Weh, Sabang, dan Rubiah

Kompas.com - 23/08/2010, 15:42 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh: Mahdi Muhammad dan Mohammad Hilmi Faiq

Tak banyak literatur yang bisa diperoleh untuk menjelaskan asal-usul Kota Sabang. Legenda yang beredar di masyarakat Sabang, yang terletak di Pulau Weh, pulau itu dulunya bersatu dengan daratan Sumatera. Namun, akibat gempa bumi, ribuan bahkan belasan ribu tahun lampau, pulau ini terpisah dengan daratan. Begitu juga dengan pulau-pulau di sekitarnya.

M Nur Syafarie (59), warga Kota Sabang, mengaku pernah mendengar legenda itu. Dia setengah percaya, setengah tidak.

Legenda tersebut menceritakan putri cantik jelita yang mendiami pulau ini—yang merupakan bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam—meminta kepada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini bisa ditanami. Untuk itu, dia membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut.

Kemudian terbentuklah danau yang lalu diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas lebih kurang 30 hektar itu hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang meski ketinggian airnya terus menyusut.

Setelah keinginannya terpenuhi, sang putri menceburkan diri ke laut.

Meski tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan sang putri agar Sabang menjadi daerah yang subur dan indah setidaknya tecermin dari adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang. Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan kepada masyarakat.

Asal Sabang

Nama Sabang sendiri, sepengetahuan Nur, berasal dari bahasa Aceh ”saban”, yang berarti sama rata atau tanpa diskriminasi. Kata itu berangkat dari karakter orang Sabang yang cenderung mudah menerima pendatang atau pengunjung. Karakter ini agak berbeda dengan karakter orang Aceh umumnya yang cenderung tertutup terhadap orang yang baru mereka kenal.

”Mungkin karena lama terlibat konflik sehingga banyak orang Aceh yang memilih tertutup,” kata Djafar (45), warga Sabang.

Versi lain menyebutkan bahwa nama Sabang berasal dari bahasa Arab ”shabag”, yang berarti gunung meletus.

Penamaan Sabang diduga berangkat dari banyaknya gunung berapi di Sabang yang bekasnya bisa dilihat di obyek wisata air panas Jaboi. Saat ini obyek wisata tersebut tidak lagi menyisakan air panas. Tapi, sisa-sisa belerang di sana menguatkan bahwa pernah ada gunung berapi di sana.

Pulau Weh atau Sabang telah dikenal dunia sejak awal abad ke-15. Penjelajah asal China, Cheng Ho, pernah singgah di sana tahun 1413-1415.

Catatan Ma Huan, salah satu penerjemah Cheng Ho, menjelaskan bahwa di sebelah barat laut dari Aceh terdapat daratan dengan gunung menjulang, yang dia beri nama Gunung Mao. Di sana terdapat sekitar 30 keluarga.

Dalam bukunya Ying Yai Sheng Lan yang kemudian diterjemahkan menjadi The Overall Survey of The Ocean’s Shores, Ma Huan menceritakan bahwa daratan itu menjadi salah satu tempat persinggahan para saudagar dari berbagai negara.

Gunung Mao yang tampak mencolok dari lautan itu menjadi suar atau petanda bagi para saudagar. Sabang sendiri merupakan penghasil kayu laka terbaik serta penghasil bunga teratai.

”Banyak sejarawan menegaskan bahwa yang dimaksud Gunung Mao itu adalah Pulau Weh,” ujar peneliti dari Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Erond L Damanik.

Erond juga menduga bahwa Sabang saat itu menjadi salah satu bagian dari jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia sampai China Selatan pada abad ke-12 sampai ke-15. Thailand, Sri Lanka, dan India termasuk di dalamnya.

Pulau Weh sendiri merupakan daerah perbatasan Indonesia dengan India dan Thailand.

Melihat catatan sejarah itu, Erond tidak heran jika kemudian di Sabang berdiri pelabuhan bebas. Sebab, lalu lintas perdagangan antarnegara telah berlangsung di Sabang sejak lama.

Sebelum Perang Dunia II, Sabang menjadi salah satu kota pelabuhan penting, bahkan lebih penting daripada Singapura (Temasek). Pelabuhan bebas Sabang telah berjalan sejak tahun 1895. Posisi Sabang semakin strategis saat Indonesia membentuk kerja sama ekonomi regional dengan Malaysia dan Thailand pada 1985.

Awal Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas. Barang-barang yang diimpor lewat Sabang bebas pajak. Mobil-mobil mewah asal Singapura dijual murah di kota itu.

Namun, ketika Aceh ditetapkan sebagai daerah operasi militer, aktivitas Sabang sebagai pelabuhan bebas terhenti.

Aktivitas pelabuhan bebas makin sepi dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 610/MPP/Kep/ 10/2004 tentang Perubahan atas Keputusan Menperindag Nomor 756/MPP/Kep/12/2003 tentang Impor Barang Modal Bukan Baru. Tak boleh lagi ada barang bekas yang boleh masuk dari seluruh daerah perbatasan Indonesia, termasuk Sabang.

Rubiah

Di kepulauan itu, selain Sabang, ada pula Rubiah. Letaknya tepat di depan Iboih, sekitar 20 kilometer sebelah barat Kota Sabang. Untuk mencapai kawasan tersebut tersedia angkutan umum dari Pelabuhan Balohan.

Sama seperti Sabang, tidak banyak literatur tertulis yang bisa diperoleh mengenai keberadaan pulau ini. Legenda mengenai Rubiah menyatu dengan Sabang.

Pergi ke Iboih akan sangat kurang jika kita tidak mengunjungi Rubiah karena sebagian besar taman laut berada di sekitar kawasan pulau itu.

Berjalan ke pulau tersebut kita akan mendapati beberapa bungalow yang pernah dihuni sejumlah pelaku perdamaian Aceh-Pemerintah Indonesia.

Sedikit ke bagian tengah pulau, kita akan mendapati bangunan yang mirip dengan pusat kesehatan masyarakat. Selidik punya selidik, bangunan rumah yang baru direnovasi itu ternyata bekas rumah karantina calon haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Bangunan yang baru direnovasi itu terkesan tidak terawat. Sekelilingnya tumbuh rerumputan setinggi pinggang orang dewasa. Bagian belakang bangunan utama, yang terdiri dari empat kamar mandi, dibiarkan berlumut. Beberapa kelelawar menjadikannya rumah pada siang hari. Tampak sekali bahwa bangunan tersebut tidak pernah dimanfaatkan lagi.

Saliza Mohammadar, pemilik Iboih Inn, kaget melihat foto-foto bangunan itu. Meski sudah lebih dari dua tahun tinggal di Iboih, dia mengaku belum pernah melihat bangunan itu. ”Bila dimanfaatkan dengan baik, dijadikan galeri untuk pameran foto zaman dulu, akan sangat bagus. Pengunjung pasti banyak yang tertarik,” ujarnya bersemangat.

Pertengahan era 1900-an, Sabang dikenal sebagai embarkasi jemaah haji Sumatera. Beberapa wilayah tetangga ikut memberangkatkan jemaahnya dari Sabang. Tapi, sekarang, bangunan pindah ke Pantai Kasih, Sabang. Rubiah, dan haji hanya tinggal cerita lama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.