Minggu, 26 Oktober 2014

/ Travel

Kereta Uap Kuno Ambarawa yang Eksotis

Rabu, 29 April 2009 | 11:48 WIB

Siapa yang belum pernah naik kereta api? Rasanya setiap orang pernah naik kereta api. Tapi, siapa yang sudah pernah naik kereta api uap dengan bahan bakar kayu jati? Hmm...rasanya tidak semua orang pernah naik kereta api jenis ini.

Jika Anda belum pernah merasakan naik kereta api uap dengan bahan bakar kayu jati, datanglah ke Ambarawa. Di sana kereta api kuno yang masih menggunakan prinsip-prinsip ketel uap temuan James Watt masih beroperasi.

Kota Ambarawa di Jawa Tengah, merupakan kota tua yang pada jaman kolonial Belanda merupakan daerah militer. Menjelang akhir abad ke-19  Raja Belanda ketika itu, Willem I, ingin mendirikan stasiun kereta api di kota itu guna memudahkan mengangkut pasukannya menuju Semarang.

Maka, pada, 21 Mei 1873 dibangunlah Stasiun Kereta Api Ambarawa di atas tanah seluas 127.500 meter persegi.  Stasiun itu kemudian dikenal dengan sebutan Stasiun Willem I.

Pada 1970an, kegiatan di stasiun itu mulai ditutup. Mula-mula yang dihentikan pengoperasiannya adalah jalur Ambarawa - Kedungjati - Semarang.  Pada 1976, layanan untuk lintas Ambarawa - Secang - Magelang, serta Ambarawa - Parakan - Temanggung juga ditutup.

Setelah penutupan kegiatan itu, Stasiun Kerata Api Ambarawa dijadikan Museum Kereta Api.  Peresmian museum dilaksanakan pada 8 April 1976 oleh Gubernur Jawa Tengah kala itu Supardjo Rustam bersama Kepala PJKA Eksploitasi Soeharso.

Sebanyak 21 lokomotif kuno yang menggunakan bahan bakar kayu yang pernah digunakan dalam pertempuran, khususnya kereta yang mengangkut Tentara Indonesia dalam perang menghadapi tentara Belanda, di abadikan di sana.

Museum Kereta Api Ambarawa merupakan satu-satunya museum kereta api berteknologi kuno yang digunakan sebagai  alat transportasi sejak masa-masa sebelum kemerdekaan Indonesia sampai dengan tahun 1964. Lokomotif yang ada di museum itu merupakan penarik gerbong yang  digerakkan dengan bahan bakar kayu dan batu bara. Tiga lokomotif di antaranya masih dapat beroperasi dengan baik.

Di museum itu juga terdapat tiga mesin hitung, tiga mesin ketik, beberapa pesawat telepon dan peralatan kuno lainnya yang dulu digunakan di stasiun tersebut.

Wisatawan yang datang ke museum itu akan disuguhi pemandangan alam yang indah, bangunan dengan arsitek kuno, dan lokomotif dengan menggunakan bahan bakar kayu dan batu bara. Pengunjung juga masih bisa menikmati perjalanan dengan kereta api kuno tersebut.  

Bergerigi

Stasiun Ambarawa memiliki lokomotif tua yang masih sanggup digunakan untuk mendaki  jalur pegunungan dengan roda bergigi.  Kereta bergerigi itu masih mampu berjalan pada kemiringan 30 derajat  menuju stasiun Bedono yang berjarak sembilan kilo meter dengan waktu tempuh satu jam dengan penumpang 80 orang.

“Untuk menikmati perjalanan wisata menggunakan kereta api uap bergerigi  buatan Jerman tahun 1902 dan dua gerbong buatan Belanda tahun 1911, wisatawan bisa menyewanya dengan harga Rp 3 juta,” kata Pujiyono, mekanik lokomotif tersebut.

Perjalanan dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Bedono akan diselingin dengan perhentian di Stasiun Jambu, beberapa saat. Di sana lokomotif dibalik arahnya. Untuk perjalanan dari Ambarawa, lokomotif berada di depan, dan sesampainya di Jambu, lokomotif itu harus berada di belakang. "Ya memang ini kami balik, karena dengan lokomotif di belakang kekuatannya akan lebih besar," kata Pujiyono.

Dari  Jambu kereta merayap menyusuri jalur yang semakin tinggi.  Selain merasakan eksotisme naik kereta api kuno, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan alam. Sepanjang perjalanan itu wisatawan disuguhi pemandangan hijaunya lembah-lembah di antara Gunung Ungaran dan  Gunung Merbabu yang menjulang tinggi..

Bahan bakar    

Lokomotif uap bergerigi itu membutuhkan waktu 2,5 jam untuk memanaskan 2000 meter kubik air dalam ketel uap. Kayu yang menjadi bahan bakarnya harus jenis kayu yang keras, seperti pohon jati. Setelah panas kereta pun dijalankan dengan kecepatan maksimal 45 kilometer per jam. Untuk mengoperasikan kereta tua itu diperlukankan masinis yang mengerti  proses pembakaran energi kereta kuno.

Dalam perjalanan dari Ambarawa menuju Bedono kereta akan berhenti lagi untuk mengisi air guna memanasi ketel uap. Air diambil dari parit kecil dengan pompa.  Saat kereta api berhenti  mengisi air para penumpang  dapat menggunakan kesempatan untuk mengambil gambar.    

"Ya maklum, namanya saja kereta kuno dan suku cadangnya saja sudah tidak ada. Sampai sekarang masih bisa jalannya saja itu beruntung," ujar seorang penumpang.

Melintasi Kota Solo

Pemerintah Kota Surakarta atau Solo berencana memboyong kereta uap kuno ini ke tengah kota. Direncanakan, Juni 2009 kereta kuno itu akan mulai beroperasi menempuh jalur dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Kota di Sangkrah.

Kereta kuno ini diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata Kota Solo. Untuk melaksanakan program itu,  Pemerintah Kota menganggarkan dana sebesar Rp 1,2 miliar dari APBD 2009. PT KAI menyatakan tidak keberatan dengan rencana tersebut.  


Editor :
Sumber: