat termahal itu mencapai Rp 1.300.000. Yang mahal-mahal itu kain dengan motif asli dan terbuat dari pewarna alam.

Ia menambahkan, berbelanja di galeri tenun itu tidak melayani bungkusan plastik. Di galeri sudah disiapkan tas kecil warna putih bergambar Pulau Flores dan bertuliskan: Welcome to Flores Island.

"Tas dan tulisan itu untuk promosi Pulau Flores yang kaya akan wisata alam, budaya, dan keseniannya," katanya.

Aneka suvenir di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).KOMPAS.com/NANSIANUS TARIS Aneka suvenir di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).
Ia pun menceritakan, berbisnis kain tenun ikat pasti ada suka dukanya yakni ketika stok motif yang diminta konsumen dalam jumlah banyak, tetapi stok di galeri kecil.

"Itulah yang saya alami selama ini. Itu terjadi karena kita masih kendala di dana," cerita Elis.

Bagi anda yang ingin membeli dan melihat aneka kain tenun ikat di Galeri Sonya, silahkan follow akun facebook, Sonya Da Gama dan nomor Whattsappnya, 081338921900. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X