Jumat, 25 Juli 2014

/

Cinta, Piano, dan Secangkir Kopi

Minggu, 7 Agustus 2011 | 02:23 WIB

Nur Hidayati

Bagi pasangan Addie MS dan Memes, rumah adalah tempat kencan terbaik, ruang untuk berkarya, dan tempat musik meriangkan batin. Selain itu, juga ruang menikmati kesendirian.

Memasuki rumah pasangan Addie MS (51) dan Memes (46), warna-warna lembut yang terang mendominasi: putih dan krem. Kemeriahan hanya hadir lewat ornamen hias yang tertata rapi, mulai dari boneka pajangan, lukisan, aneka lilin, hingga tanaman hias dalam rumah.

”Buat orang lain mungkin rumah ini kelihatan biasa-biasa saja, tetapi buat aku sudah menjadi karunia yang luar biasa,” ujar Addie music director dan konduktor Twilite Orchestra ini.

Addie berumpama, di rumahnya, jagat raya terasa seolah memancarkan frekuensi yang tepat menyambung ke dalam dirinya. ”Ada getaran yang pas,” katanya.

Melangkah sedikit dari ruang tamu, kelegaan terasa di ruang tengah rumah. Ruang tengah ini didesain menyambung dengan ruang makan, dapur kering, dan ”sudut kopi”—pojok bawah tangga, tempat mesin kopi Addie dan lemari camilan Memes.

Jajaran pintu kaca membatasi ruang tengah dengan kolam renang di halaman belakang. Bangunan rumah ini dibangun di atas lahan sekitar 500 meter persegi. Pasangan musisi dan penyanyi ini, serta kedua putra mereka, Kevin Aprilio (21) dan Tristan Juliano (14), tinggal di sini sejak 13 tahun lalu.

Di ruang tengah rumah pula, sebuah grand piano ditempatkan di salah satu sudut, seolah menandai kehadiran musik di rumah ini. Itu bukan satu-satunya piano di rumah ini. Pasalnya, piano adalah perangkat wajib dalam tiap kamar tidur di rumah ini.

Studio mini Addie, yang menyambung ke kamar tidurnya, dilengkapi piano, komputer, dan perangkat lain yang memungkinkan ia menulis komposisi musik. Studio mini itu juga bisa digunakan Kevin untuk merekam demo musik dan vokal Vierra—nama grup musiknya. Di kamar tidur Kevin, ditaruh pula piano dan keyboard. Sementara jenis piano di kamar Tristan menunjukkan seleranya yang mengarah klasik. Nyata sudah, musik memang belahan jiwa para penghuni rumah ini.

Bukan hanya perangkat musik yang menjadi properti pribadi masing-masing. Selera musik Addie, Memes, Kevin, dan Tristan, juga urusan pribadi masing-masing. Addie mendalami musik klasik; Kevin kini lebih tertarik pada pop Korea, pop Jepang, dan Disney; Tristan berminat pada aliran klasik dan rock; sedangkan Memes menggemari jazz dan R & B.

”Aku baru bisa ’ketemu’ sama mas Addie di pop jazzy,” ujar Memes yang Februari lalu meluncurkan album ke-9 bertajuk Acoustic Love.

Ritual sore

Addie menyebut dirinya sebagai orang ”rumahan”. Rumah baginya juga menjadi tempat ia mencari inspirasi dan bekerja. Di luar kepentingan pertunjukan, paling banyak hanya dua hari dalam sepekan Addie keluar rumah. Sebisa mungkin ia melakukan pekerjaan di rumah. Apalagi, beragam gadget kini sudah bisa membuatnya terus terkoneksi dengan dunia luar.

Di rumah pula Addie menikmati ”me time” yang paling berkualitas: tiap sore ia akan meracik sendiri secangkir kopi. Lalu ia tenteng kopi buatannya itu ke bangku di tepi kolam renang di halaman belakang, atau ke teras lantai atas, atau ke tepi kolam renang kompleks saat suasana di fasilitas permukiman yang tak jauh dari rumahnya itu sedang sepi.

Di bangku tepi kolam, berteman kopi dan iPod musik, Addie bisa melewatkan waktu hingga dua jam untuk mengisap cerutu. Itulah ritual sorenya. ”Dengan kopi, iPod, dan cerutu itu aku sebenarnya bukan cari inspirasi, tetapi justru mengosongkan pikiran, melepas semua kepenatan,” ujarnya.

Tepi kolam renang di halaman belakang yang terbuka itu menyuguhkan pemandangan langit yang bisa memperbaiki mood. Akan tetapi, pilihan lokasi ritual sore itu berkait pula dengan peraturan Memes: dilarang merokok atau mengisap cerutu—dan meninggalkan baunya—di dalam rumah.

Janji ketemu

Rumah bagi keluarga ini juga lokasi ”kencan” terbaik. Anak-anak yang makin sibuk dengan kegiatan masing-masing, membuat Addie, Memes, Kevin, dan Tristan mesti sesekali membuat janji ketemu di meja makan.

”Paling nyaman kami janjian makan bersama memang di rumah, bukan makan di luar. Anak-anak juga enggak nyaman ngobrol di tempat yang ramai,” ujar Memes.

Bangunan rumah dua lantai di permukiman bertipe townhouse di kawasan Pondok Labu, Depok, ini merupakan rumah kedua yang ditempati pasangan Addie dan Memes.

Setelah menikah pada 1987, keduanya sempat tinggal di sebuah perumahan di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. ”Kami mulai dari nol di situ dengan rumah yang kosong, perabot dibeli satu-satu,” kata Memes.

Pada 1998, pasangan ini pindah ke Pondok Labu demi mendapat lingkungan yang lebih tenang. ”Dulu, konsentrasi bikin aransemen kadang-kadang bisa buyar karena tiba-tiba ada suara tukang es krim,” ujar Addie.

Lingkungan townhouse yang ditinggali Addie dan Memes kini memang tak mengizinkan pedagang keliling masuk ke dalam kompleks. Permukiman yang hanya terdiri dari 36 rumah ini pun terkesan lengang.

Addie dan Memes sepakat, rumah ini sudah memenuhi kriteria rumah idaman mereka. Kalaupun masih ada yang kurang, kata Memes, ia berharap masih bisa menambah lahan untuk taman. Sementara bagi Addie, cukup dengan memindahkan koleksi buku pribadinya dari kantor ke rumah, sempurna sudah rumah ini.


Editor :