Rabu, 3 September 2014

News / Travel

Wisata Religi ke Makam Raja Mekongga Kolaka

Minggu, 28 April 2013 | 13:08 WIB

KOLAKA, KOMPAS.com - Bagi penggemar atau penikmat wisata religi mungkin perlu mengetahui keberadaan makam Raja Sangia Nibandera yang terletak di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Bagi warga Kolaka dan sekitarnya, menjadikan makam tersebut sebagai tempat wisata religi. Pasalnya, Raja Sangia Nibandera ini adalah raja pertama bagi Suku Mekongga (suku asli Kolaka) yang memeluk agama Islam serta menyebarluaskan agama Islam di tanah Kolaka.

Letaknya hanya berjarak 15 kilometer dari pusat kota, atau tepatnya di Desa Tikonu. Untuk mencapai tempat ini para pengunjung hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat atau dua dari pusat Kolaka.

Setibanya di sana, Anda akan merasakan perbedaan yang luar biasa. Terhindar dari hiruk pikuk kota, suara bising kendaraan dan kepenatan kota. Anda akan disuguhkan pemandangan yang asri nan memiliki nilai mistik tersendiri. Pohon yang menjulang tinggi, udara yang terasa dinign dan asri, serta kicauan burung memberikan nilai tersendiri. Ditambah lagi suara ranting yang tua jatuh ke tanah seakan memberikan daya mistik tersendiri di dalam kompleks makam.

Usia makam raja tersebut diperkirakan sekitar 300 tahun. Demikian pula dengan sejumlah pohon besar jenis kapuk hutan yang menjulang tinggi disertai ribuan akar yang sudah memenuhi sekitar kawasan makam, diperkirakan seumur dengan makam raja tersebut.

Dalam kompleks ini, pengunjung akan melihat tiga makam di mana cerita warga sekitar kalau dua makam yang mengapit makam utama adalah istri atau permaisuri sang raja tersebut. Dari kejauhan akan terlihat batu nisan yang setinggi 30 cm berdiri tegak di atas tumpukan tanah makam. Nisan ini seakan menggambarkan kejayaan Raja Sangian Nibandera di masa kepemimpinannya.

Apabila Anda beruntung, di dalam lokasi seluas kurang lebih dua hektar ini Anda akan melihat atau mendapatkan acara prosesi adat Suku Mekongga. Namun untuk masuk kedalam kompleks makam yang sangat dikeramatkan oleh warga Kolaka ini, pengunjung harus didampingi juru kunci makam tersebut yang bernama Muh. Jabar.

Sang juru kunci pun memberitahukan sejumlah pantangan yang tidak boleh kita lakukan di dalam makam tersebut, contohnya harus bersikap sopan dan tidak takabur. Sebab menurut dia sudah banyak contoh yang terlihat ketika pengunjung yang memasuki kompleks makam dengan niat tidak baik.

"Pernah ada anak SMA yang masuk kedalam kompleks makam, niatnya memang untuk pacaran dan tidak lama kemudian mereka kerasukan. Yang jelasnya kita harus sopan dan punya niat baik kalau datang ke makam ini. Sebab selain dihargai dan dikeramatkan. Makam ini juga adalah salah satu situs budaya peninggalan orang tua dulu dan harus kita jaga. Baik dalam pemeliharaan juga dalam menyikapi," papar Jabar.

Dalam kompleks makam Anda akan merasa berada di sebuah kerajaan yang megah. Tatanan tanaman hias dan berbagai bunga yang mengembangkan kemegahannya tertata rapi di lorong setapak menuju makam. Belum lagi suara gemercik air dari sebuah sungai kecil yang berada pas di tengah-tengah kompleks pemakaman.

Pengunjung pun akan disambut kicauan berbagai burung yang seakan bernyayi menyambut pengunjung yang datang. Untuk berwisata di kompleks ini memang berbeda dengan tempat wisata pada umumnya. Di tempat ini tak nampak keriuhan pengunjung. Senyap dan penuh penghayatan untuk mengenang para leluhur.

Anda tidak perlu takut dan merasa canggung, pasalnya juru kunci di makam ini sangat ramah kepada siapa pun yang datang. Sesekali dia akan bercerita sejarah dari makam tersebut dan sejarah Raja Sangia Nibandera. Jadi kedatangan Anda di makam yang bersejarah ini patut diagendakan dan akan menjadi cerita menarik ketika Anda meninggalkan makam Raja Sangia Nibandera.


Penulis: Kontributor Kolaka, Suparman Sultan
Editor : I Made Asdhiana