Berkelana ke Negeri-negeri Stan (59)

Kompas.com - 27/05/2008, 08:07 WIB
Editor

 [Tayang:  Senin - Jumat]

Hoja Nasrudin

"Bulan lebih berfaedah daripada matahari," kata Hoja Nasruddin suatu hari, "karena di malam hari kita lebih butuh cahaya daripada di waktu siang."

Remang-remang sinar rembulan terpantul di atas riak-riak air kolam Lyabi-Hauz, di tengah kota tua Bukhara. Air kolam ini tak banyak. Di musim yang dingin ini, hanya bebek-bebek saja yang berani berenang sambil terus berkoak-koak, melintasi pantulan bulan purnama yang berubah menjadi sobekan-sobekan cahaya di atas permukaan kolam.

Sinar bulan, yang menerangi gelapnya malam, juga membilas wajah sebuah patung perunggu di pinggir kolam, dibawah rindangnya pepohonan. Patung ini, seorang kakek tua yang berwajah lucu, dengan tangan kanan tertangkup di dada dan tangan kiri melambai, duduk dengan gembira di atas seekor keledai yang sedang menyeruduk. Inilah Hoja Nasruddin, sang mullah cerdik dalam legenda hikayat Islami.

Sang mullah mengajarkan berbagai kebijaksanaan dengan humor-humornya yang menyindir. Walaupun senantiasa digambarkan bodoh dan lugu, misalnya mengendarai keledai terbalik dengan wajah menghadap pantat, sang mullah selalu punya alasannya sendiri, yang bila bisa mengajak kita menertawakan dunia.

Itulah kebijaksanaan seorang Sufi. Belajar tidak melulu dari kitab suci yang berat dan menghafalkan ayat-ayat. Kebijaksanaan Islam bisa ditemukan di balik makna simbolis kebodohan dan kelucuan Nasruddin.

Apakah Nasruddin berasal dari Bukhara? Tidak ada yang tak tahu pasti. Setidaknya lusinan negara mengaku sebagai tanah airnya sang mullah. Di Turki, Nasrettin Hoca punya kuburan Konya, dan setiap tahun festival internasional memperingati Nasrettin diadakan di kota Akshehir. Orang Iran dan Afghanistan yakin kalau Molla Nasruddin berasal dari Khorasan. Orang Uzbek punya patungnya di Bukhara. Orang Uyghur dan China menyebutnya Afandi (Abandi). Di Arab dia dikenal sebagai Juha, dan di Armenia dikenang sebagai Pulu Pugi. Bahkan sang Hoja juga hidup dalam hikayat dan lelucon Yunani, Bulgaria, Serbia, sampai India. Dari Istanbul hingga Urumqi, terbentang dataran luas Asia Tengah yang dihuni oleh orang-orang berbudaya Turki dan Persia, di sanalah Hoja Nasruddin menemani perjalanan umat manusia dengan kisah-kisahnya yang cerdik dan mendidik.

Saya duduk di atas sebuah dipan, di depan patung Nasruddin dan keledainya, menyeruput teh hijau hangat menemani daging kebab, pangsit mantu, dan roti nan bersama seorang kakek Tajik. Wajah sang kakek yang berkerut-kerut dengan jenggot putih tipisnya, ditambah jubah chapan yang bergaris-garis dua warna, membuatnya semakin mirip sang Hoja.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.