Senin, 21 April 2014

News / Travel

Desa Wisata Gamplong Tawarkan Paket Belajar Menenun

Selasa, 22 Januari 2013 | 12:15 WIB

Baca juga

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Desa Wisata Gamplong di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan sentra  produksi kerajinan tenun menawarkan paket belajar menenun kepada wisatawan yang mengunjungi desa tersebut.

"Wisatawan yang berkunjung ke desa wisata tersebut, selain bisa melihat proses produksi secara langsung, juga bisa belajar menenun karena beberapa perajin membuka kursus singkat menenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM)," kata Penasihat Pengelola Desa Wisata Gamplong, Sutopo Sugiharto di Yogyakarta, Selasa (22/1/2013).

Menurut Sutopo, untuk memberikan layanan kepada wisatawan, warga setempat menyediakan paket kursus singkat belajar menenun di rumah produksi mereka sekaligus  untuk menginap bagi para wisatawan yang berkunjung ke desa wisata tersebut.

"Dengan potensi produk kerajinan tenun dengan ATBM itu, maka Desa Wisata Gamplong sampai saat ini mampu bertahan sebagai desa wisata yang diminati  wisatawan mancanegara maupun nusantara karena mempunyai ciri spesifik yang bisa dijual," katanya.

Selama ini desa wisata tersebut dikenal wisatawan karena ciri khasnya sebagai sentra produksi kerajinan tenun dengan menggunakan ATBM. "Hingga kini masyarakat setempat masih tetap mempertahankan produk kerajinan tenun ATBM  yang kemudian menjadi unggulan desa wisata tersebut," kata Sutopo Sugiharto yang juga menjabat ketua kelompok kerja pariwisata di desa itu.

Ia mengatakan, desa wisata itu kini semakin banyak dikunjungi wisatawan baik nusantara maupun mancanegara yang ingin secara langsung untuk melihat proses produksi kerajinan tenun.

"Tiap libur akhir pekan maupun libur panjang dipastikan banyak wisatawan yang mengunjungi desa wisata tersebut. Biasanya wisatawan juga membeli produk tenun desa ini, bahkan terkadang memesan dalam jumlah banyak," katanya.

Menurut Sutopo, sejak 1950-an Gamplong sudah dikenal sebagai desa penghasil barang kerajinan tenun. Keterampilan menenun warga setempat, diperoleh secara turun-temurun. Produk tenun dari desa itu awalnya berupa kain lurik, serbet makan, dan barang kerajinan tenun lainnya.

"Namun, saat ini seiring dengan persaingan bisnis, maka para perajin berinovasi produk dengan membuat tas wanita, tempat atau rak buku, serta aksesori atau hiasan lainnya dengan bahan baku bervariasi di antaranya tanaman eceng gondok, lidi, serat, dan akar wangi yang ditenun menggunakan ATBM," katanya.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: