Kamis, 17 April 2014

/ Travel

Keong Sawah di Piring Kaleng...

Rabu, 14 Desember 2011 | 10:37 WIB

Baca juga

KOMPAS.com – Inilah rumah makan Sunda yang benar-benar memberikan pengalaman berbeda. Bagaimana tidak, saat baru masuk saja, pengunjung harus menghadapi antrean panjang. Konon, antrean panjang ini tak kenal waktu. Entah itu di jam makan siang maupun di luar jam makan siang. Jangan tanya kondisinya saat akhir pekan. Penuh oleh masyarakat setempat maupun wisatawan.

Nama rumah makan tersebut adalah Nasi Bancakan, terletak di Jl. Trunojoyo No. 62, Bandung. Letaknya yang strategis juga keunikan konsep rumah makan ini, membuat tempat ini laris manis. Saat Kompas.com mampir, antrean mengular dari ujung terdalam sampai ke pintu.

Apa uniknya? Saat masuk, pengunjung tak perlu membuka buku menu maupun tak akan ada pelayan yang menghampiri Anda untuk menerima pesan Anda. Ya, Anda harus mengantre menuju meja panjang prasmanan. Di meja panjang itu, aneka lauk pauk tampak menggoda di mata.

Layaknya di sebuah kantin, ambilah piring sendiri. Kemudian seorang ibu akan menyediakan nasi yang Anda inginkan. Entah itu nasi liwet atau nasi timbel. Piring itu pun unik karena menggunakan piring kaleng yang biasa dipakai di zaman dahulu. Saat ini, piring kaleng semacam ini sudah jarang ditemukan.

Anda pun dapat memilih lauk yang Anda suka. Mulai dari babat, paru, dan sate telur puyuh. Lalu ayam, gepuk, cumi, gurame, pindang tongkol, peda, ikan mas, dan gabus.

Untuk sayuran, bisa mencoba aneka tumisan seperti tumis iwung, tumis genjer, dan tumis waluh. Ada pula teri kacang, buntik, dan ceos kacang. Masakan Sunda tentu belum lengkap dengan lalapan. Nah di sini pun tersedia aneka sayuran segar untuk lalapan yang bisa Anda ambil sendiri.

Aneka gorengan seperti tahu, tempe, sampai perkedel jagung jangan terlupakan. Lalu ada pula aneka pepes, lotek, serta beragam sambal. Anda bisa pilih sambal golodog, sambal oncom, dan sambal ceurik.

Beberapa lauk ini hanya sebagian dari yang ada di daftar menu. Total ada lebih dari 60 aneka lauk pauk yang ada di Nasi Bancakan. Makin unik, karena aneka jajanan manis yang cocok untuk hidangan penutup bisa Anda beli di sini. Ada lapak es goyang sampai harum manis. Masing-masing pedagang layaknya berjualan di pinggir jalan, hadir dengan gerobaknya sendiri-sendiri.

Selain piring dari kaleng, gelasnya pun dari kaleng. Teko-teko berisi teh tawar panas tersedia bagi para pengunjung. Pengunjung dapat mengmbilnya sendiri secara gratis. Salah satu yang perlu Anda coba adalah tutut atau keong sawah yang ditumis dengan bumbu kuning.

Menu pindang lauk sawah juga perlu Anda cicipi, menu ini termasuk menu favorit di Nasi Bancakan. Lalu untuk hidangan manis sebagai penutup, nikmati es goyang yang manis dengan balutan coklat cair.

Saat membayar, bersiaplah terkejut. Harganya sangat murah dan per porsi sebenarnya termasuk banyak. Seperti satu porsi tutut bisa dinikmati hingga 4 orang dan harganya hanya Rp 5.000. Sebagian besar harganya tak lebih mahal dari Rp 9.000 per menu per porsi.


Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana