Rabu, 17 September 2014

News / Travel

Festival Cap Go Meh Tak Ada di China

Selasa, 26 Februari 2013 | 11:45 WIB

SINGKAWANG, KOMPAS - Festival Cap Go Meh, yang menandai akhir dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek, tak ada di negeri China setelah dihapuskan selama Revolusi Kebudayaan. Namun, di Indonesia, festival itu tetap digelar dalam semangat keindonesiaan.

Hal itu dikatakan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar dalam Festival Cap Go Meh dan Festival Tatung (Dewa) di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Minggu (24/2/2013). Festival itu dipromosikan oleh Pemerintah Kota Singkawang, Pemerintah Provinsi Kalbar, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai festival internasional dengan menghadirkan wisatawan mancanegara, termasuk duta besar dari sejumlah negara, seperti Thailand, Polandia, Nigeria, Afrika Selatan, Palestina, dan Laos.

”Di Singkawang festival ini tumbuh subur sebagai bagian dari upaya adat mengenal identitas budaya China, dan meneguhkan spiritualitas, tanpa kehilangan identitas nasional sebagai warga negara Indonesia. Kami berusaha agar festival ini bukan hanya milik etnis Tionghoa, tetapi milik dunia,” kata Sapta.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Singkawang, Lis Hendarti mengatakan, rangkaian peringatan hari raya Imlek hingga Festival Tatung Cap Go Meh mendongkrak wisatawan peziarah, seperti keluarga Tionghoa, wisatawan domestik, dan wisatawan mancanegara, hingga 300 persen. Jumlah wisatawan biasanya sekitar 6.000 orang setiap bulan.

Festival Cap Go Meh diyakini bakal menjadi daya tarik wisata utama di Kalimantan. Sekretaris Daerah Singkawang Syehbandar menambahkan, bagian terpenting dari sukses festival ini adalah pada tahun-tahun sebelumnya saat Pemkot Singkawang memutuskan mendorong perkumpulan budaya dan sanggar seni untuk mengisi festival itu.

Gubernur Kalbar Cornelis menyebut Festival Tatung sebagai ”magic festival”. Pada Oktober 2013, Kota Singkawang menggelar Turnamen Sumpit Internasional Borneo. (ody/aha)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: