Jurnatan, Tinggal Nama - Kompas.com

Jurnatan, Tinggal Nama

Kompas.com - 04/08/2009, 12:03 WIB

KAWASAN Jurnatan di Semarang kini merupakan kawasan perdagangan. Ruko-ruko memanjang sepanjang mata memandang. Bagi warga Semarang, kawasan Jurnatan tentu punya nilai sendiri. Di sepanjang ruko (rumah toko) itulah dahulu SJS (Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij) - Maskapai Kereta Api - membangun  stasiun, Stasiun Joernatan. Sebuah stasiun pusat (Centraal Station) yang cukup besar dan berada di tengah kota.

Stasiun ini merupakan Stasiun Besar Inspeksi 7 atau SJS tadi. Kantor Inspeksi  7 pun masih ada yang berdiri meskipun lebih banyak yang sudah lenyap. Kondisi satu bangunan Inspeksi 7 di Pengapon sudah menanti rubuh. Kondisi tanah sudah ambles sekitar 2 meter.

Kembali ke bekas Stasiun Joernatan, stasiun ini berhenti beroprerasi pada 1974 dan pada 1986 dibongkar untuk dijadikan pertokoan, demikian dipaparkan Deddy Herlambang dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). Sementara itu pihak pemerintah Kota Semarang sudah memutuskan kawasan Jurnatan tak akan diperuntukkan bagi pembangunan stasiun tapi hanya untuk perdagangan dan jasa. Pasalnya, rel lama sudah terpendam aspal jadi mereka menilai tak bisa lagi menghidupkan jalur kereta lama.

Dari catatan Tjahjono Rahardjo dari Unika Soegijopranata Semarang yang juga  punggawa IRPS, SJS membuka jalur Semarang-Juana melalui Demak, Kudus, dan Pati yang kemudian diperpanjang sampai ke Blora melalui Semarang- Rembang-Blora dan Semarang-Purwodadi-Blora lantas berlanjut ke Cepu. Untuk itulah SJS perlu membangun stasiun di Semarang, ya di Jurnatan tadi.

Semula, Stasiun Jurnatan berupa bangunan kayu sederhana namun kemudian pada tahun 1913 stasiun kayu kecil itu dibongkar dan digantikan oleh banguan baru yang besar dan megah dengan konstruksi atap dari baja dan kaca. Meski berada di akhir jaringan SJS, bangunan baru itu tidak dirancang sebagai stasiun ujung tetapi berupa stasiun paralel, yaitu dengan satu sisi memanjang sebagai pintu masuk utama sedangkan di sisi seberangnya terdapat peron-peron.

Mulai 1974 stasiun ini tidak difungsikan lagi dan semua kereta api jurusan Demak dialihkan ke Stasiun Tawang. Tak lama kemudian seluruh jaringan kereta api eks SJS ditutup karena tidak mampu bersaing dengan moda  transportasi darat lain. Stasiun Jurnatan sempat telantar tetapi kemudian dimanfaatkan sebagai terminal bus antarkota tapi tak lama karena kemudian bangunan itu dibongkar.

Dalam buku Riwayat Semarang, Liem Thian Joe menulis, karena perhubungan di Semarang bertambah ramai, SJS lalu membuka lin baru antara Jurnatan-Bulu dan Jurnatan-Jomblang. Ini terjadi pada permulaan tahun 1883. Tetapi ketika itu semarang belum seperti sekarang karena antara Karangsari, Bangkong, dan Jomblang masih ada bagian yang belum menyambung, terpisah dengan tegalan atau sawah. Lagipula sepanjang jalan ketika itu terdapat banyak pohon asam atau johar yang besar.

Kisah Liem tentu kisah lama Semarang. Liem yang lahir di akhir 1800 tentu tak mengalami sendiri kisah di masa ketika SJS mulai membangun rel untuk jalur tersebut di atas. Namun sebagai wartawan Warna Warta (koran peranakan di Semarang) pada 1920, ia tentu kemudian menggali kisah-kisah di seputaran masa pembangunan rel. Dalam buku yang pertama kali dicetak tahun 1931 itu ia menuliskan tentang bagaimana masyarakat geger dengan kabar tentang sundel bolong.

Ketika pemasangan rel, pohon-pohon besar di pinggir jalan tadi ditebang. Kejadian itu lantas melahirkan kabar yang tersiar hingga ke kampung dan Pecinan bahwa di bagian jalan yang sepi, ketika malam hari, banyak sundel bolong alias kuntilanak yang mencari korban. Mayatnya dilempar di jalur kereta api untuk dijadikan sebagai bagian setan penunggu. Di masa itu, kisah semacam ini sungguh dipercaya oleh warga. Liem tak berpanjang-panjang menulis tentang hantu tadi, ia lanjutkan laporannya, bahwa tarif per penumpang untuk pribumi yang akan naik kereta dari Jurnatan ke Bulu sebesar delapan sen. Sedangkan jurusan Jurnatan-Jomblang penumpang dipungut 10 sen.  


Editor

Close Ads X