Jumat, 24 Oktober 2014

/ Travel

Pisang Kapik, Penganan Incaran Turis

Jumat, 8 April 2011 | 12:42 WIB

ANIK, pengusaha pisang kapik itu, menjelaskan, setelah puluhan tahun malang melintang, pisang kapik itu sudah menjadi incaran turis. Sejumlah pembeli setia yang sebagian besar berasal dari luar Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, termasuk dari Jakarta, selalu menyempatkan diri mampir membeli pisang kapik.

Setiap akhir pekan, tidak kurang dari 500 buah pisang kapik tandas dibeli setiap hari dari setiap tempat berjualan. ”Kalau hari-hari biasa, sekitar 200 buah pisang kapik yang laku,” kata Anik.

Sebuah pisang kapik ditawarkan dengan harga Rp 2.500. Namun, calon pembeli biasanya langsung ditawari dengan harga satu paket, empat buah pisang kapik seharga Rp 10.000.

Kini relatif hanya pada tiga lokasi di kawasan Pasar Atas itulah bisa ditemukan pisang kapik. ”Orang lain pernah juga mencoba untuk membuat usaha seperti ini, tapi kemudian berhenti akibat tidak sabar karena pembeli kan terkadang juga sepi. Perputaran uangnya sulit,” kata Anik.

Ia mengatakan, dengan harga sebutir pisang kepok mentah yang bisa mencapai Rp 1.500, marjin keuntungan memang tipis. ”Kalau yang beli banyak, ya, untungnya banyak. Tapi kalau yang beli sedikit, ya, dapatnya sedikit,” ucap Anik.

Selain ditantang persoalan pembeli yang tidak pasti, usaha itu kini juga dihadapkan pada kendala relatif minimnya ketersediaan bahan baku. Pisang-pisang kepok jenis warna kuning itu khusus didatangkan dari Kabupaten Pasaman, Agam, dan Kota Padangpanjang yang kini jumlahnya makin berkurang.

”Kini pisangnya susah didapatkan,” kata Ita.

Pisang harus didatangkan dari tempat-tempat tersebut karena kualitas pisang kepok jenis kuning dari lokasi-lokasi itu diyakini sebagai yang terbaik. (INK)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: