Sedapnya Udang Bakar "Mang Engking" - Kompas.com

Sedapnya Udang Bakar "Mang Engking"

Kompas.com - 19/10/2009, 10:14 WIB

Bagi pencinta kuliner, menu udang bakar tentunya selalu punya tempat khusus di lidah. Bagaimana jika udang bakar itu disajikan dengan olesan madu? Selain renyah dan daging yang lembut, rasa manis dari madu barang tentu menambah kesedapan si udang bakar.

Menyantapnya pun bukan di sembarang tempat, melainkan di tengah hamparan tambak dan sawah nan hijau. Maka, meluncurlah sekitar 20 kilometer arah barat daya Kota Yogyakarta, tepatnya di Dusun Jamur, Sendangrejo, Minggir Sleman, DI Yogyakarta.

Dengan waktu tempuh lebih kurang 45 menit mengendarai mobil, Anda akan sampai di Gubuk Makan Mang Engking, restoran yang menyediakan hidangan tersebut. Udang memang menjadi menu utama restoran yang dimiliki Engking Sodikin (47), pembudidaya udang air tawar.

Di pelosok Kabupaten Sleman itulah pusat restoran Gubuk Makan Mang Engking yang saat ini memiliki tujuh cabang di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bali, dan Semarang.

Dari enam jenis menu udang yang disajikan, udang bakar madu menjadi andalan sekaligus favorit pengunjung di restoran yang buka sejak tahun 2002 itu. Udang galah berwarna kemerahan tersedia dalam dua ukuran, yakni standar dan super.

Satu porsi udang standar berisikan 30 ekor dengan berat sekitar setengah kilogram yang disajikan dalam tusuk bambu. Porsi super terdiri dari 16 ekor udang dengan ukuran setiap ekornya dua kali lipat udang standar. Harganya, Rp 57.000 per porsi untuk ukuran standar dan Rp 63.500 per porsi untuk yang super.

Menurut Elis Kamila (42), istri Engking sekaligus pencipta masakan ini, tidak ada rahasia khusus dari menu masakannya itu. ”Udangnya, udang galah biasa yang digoreng kemudian diolesi madu, setelah itu dibakar agar madunya meresap. Itu saja,” kata Elis ketika ditemui, Kamis (15/10).

Engking menambahkan, semua udang yang disajikan diambil langsung dari tandon di tambak saat pengunjung memesan. ”Jadi, udang masih hidup saat akan diolah. Karena itu rasanya jadi lebih segar,” kata pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini.

Tentu saja, setelah memesan udang, jangan lupa memilih salah satu dari empat sambal yang tersedia untuk menambah kenikmatan bersantap, yakni sambal terasi dadak, cobek, tomat, ataupun lalapan.

Selain udang bakar madu, restoran ini juga memiliki lima menu udang lain, yakni goreng, rebus, saus tiram, asam manis, dan saus padang.

Ada juga berbagai menu gurame dan kepiting yang menjadi pelengkap pilihan selera. Gurame dan kepiting itu juga dihidangkan dengan beberapa pilihan rasa, seperti bumbu cobek, bakar, asam manis, saus tiram, ataupun saus padang.

Suasana alam

Selain menu yang menggugah selera, Gubuk Makan Mang Engking juga memiliki nilai lebih lainnya, yakni alam pedesaan yang indah. Suasana tenang dengan semilir angin dan kicau burung kuntul menjadi ”hidangan” ekstra di restoran tersebut. Pengunjung yang kebanyakan berasal dari kota besar bisa sejenak melupakan kepenatan dalam romantika alamiah itu.

Di lahan seluas sekitar enam hektar itu berdiri 11 pondok makan dari bambu dan beratap ijuk. Kapasitas maksimalnya bisa menampung 600 pengunjung dalam satu waktu. Sebagian pondok berdiri di atas tambak produktif yang menambah sensasi alamiah saat bersantap.

“Suasana tambak yang asri sangat cocok untuk tempat bersantap dan menambah nafsu makan,” ujar Engking. Para pengunjung juga dapat memanfaatkan satu perahu yang disediakan gratis untuk berkeliling di salah satu areal tambak seluas satu hektar.

Selain itu, terdapat pula berbagai sarana permainan anak, seperti ayunan dan jungkat-jungkit. Ada juga satu unit all terrain vehicle yang bisa disewa pengunjung dengan Rp 20.000 per empat kali mengelilingi areal tambak.

Engking menambahkan, lahan di sekitar tambak juga dimanfaatkan untuk menanam berbagai sayuran pelengkap hidangan di restoran, seperti kangkung, cabai, dan tomat. ”Sayuran-sayuran yang diolah langsung dipetik dari lahan di sini sehingga lebih segar,” kata dia.

Jadi, kembali ke alam sambil memanjakan lidah dan perut, kenapa tidak? (Mohamad Final Daeng)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorHeru Margianto
    Close Ads X