Kompas.com - 30/03/2013, 17:15 WIB
EditorI Made Asdhiana

GEDUNG itu tampak menjulang di pinggir Sungai Seine, Paris, Perancis. Dari arsitekturnya, bangunan ini tidak memiliki keistimewaan. Para pelancong tak akan memperhatikan gedung ini jika hanya melihat seni bangunannya. Orang yang penasaran dengan sejarah kuliner saja yang mungkin memperhatikannya.

Gedung yang pada bagian atasnya terdapat tulisan Samaritaine itu semula pasar swalayan. Namun, setelah berganti pemilik, gedung ini digunakan sebagai apartemen, kantor, dan tempat penjualan ritel. Kisah tentang kepemilikan gedung yang berganti-ganti menarik. Namun, yang lebih menarik lagi, sebelum gedung itu didirikan, ada sebuah warung kopi yang menjadi jejak awal masuknya kopi dan kafe yang kemudian terkenal seantero jagat.

Awalnya adalah penemuan pemanfaatan kopi di Timur Tengah pada abad ke-15. Orang mulai mengenal dan minum kopi. Saat itu sempat muncul polemik soal halal-haram komoditas ini. Beberapa tokoh agama sempat menyatakan kopi merupakan barang haram karena membuat orang-orang ketagihan dan melupakan ritual agama. Akan tetapi, perdebatan ini tidak lama.

Kemunculan Kesultanan Ottoman yang diikuti maraknya perdagangan menjadikan kopi ikut terbawa ke Istanbul, ibu kota Kesultanan Ottoman. Menurut Cemal Kadafar dalam naskah A History of Coffe, Hakam dari Aleppo dan seorang pelawak, Shams, asal Damaskus, Suriah, datang ke Istanbul dan masing-masing membuka warung yang menyediakan kopi.

Warung itu menjadi tempat pertemuan warga kota. Kopi banyak dimanfaatkan kaum sufi agar tidak mengantuk pada malam hari saat melakukan ritual. Awal tumbuhnya warung kopi atau kafe sebenarnya dari sini. Sayangnya, dari tempat ini gaya hidup kafe tidak mendunia.

Adalah kemudian pedagang dari Armenia, negeri kecil yang terletak di antara Eropa-Asia, yang membawa kopi ke Eropa. Pedagang Armenia dikenal sebagai perantau dan sukses berbisnis. Jika di Indonesia, orang Armenia dapat dipadankan dengan orang Minangkabau yang gemar merantau dan sukses berbisnis. Orang Armenia menyebar ke Eropa untuk berdagang dan berusaha. Tidak sedikit yang sampai ke Belanda kemudian ikut kapal untuk berdagang di Nusantara.

Di Nusantara, mereka sangat sukses. Ada yang mendirikan pabrik gula dan ada pula yang berbisnis hotel. Sayangnya, karena memilih berafiliasi dengan Belanda, saat perang kemerdekaan mereka termasuk yang dikejar-kejar laskar rakyat. Banyak yang meninggalkan bisnis mereka di Nusantara lalu mengungsi ke Singapura.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kembali ke perantauan orang Armenia di Eropa. Perancis adalah salah satu tujuan mereka. Saat itu Perancis termasuk negeri yang kaya dan makmur hingga banyak orang bermigrasi ke Perancis.

Orang Armenia berdagang berbagai komoditas, salah satunya kopi. Menurut buku le Procope, Once Upon a Time 3 Centuries of History, sebelum tahun 1644 kopi diperkirakan belum masuk ke Perancis. Pada tahun itu untuk pertama kalinya kopi masuk ke Pelabuhan Marseille di selatan Perancis. Kopi ini dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur.

Pedagang inilah yang mengubah kebiasaan minum orang-orang Perancis. Dalam istilah mereka, para pendatang itu ”membawa secangkir kecil keindahan yang agung yang terbuat dari porselen indah dengan kain yang berhiaskan emas, perak, dan sutra”. Kalimat simbolis ini untuk menunjukkan kenikmatan kopi yang bijinya kemilau seperti porselen.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.