Goa Batu Cermin, Mana Cerminnya? - Kompas.com

Goa Batu Cermin, Mana Cerminnya?

Kompas.com - 11/06/2012, 09:03 WIB

KOMPAS.com — Penerbangan selama 1 jam 20 menit dari Bali menuju Labuan Bajo, Manggarai Barat, di Pulau Flores memang menyenangkan. Pemandangan deretan pulau dengan pasir putih terlihat jelas ketika Anda memandang dari jendela pesawat. Saat pesawat bersiap mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo, pemandangan di bawah hanya laut dan pegunungan yang gersang. Jangan terkejut dengan alam Labuan Bajo yang jarang turun hujan, tetapi catatlah bahwa Labuan Bajo merupakan pintu masuk terdekat bagi wisatawan yang ingin melihat binatang Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

Selain komodo dan pantai pink-nya yang indah, sebenarnya Labuan Bajo juga memiliki obyek wisata yang juga tak kalah menarik untuk didatangi wisatawan. Namanya Goa Batu Cermin. Hanya sekitar 4 kilometer dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Anda sudah sampai di obyek wisata yang akhir-akhir ini diramaikan wisatawan dalam dan luar negeri.

Penemu goa ini adalah Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda yang juga seorang arkeolog, pada 1951. Obyek wisata seluas 19 hektar dengan tinggi goa sekitar 75 meter ini dipastikan ramai di siang hari. Untuk menuju goa, dari tempat parkir kendaraan, Anda harus berjalan kaki sekitar 300 meter menyusuri jalan setapak yang sudah diberi korn blok. Bisa dibayangkan berjalan di siang hari sudah tentu membuat keringat langsung mengucur deras.

Namun, tak perlu cemas, tak semua jalan disorot sinar matahari, kadang-kadang Anda akan melewati pohon bambu yang melengkung. "Itu (pohon bambu) roboh karena angin," kata Jack, pemandu wisata kami dari rombongan Adira Finance, Rabu (30/5/2012).

Robohnya pohon bambu itu sungguh unik, seperti disengaja membentuk sebuah terowongan bambu. Jadi, Anda akan berjalan di bawah pohon bambu yang "tertidur" itu saat panas terik menyengat kulit. Sembari berjalan menuju gua, Anda akan mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata soal keberadaan Goa Batu Cermin dan sejarahnya.

Dalam penelitiannya, Verhoven menyimpulkan bahwa Pulau Flores dulunya berada di dasar laut. Untuk mengetahui apa yang disimpulkan Verhoven, wisatawan akan dipandu memasuki goa sepanjang sekitar 200 meter. Memasuki goa, tubuh Anda akan diapit oleh tebing yang menjulang tinggi dan miskin sinar matahari. Semakin dalam memasuki goa, udara semakin sejuk dan semakin sedikit cahaya yang diperoleh.

Verhoven menyimpulkan goa ini dulunya berada di bawah laut berdasarkan temuan koral dan fosil satwa laut yang menempel di dinding goa. Yang paling terlihat adalah sebuah fosil kura-kura di dinding goa. Kalau Anda penasaran untuk melihat apa yang dikatakan Verhoven, Anda harus memasuki lubang yang cukup dimasuki oleh satu orang, tidak bisa berpapasan. Sebelum memasuki goa, Anda akan dibekali senter oleh pemandu wisata. Pasalnya, Goa Batu Cermin ini sangat gelap. Selain sempit, untuk masuk ke dalam goa, Anda harus menunduk, bila perlu merangkak karena stalaktit yang berada di atas gua.

Melihat fosil kura-kura di dinding goa, Anda harus berjalan sejauh sekitar 20 meter dan sudah tentu karena sempit, udara terbatas, napas pun terdengar ngos-ngosan. Untuk itu, wisatawan yang memasuki goa dibatasi, misalnya 10 orang sekali masuk dan yang lainnya menunggu di luar. Menunggu pun tidak terlalu lama, cuma 30 menit.

Di dalam goa barulah bisa terjawab soal fosil kura-kura dan mengapa dinamai Goa Batu Cermin. Pasalnya, di dalam goa ada lobang di atas yang kalau siang hari sinar matahari memasuki dalam goa melalui celah yang sempit itu. Saat hujan, air hujan akan memasuki goa dan menimbulkan genangan. Nah, genangan air yang terkena sinar matahari akan membuat Anda bisa melihat wajah sendiri di air hujan yang memenuhi goa. Itulah yang menyebabkan mengapa tempat ini dinamakan Goa Batu Cemin.

Obyek wisata goa ini memang menarik untuk dikunjungi wisatawan di Labuan Bajo. Hanya saja keberadaan Goa Batu Cermin tidak terurus sama sekali. Ini bisa terlihat dari tanaman di kiri kanan saat berjalan dari tempat parkir ke lokasi goa yang tidak terpelihara alias dibiarkan tumbuh liar. Belum lagi ada bangunan sebelum memasuki goa yang sudah tidak terawat lagi. Sepertinya ini tempat penjualan karcis sekaligus ruang informasi. Di sebelahnya ada bangunan untuk menikmati pemandangan di sekitar goa, kondisinya pun nyaris sama, rusak berat.

Padahal, kalau ditata lebih baik, akan sangat menarik bila sebelum memasuki goa, wisatawan sudah mendapatkan informasi seputar goa melalui papan informasi yang ada, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Dengan karcis masuk Rp 10.000 ditambah jasa pemandu wisata Rp 20.000, pemasukan dari obyek wisata gua ini masih cukup lumayan untuk dikelola dengan baik.

Menurut Jack, meski sejak 1986, Gua Batu Cermin telah dibuka untuk wisatawan, namun belum banyak wisatawan yang datang. Wisatawan dalam dan luar negeri baru mulai ramai sejak tahun 1993 dengan kunjungan wisatawan dari Jerman, Belanda, Perancis, dan Rusia. Pemkab Manggarai Barat memang harus bekerja keras memperkenalkan dan membenahi obyek wisata Goa Batu Cermin agar menarik wisatawan untuk datang dan betah berlama-lama di tempat ini.


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X