Kompas.com - 18/04/2013, 17:24 WIB
EditorI Made Asdhiana

SOASIO, KOMPAS.com - Mungkin belum banyak yang mengetahui kalau Kota Tidore yang berada di Provinsi Maluku Utara sudah menginjak usia ke-905. Mengunjungi Pulau Tidore yang hanya memerlukan waktu 5 menit dengan speedboat dari Pulau Ternate menyimpan adat istiadat yang sudah berusia sesuai hari jadinya. Ketika masa keemasan Kesultanan Tidore pada abad ke-16 wilayahnya mencakup sebagian besar Halmahera bagian selatan, Pulau Buru, Pulau Ambon hingga ke Papua. Masa kejayaan Kesultanan Tidore sampai sekarang masih terasa dan menjadi catatan sejarah tersendiri.

Jumat (12/4/2013) pagi, warga Tidore tumpah ruah memadati Sonyine Salaka Kadato Kie Kesultanan Tidore untuk turut menyaksikan upacara adat Hari Jadi Tidore ke-905. Pemkot Tidore Kepulauan menyambut hari jadi ini dengan menggelar Festival Tidore selama seminggu. Segala macam ritual adat ditampilkan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas betapa Tidore sejak zaman dahulu telah berhasil menjalankan pemerintahan melalui Kesultanan Tidore.

Kalau Anda berada di Tidore pada Senin (8/4/2013), Anda akan menyaksikan Ritual Lufu Kie. Ritual ini adalah untuk mengenang kembali Lufu Kie adalah gelar armada perang untuk sukses mengusir VOCdari Tidore yang dicetuskan Sultan Tidore Yang Maha Mulia Sri Paduka Tuan Sultan Syaifuddin "Jou Kota" bergelar "Alkhalifatul Mukarram Saidus-Sakalain Ala Jabalit Tidore" (1657-1689).


festivaltidore 

(Kompas.com/I Made Asdhiana)

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan, Asrul Sani Soleman, acara yang berlangsung dari pagi sampai sore itu dikemas dalam bentuk ritual ziarah "Jere se Karamat" atau makam para Waliullah dan Aulia di sekeliling Pulau Tidore yang telah berjasa besar bagi penyebaran Islam di Maluku Kie Raha serta bermanuver di depan benteng Belanda di Ternate.

Formasi Lufu Kie terdiri atas Kagunga Sultan (perahu kebesaran Sultan) dengan kawalan Juanga Hongi Taumoy se Malofo (12 perahu kora-kora tempur) Kesultanan Tidore. Juanga Hongi Taumoy se Malofo yakni 12 perahu kora-kora tempur bermaterikan 12 pasukan utama Angkatan Laut Kesultanan Tidore yang terdiri atas Sangaji se Gimalaha Taumoy se Malofo. Disebut juga Rora polu-polu se Rora Fifiyaro. Rora polu-polu yaitu: Gimalaha Banawa, Gimalaha Tomanyili, Gimalaha Gamtohe, Gimalaha Dokiri, Gimalaha Tomaidi dan Gimalaha Tahisa. Sementara Rora Fifiyaro yakni Sangaji Laisa, Sangaji Laho, Gimalaha Tuguiha, Gimalaha Mare, Gimalaha Tongowai dan Gimalaha Tomalou.

Asrul menjelaskan, dalam konteks kekinian, pelaksanaan pelayaran ritual Lufu Kie selain bertujuan untuk melestarikan budaya Kesultanan Tidore, dimaknai pula sebagai upacara ritual syukuran atas segala macam kemajuan dan kemaslahatan masyarakat di seluruh wilayah Kesultanan Tidore dalam bingkai NKRI. "Pelayaran ritual ziarah Jere se Karamat untuk memohon keselamatan bagi kehidupan masyarakat Kesultanan Tidore," katanya.

Yang tak kalah seru dan sarat nilai budaya adalah pada Kamis (11/4/2013) malam yakni acara Paji Nyili-nyili. Secara harfiah "paji" berarti bendera dan "nyili" berarti daerah. Pada Festival Tidore kali ini ditampilkan 10 paji yang mewakili daerah di Tidore. Paji Nyili-nyili ini bergerak dari tiap daerah menuju satu titik yakni Kedaton Kie, Kesultanan Tidore.

