Laksamana Mengamuk

Kompas.com - 31/10/2008, 11:47 WIB

SAYA  pernah menulis tentang sajian khas Melayu Deli yang diberi nama Sambal Janmuk alias Sambal Janda Mengamuk. Sajian ini berupa sambal  goreng dengan isi berbagai sayur-mayur, seperti: jengkol, terong, bawang bombai, tomat, dan lain-lain. Endang bambang gulindang!

Mengamuk rupanya merupakan satu elemen penting dalam kuliner Melayu. Masakan Melayu Riau juga mengenal satu sajian bernama Laksamana Mengamuk. Yang satu ini bukan lauk, melainkan kudapan pencuci mulut. Bahan utamanya adalah buah embacang atau kuini yang dicacah, dicampur dengan santan dan gula merah, dihidangkan dengan es. Minuman segar dengan aroma kuini yang sungguh memukau.

Mengapa hidangan ini disebut Laksamana Mengamuk? Konon, kata sahibul hikayat, dulu ada seorang laksamana mengamuk di kebun kuini dengan menebas-nebaskan pedangnya ke sana ke mari. Kata orang, istrinya dibawa lari tuan tanah yang punya kebun kuini itu. Beberapa buah kuini hancur karena aksi kemarahan ini. Setelah sang laksamana pergi, orang mengambil puluhan buah kuini yang sudah tercincang dan terhampar di rumput.

Mau diapakan buah kuini yang sudah tersayat-sayat itu? Seorang ibu yang kreatif kemudian mencampurkan sayatan-sayatan buah kuini itu ke dalam campuran santan dan gula merah. Jadilah ia minuman segar yang dinikmati orang sekampung. Khususnya pada bulan Ramadhan, minuman segar Laksamana Mengamuk makin banyak diminati orang. Mungkin perlu dijadikan welcome drink di rumah Laksamana Sukardi. He he he ...

Ikan asin pedas

Kuliner Melayu Riau yang paling populer adalah masakan ikan asam pedas. Beberapa jenis ikan yang sering dipakai untuk masakan ini adalah ikan baung, patin, atau selais. Ketiganya adalah ikan sungai yang berkulit licin – tidak bersisik.

Baung dan patin malah memiliki kemiripan bentuk, yaitu mirip ikan lele. Keduanya memang termasuk jenis snakehead fish. Bedanya, daging ikan patin jauh lebih berlemak dan lembut. Sedangkan daging ikan baung lebih padat, flaky, dan bertekstur. Dibanding dengan baung dan patin, ikan selais lebih pipih bentuk badannya.

Bagi saya pribadi, ketiga ikan itu punya kecocokan masing-masing. Ikan baung lezat dimasak asam pedas atau gulai. Ikan patin lemak dibakar. Sedangkan ikan selais jadi top markotop bila digoreng balado.

Masakan asam pedas bila diencerkan menjadi pindang yang sangat mirip dengan masakan pindang di daerah Palembang. Tetapi, di Riau, selain pindang yang berwarna kekuningan, juga ada yang berwarna transparan dan disebut pindang putih. Seperti juga masakan asam pedas, kebanyakan pindang di Riau memakai bahan ikan. Padahal, di Palembang juga populer pindang iga sapi.

Di berbagai rumah makan, telur ikan patin juga disajikan dalam masakan asam pedas. Telur ikan patin biasanya dibungkus dengan daun kunyit berbentuk limas, kemudian dimasak dalam kuah asam pedas. Aroma dan citarasa daun kunyit menciptakan nuansa yang sangat indah untuk telur ikan patin yang gurih krenyes-krenyes.

Sebagai provinsi yang kaya sumber daya alam – minyak bumi, batubara, kelapa sawit, bahan untuk bubur kertas, dan lain-lain – Riau memang menarik sangat banyak pendatang. Orang Minang paling banyak merantau ke Riau karena mereka memang saling bertetangga. Jarak Pekanbaru-Padang hanya sekitar enam jam bermobil.

Tidak heran bila ciri-ciri kuliner Minang juga banyak memengaruhi kuliner Melayu Riau. Begitu provinsi tetangga Sulawesi Selatan yang menampilkan banyak unsur kulinernya dalam menu Melayu Riau.

Halaman:


Editor

Close Ads X