Asrul memaparkan, Paji Nyili-nyili diarak dari malam hingga pagi hari. Peserta berjalan kaki dan hanya diterangi obor. Lampu penerangan jalan di Tidore pun dimatikan. "Sambil mengikuti Paji Nyili-nyili, udara segar dan pemandangan sunrise dari balik gunung akan menjadi teman sepanjang perjalanan," kata Asrul.

Ternyata penyalaan obor ini memecahkan rekor MURI yakni sebanyak 31.200 obor! Senior Manager MURI, Paulus Pangka mengemukakan untuk penyalaan obor sebanyak itu pihaknya telah melakukan penilaian sejak Kamis (11/4/2013) malam hingga pukul 22.00. Penilaian dilakukan di empat kecamatan yakni Kecamatan Tidore Timur, Kecamatan Tidore, Kecamatan Tidore Selatan dan Kecamatan Tidore Utara dengan total kelurahan yang dinilai sebanyak 42 kelurahan. "Penyalaan sebanyak 31.200 obor ini merupakan salah satu obyek wisata di Tidore," katanya.


festivaltidoree 

(Kompas.com/I Made Asdhiana)

Kedaton Kie atau Keraton Tidore menjadi saksi betapa Hari Jadi Kota Tidore selalu dinanti-nantikan oleh masyarakat Tidore. Jalan menuju Keraton Tidore, Jumat (12/4/2013) dipadati warga. Alun-alun Keraton Tidore juga dipenuhi para undangan. Bahkan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar meluangkan waktu khusus untuk hadir di Hari Jadi Kota Tidore ini.

Tema Festival Tidore 2013 adalah "Restorasi Budaya Menuju Masyarakat Berkarakter Budi Se-Bahasa" serta membawa pesan khusus, "Ngaku Se Rasai, Cing Se Cingari, Loa Se Banari" yang berarti tata krama dalam berbicara, tata krama dalam berperilaku dan rendah hati dalam kebenaran dan keadilan.

Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, H Ridwan Do Taher mewakili Sultan Tidore menobatkan Sapta Nirwandar sebagai Jou Bangsa Kesultanan Tidore. Sapta mengucapkan terima kasih kepada Bobato Adat Kesultanan Tidore dan masyarakat Tidore yang menobatkannya sebagai wakil (duta) dari Kesultanan Tidore. "Saya bangga dan terkesan saat tiba di sini. Tidore adalah kota yang masyarakatnya masih memegang teguh adat dan masyarakat yang religiusitasnya masih tinggi," kata Sapta terharu.


festivall 

(Kompas.com/I Made Asdhiana)

Upacara adat Hari Jadi Kota Tidore ke-905 berlangsung khidmat tak ubahnya seperti upacara militer. Bertindak sebagai inspektur upacara yaitu Jojau H Ridwan Do Taher, perwira upacara dijabat Ari Dano dan komandan upacara Husain Alting yang juga Kapita Lau Kesultanan Tidore. Pembacaan sejarah singkat Hari jadi Kota Tidore oleh Ngofa Sedano Soa Romtoha Tomayou, Yakub Husain, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Tidore Kepulauan. Dari awal sampai akhir, upacara adat ini menggunakan bahasa Tidore.

Yang membuat terharu adalah saat Jojau, H Ridwan Do Taher menyampaikan Borero Gosimo atau Amanat Datuk Moyang.

"...Ngone na ahu se gogahu, rezeki se rahmati, sone se ahu, ge jou madubo, jou Allah ta'ala yo atur sefato, no sogewa-gewa ni tabalai se tabareko, la sojud se malahi te jou Allah ta'ala..." (Hidup dan kehidupan, rezeki dan rahmat, mati dan hidup adalah restu dan izin Allah SWT. Biarpun kalian berada pada kesibukan dunia yang amat sangat, usahakan sedapat mungkin luangkan waktu bersujud kepada Allah SWT).

Mereka yang hadir di Kedaton Tidore pun turut hanyut dan menyimak amanat dari datuk moyang yang sangat sarat makna...

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.